Destiny With My First Love

Destiny With My First Love
SEPERTI BIASA


Ringg.... Ring... Bel pulang sekolahpun berbunyi.. Rin memutuskan untuk segera pulang kerumahnya.. Setibanya di rumah...


"Duh gerah amat ya, mandi dulu ah." ucap Rin segera menuju kamar mandi.


10 menit kemudian...


"Kring..kring." Handphone Rinpun berbunyi karena ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Segera Rin melihat handphonenya


"Haii, ini Rei. " ucap Rei dengan pedenya.


"Ohh, hai." ucap Rin sambil terkejut karena Rei tiba - tiba mengiriminya pesan.


"Udah sampe rumah?" tanya Rei tanpa basa - basi.


"Udah kok." ucap Rin dengan balasan singkatnya.


"Btw, lagi apa?" tanya Rei yang selalu mencari topik.


"Lagi beresin buku. Kalo Rei?" tanya Rin sambil membereskan dan menyusun buku - bukunya.


" Lagi mau makan nih. Rin udah makan?" tanya Rei.


"Ooh ya udah Rei makan aja duluu, Rin bentar lagi juga mau makan." ucap Rin.


******


Setibanya di rumah, Meli dan Jesipun sedang bercerita satu sama lain di ruang tamu.


"De, gua udah interview kemarin di perusahaan Aneka Jaya." ucap Jesi dengan wajah gembiranya. Karena Meli dan Jesi hanya selisih 2 tahun, membuat mereka terkadang akur dan juga sering bertengkar.


"Wahh, bagus dong. Selamat cii." ucap Meli turut senang mendengar kabar baik dari kakaknya.


"Ya itung - itung ngeringanin beban mama sama papa lah." ucap Jesi yang sebentar lagi akan melaksanakan Graduate di sekolahnya. Meskipun Jesi terkesan judes/ jutek, Namun Jesi adalah orang yang sangat perhatian dan peduli dengan keluarganya.


"Iyaa, nanti gua juga mau ngelamar kerja kalo udah lulus." ucap Meli dengan bersemangat. Karena Meli sudah merencanakan sehabis dia lulus SMK, dia segera melamar pekerjaan dan melanjutkan kuliah dengan uangnya sendiri.


"Yaa, ide bagus." ucap Jesi menyetujui pendapat adenya.


"Cii, lu masih inget muka Nico ga?" tanya Meli karena tiba - tiba teringat dengan cerita Jesi waktu itu.


Sekitar 4 tahun yang lalu, Jesi tidak sengaja bertemu Nico di warung karawaci dekat rumah.


"Eh ci Jesii ." sapa Nico dengan terkejut melihat Jesi berada di depannya." Nico memang orang yang cuek dan dingin dengan banyak perempuan, tapi tidak dengan Meli dan juga Jesi.


"Eh Nicoo, kamu kemana aja?" tanya Jesi dengan penasaran.


"Hehehe, Meli mana cii?" tanya Nico mengalihkan pembicaraan.


"Meli ada di rumah, Nic. Tadi dia ga mau ikut katanya." ucap Jesi dengan terburu - buru karena Jesi harus membeli barang yang disuruh ibunya.


"Ya udah Nico duluan ya cii." ucap Nico sambil meninggalkan Jesi.


*Flashback off*


"Hmm, mukanya sih masih sama kaya dulu. Cuman lebih tinggi dan tambah ganteng rasanya." ucap Jesi sambil berpikir.


"Huhhh, napa coba waktu itu Meli ga ikut cici pergi ke warung." ucap Meli dengan ekspresi kesalnya.


"Lu sih ga mau ikut gua ke warung waktu itu.. Eh tapi lu curiga ga sih sama Nico? kaya ada yang dia sembunyiin dari kita." ucap Jesi dengan serius.


"Iyaa, bahkan semenjak itu kita ga pernah ketemu lagi kan sama Nico." ucap Meli dengan tatapan sendu.


"Iyaa, udahlah gua puyeng setiap lu ngebahas Nico." ucap Jesi sambil menuju ke kamarnya dan meninggalkan Meli yang masih berada di ruang tamu.


"Jujur gua juga cape mikirin lu, nungguin lu dateng tapi nyatanya hal itu ga pernah. Bahkan gua juga ga tau lu masih inget sama gua apa ga, setiap kali gua berusaha ngelupain lu tapi itu ga pernah bisa berhasil." ucap Meli berbisik dalam hati sambil memikirkan Nico.


~ Melipun segera meninggalkan ruang tamu dan menuju ke kamarnya. Tak kerasa berapa menit kemudian, Meli sudah tertidur nyenyak di kasurnya sambil memegangi handphonenya hingga membuat dia terbangun pada malam hari.


"Aduhh" ucap Meli merasa pegal karena tidur dengan posisi tengkurap terlalu lama.


"Yaampunn udah jam segini." ucap Meli sambil melihat jam dindingnya dan segera menuju ke kamar mandi.


15 menit kemudian....


Selesai mandi, Melipun menuju ke dapur untuk makan malam dan setelah itu menuju ke kamarnya lagi untuk mengerjakan tugas - tugas sekolahnya.