
"Saya bicara jujur kok, emang saya ga punya bukti. Tapi terserah bapak mau percaya apa ga." ucap Meli yang menatap Lorenzo dengan tak kalah dingin juga.
"Inget ya. Cewe munafik kaya kamu ga akan pernah bisa buat saya tertarik sedikitpun bahkan jika jodoh saya itupun kamu, saya lebih baik mati dari pada hidup sama kamu." ucap Lorenzo dengan kata kasarnya.
"Degg..." Seketika perkataan itu menusuk hati Meli sekarang ini. Ia tidak menyangka jika lelaki yang ia cintai selama ini berkata seperti itu. Seketika Meli menatap Lorenzo dengan air mata yang bercucuran..
"Lu udah berubah" ucap Meli sambil meneteskan air mata dan segera Meli lari keluar dari ruangan. Meli memutuskan untuk pergi keluar kantor dan mengirimi Rin sebuah pesan, namun sewaktu ia diperjalanan tampaklah sebuah mobil melaju dengan cepat...
"Brukk..." Melipun terjatuh sambil tergenang banyak darah.. Seketika banyak orang menolongnya dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat..
"Halo ibu, benar ini dengan orangtua saudari Meli?" tanya dokter selaku pihak dari rumah sakit tersebut.
"Iya benar, ada apa ya pak?" tanya ibu Meli yang tampak khawatir.
"Saudari Meli mengalami kecelakaan dan sedang menjalani masa kritis bu." ucap dokter berbicara dengan serius.
Seketika kedua orangtua Meli dan Jesipun segera menuju rumah sakit.. Sesampainya di rumah sakit, mereka hanya bisa menunggu di ruang tunggu.. Segera Jesi memberitahukan Rin dan setelah 30 menit lamanya, Rei dan Rinpun sampai di rumah sakit tersebut dengan mata yang sangat sembab karna menangis sedari perjalanan tadi...
"Cii, gimana keadaan Meli?" tanya Rin dengan wajah sedihnya..
"Dia belum sadar - sadar dari tadi Rin." ucap Jesi yang tampak sangat lesu.
Seketika Rin langsung terduduk di kursi ruang tunggu tersebut.. Rinpun melihat pesan yang dikirim oleh Meli..
"Rinn, Nico udah berubah 😠aku ga tau lagi harus gimana." ucap Meli dalam pesan teks tersebut.
Segera Rin menghubungi Stev dan menceritakan kejadian yang menimpa Meli..
"Ok, gua pulang sekarang.." ucap Stev yang tampak sangat terburu - buru..
"Iya Stev, hati - hati ya." ucap Rin.
******
Setelah 2 hari lamanya, akhirnya Stevpun sampai di rumah sakit tempat Meli berada..
"Tantee, gimana keadaan Meli tan?" tanya Stev yang tampak sangat lesu.
"Sabar ya tann, Meli pasti sadar." ucap Stev yang berusaha menenangkan ibu Meli.
"Iya Stev, makasih ya nak." ucap ibu Meli sambil mengelus kepala Stev.
"Tante pulang aja dulu untuk istirahat, biar Stev yang jagain disini." ucap Stev sambil memegang pundak ibu Meli. Jesi dan ayah Melipun sudah berangkat kerja dari jam 06.00 Wib tadi, kini jam sudah menunjukkan pukul 11.00 Wib.
"Iya nakk, makasih ya.. Kalo gitu tante pulang dulu." ucap ibu Meli yang sudah terlihat sangat sedih dan tidak bertenaga.
"Sopir Stev udah nunggu tante di depan, tante hati - hati ya." ucap Stev sambil mengantarkan kepergian ibu Meli.
Tidak lama kemudian Rin dan Reipun datang untuk menjenguk Meli....
"Stevv?" ucap Rin yang segera memeluk Stev dengan hangat.
"Rin." ucap Stev sambil membalas pelukan hangat Rin.
"Udah lama banget ga ketemu." ucap Rin dengan mata berkaca - kaca.
"Broo, gimana kabar lu?" sapa Rei sambil menepuk bahu Stev.
"Baik, broo. lu gimnaa?" tanya Stev dengan tersenyum.
"Baik jugaa." ucap Rei. Segera mereka bertiga duduk di kursi ruang tunggu. Rinpun mulai menceritakan sebuah cerita yang menurutnya Stev memang harus tau itu..
"Jadi Stev, Meli udah ketemu sama Nico." ucap Rin yang memulai topik pembicaraan tersebut.
"Hah?! lu serius?" tanya Stev dengan sangat terkejut.
"Iya, Lorenzo Nico Jiang." ucap Rin sambil menundukkan kepalanya.
"CEO Jiang Group?" tanya Stev dengan serius. Rinpun hanya menganggukkan kepalanya.
"Tapi, dia ga inget Meli sama sekali. Bahkan perlakuan dia ke Meli itu nyebelin banget." ucap Rin dengan wajah kesalnya.
Setelah Rin menceritakan semuanya kepada Stev, iapun segera bergegas menuju Jiang Group. Setibanya di Jiang Group....