Destiny With My First Love

Destiny With My First Love
DISISIMU


"Iya gapapa Co. Cici ngertiin kamu kok." ucap Jesi sambil tersenyum.


"Aku nyesel ci perlakuan aku selama ini ke dia, aku bahkan ga sadar kalo selama ini dia itu Meli." ucap Lorenzo sambil memandangi Meli dengan tulus.


"Kamu kan emang orangnya ga peka Coo, cici yakin Meli juga pasti ngertiin kok." ucap Jesi berusaha menenangkan Lorenzo.


"Makasih cii." ucap Lorenzo sambil menatap Jesi.


"Oiya Coo, nanti 2 sahabat Meli dateng buat gantiin cici jagain Meli." ucap Jesi sambil membereskan tasnya.


"Ooh ok. Tapi bisa ga ci, nanti malem aku yang jagain Meli?"tanya Lorenzo dengan tatapan memohon.


"Boleh kok Coo, soalnya hari ini cici lembur. Kondisi mama juga lagi ngedrop, jadi papa yang jagain mama di rumah." ucap Jesi.


"Makasih ci." ucap Lorenzo sambil tersenyum kepada Jesi..


"Ceklekk.." suara pintupun terbuka karna kedatangan Rin, Rei dan juga Stev....


"Ngapain lu disini?" tanya Stev dengan tatapan tidak suka kepada Lorenzo.


"Bukan urusan lu." ucap Lorenzo dengan tatapan dinginnya. Seketika ruangan terasa hening karna pertarungan sengit antara Lorenzo dengan Stev.


"Udah lah, siapa aja boleh dateng kesini buat jenguk Meli. Kenapa malah jadi berantem deh." ucap Rin memecahkan suasana tegang dikala itu.


"Rin, cici titip Meli sama kamu ya. Cici harus pergi kerja dulu." ucap Jesi sambil tersenyum kepada Rin.


"Iya cii, siapp." ucap Rin dengan bersemangat.


Setelah Jesi pergi, seketika ruangan itu kembali dengan suasana hening....


"Hmm, lu Nico ya?" tanya Rin sambil menatap Lorenzo.


"Iya" ucap Lorenzo yang masih terduduk sambil memegangi tangan Meli.


"Sumpahh, bener banget apa yang Meli bilang selama ini tentang Nico.. Nih cowo bener - bener cuek + jutek." bisik Rin dalam hati.


"Singkirin tangan lu dari tubuh Meli." ucap Stev dengan tatapan tajamnya.


"Lu siapanya? pacar dia aja bukan, jadi jangan bertingkah seolah - olah lu pacar dia." ucap Lorenzo sambil tersenyum sinis sehingga membuat Stev seketika bergegas menghampirinya.


"Kalian bisa ga, ga usah ribut di sini? kalian bisa mikir ga sih, sekarang Meli aja masih belum sadar. Tapi kalian malah ribut di depan dia." ucap Rin dengan nada kesal.


"Sorry." ucap Stev sambil kembali duduk di sofa.


"Nanti malem biar gua yang jagain Meli disini." ucap Lorenzo secara tiba - tiba.


"Ga bisa." sahut Stev dengan tegas.


Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Rinpun memutuskan .....


"Stev ikut gua keluar." ucap Rin sambil menatap Stev.


Setibanya di luar ruangan yang letaknya sedikit jauh dari ruangan Meli...


"Gua ga bisa Rin biarin Meli berduaan sama cowo itu." ucap Stev sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


"Stev, gua ngerti apa yang lu rasain. Guapun juga begitu, tapi setelah gua pikir - pikir. Kita ga boleh egois Stev, lu taukan Meli cinta banget sama Nico dan sekarang kita harus misahin mereka gitu? disaat mereka dipertemukan kembali." ucap Rin dengan penjelasan singkatnya.


"Gua takut Rin." ucap Stev sambil menatap Rin.


"Ga bakal terjadi apa - apa, percaya sama gua. Kita kasih Nico kesempatan, ok." ucap Rin sambil menatap Stev untuk meyakinkannya.


Mereka berduapun kembali ke ruangan Meli..


*******


Waktu berlalu begitu cepat, kini hanya tersisa Nico dan Meli berdua di ruangan itu. Tampaklah Nico tertidur dengan posisi duduk di sebelah Meli sambil memegangi tangan Meli sedari tadi.. Sekian hari Meli belum kunjung sadar, namun malam itu ia tersadar dan ia sangat terkejut ketika melihat seorang lelaki berada di sampingnya sambil memegangi tangannya...


"Terimakasihh, udah buat gua kembali kesini. Karna hangatnya genggaman ini, buat gua segera terbangun dari mimpi panjang gua selama ini. Tapi siapa cowo ini?" bisik Meli dalam hati.


Merasa ada pergerakan dari jari - jari tangan Meli, membuat Lorenzo segera terbangun dan memeriksa kondisi Meli.. Betapa terkejutnya Meli saat melihat lelaki disebelahnya ialah Nico, lelaki yang selama ini ia cintai..


"Melii, lu udah sadar?" tanya Lorenzo yang segera berdiri dan memeriksa keadaan Meli.


Melipun menganggukkan kepalanya, dengan segera Lorenzopun mengecup kening Meli....


"Terima kasih Tuhan." ucap Lorenzo dengan penuh kebahagiaan.