
*Flashback On*
Waktu itu gua lagi di kantor cici lu, karna perusahaan gua sama perusahaan cici lu tuh ada hubungan kerjasama. Saat itu cuman ada gua sama cici lu di dalem lift, terus tiba - tiba tuh lift rusak. Seketika lift langsung gelap dan gua langsung ngechat CEO kantor cici lu buat nolongin kita berdua karena lift rusak. Tapi cici lu mikirnya gua malah asik chatan dan ga peduli lift rusak karena hpnya pun tertinggal di meja kantornya. Terus tiba - tiba, cici lu agak oleng dan ga sadar kalo dia mau jatuh karena hilang keseimbangan. Ya udah dong gua tangkep dari belakang dan ga sengaja nyentuh paha dia, kan gua ga sengaja cuii karna itu gelap. Seketika cici lu berubah jadi mak lampir dan ngantain gua mesum melulu, untung lift udah bener. Kalo ga habis babak belur gua kena cici lu noh.
*Flashback Off*
"Bahh, ngakakk." ucap Meli sambil tertawa mendegar cerita Ale.
"Itu cerita sebenernya, lu ga mau dengerin penjelasan gua dulu sih." ucap Ale dengan tatapan kesalnya.
"Noh cii, makanya lu jangan judes - judes ke cowo. Gua yakin saat itu Ale ga sengaja kok." ucap Meli meyakinkan Jesi.
"Iya deh, maaf udah salah sangka sama lu." ucap Jesi dengan rasa bersalah.
"Iyee, santuy aja lahh." ucap Ale sambil tersenyum karena masalahnya dengan Jesi dapat teratasi.
~ Akhirnya mereka bertigapun makan bersama dan Meli mencoba untuk mendekatkan Ale dengan Jesi sebisa mungkin karena Meli merasa bahwa Ale bisa menghadapi sikap judesnya Jesi..
*******
Selama 2 minggu lamanya, Meli sudah melamar pekerjaan di berbagai tempat. Namun hasilnya ada yang tidak lulus, tidak cocok, dsb. Tiba - tiba handphone Melipun berbunyi...
"Selamat siang, nona Silvia. Saya Gunawan, selaku HRD dari Jiang Group ingin memberitahukan bahwa anda lolos seleksi dan besok adalah hari interview anda." ucap Gunawan selaku HRD.
"Ooh baik pakk. Terima kasih banyak pakk." ucap Meli dengan sorak bahagia karena berhasil lolos seleksi.
~ Keesokkan harinya, Melipun memutuskan untuk menaiki bus dan menolak tawaran sang ayah untuk mengantarnya karna ia terlalu bersemangat untuk pergi sendiri. Selama diperjalanan, tiba - tiba hujanpun turun dengan derasnya. Namun ia merasa bersyukur karna hujan terhenti setelah ia sampai di halte bus, iapun berencana akan melanjutkan ke Jiang Group dengan berjalan kaki karna ia tau jaraknya dekat dan tidak terlalu jauh. Melipun berjalan di trotoar dengan hati - hati, karena takut terjatuh. Disaat Meli hendak sampai, seketika sebuah mobilpun melaju dengan cepat dan menyipratkan becekan yang membuat baju Meli menjadi kotor dan basah.
"Ahh, Mobil kamprett.. Duh baju guaa, bener - bener tuh orang ga mikir apa." ucap Meli sambil berteriak marah - marah.
"Eh itu dia orangnya." ucap Meli dengan terburu - buru menghampiri orang yang baru saja menyipratkan air kotor ke bajunya.
Melipun segera menghampiri lelaki itu.. Namun karna langkahan kaki lelaki itu sangat cepat, membuat Meli berlari dan berkata....
"Hehh, lelaki ga bertanggung jawab." teriak Meli yang membuat langkahan kaki lelaki itu berhenti dan berbalik.
"Ada apa mbaa? kenapa anda meneriaki CEO kami dengan sebutan seperti itu?" tanya asisten lelaki itu yang tak lain adalah CEO dari Jiang Group.
"Suruh dia masuk keruanganku." ucap lelaki itu kepada asistennya sambil bergegas menuju ruangannya.
"Mati guee, ternyata tuh cowo CEO Jiang Group. Bisa - bisa gua langsung gugur nih waktu interview." bisik Meli dalam hati.
"Mari mba, ikut saya." ucap asisten tersebut dengan sopannya.
"Ini ruangan pak Lorenzo, mba." ucap asisten tersebut..
"Makasih pak." ucap Meli.
"Tokk.. tokk." suara ketukan pintu.
"Masuk." ucap lelaki itu yang tak lain adalah CEO Jiang Group.
"Pa..gi pak Lorenzo. Maaf atas perkataan saya tadi pak." ucap Meli sambil menunduk.
"Kamu tau apa konsekuensinya? Saya bisa dengan mudah menyingkirkan kamu dari perusahaan saya, bahkan menuntut kamu atas pencemaran nama baik saya." ucap Lorenzo dengan tatapan dinginnya.