Destiny With My First Love

Destiny With My First Love
TERUNGKAP


"Iyaa sih, bener juga apa yang kamu bilang Rin." ucap Meli sambil menyetujui pendapat Rin.


Chikapun datang membawa hidangan makanan yang telah dipesan oleh Rin...


"Melii? Sejak kapan kamu datengnya." ucap Chika yang terlihat sangat terkejut.


"Oiyaa mbaa, saking kangennya sama sahabatku ini jadi main nyamperin dia aja." ucap Meli sambil tertawa.


"Btw, Rin kenalin ini mba Chika." ucap Meli sambil memperkenalkan Chika kepada Rin.


"Haii Rin, saya Chika." ucap Chika sambil memperkenalkan diri.


"Hai, mba Chika. Salam kenal." sapa Rin sambil tersenyum.


"Yaudahh kalian nikmati dulu yaa masa kangennya, aku mau lanjut kerja dulu yaa." ucap Chika sambil mengedipkan mata kepada Meli.


"Siapp mbaa Chikaa, terimakasih ya mbaa." ucap Meli sambil tersenyum.


~ Meli dan Rinpun segera menikmati makanan sambil bercerita banyak hal dengan seru dan asiknya. Tidak kerasa sudah 2 jam berlalu, merekapun memutuskan untuk segera pulang....


*******


Keesokkan harinya, Melipun sudah menunggu kehadiran Lorenzo di depan ruangan. Namun sudah 2 jam lamanya, Lorenzo tidak kunjung datang.


"Ring...ring..." bunyi handphone Meli karena telepon masuk dari Richie.


"Halo, Meli.. Hari ini ko Lorenzo ga masuk kerja. Dia lagi sakit Mel, tolong lu urus dia ya soalnya gua ada ujian nih." ucap Richie sambil memberitahu Meli.


"Oo ok, Rich. Makasih ya infonya." ucap Meli segera menutup telepon dan bergegas menuju rumah Lorenzo.


Tidak lama kemudian, Melipun sampai di kediaman Lorenzo...


"Ting...Tong..." bunyi bel


"Pagi nona, tuan Lorenzo sedang sakit." ucap bibi dengan panik.


"Pak Lorenzo ada dimana ya bi?" tanya Meli dengan panik.


"Ada di dalam kamarnya, nona." ucap bibi sambil mempersilakan Meli masuk.


Sesampainya di kamar Lorenzo...


"Yaampunn kenapa lu panas gini sih?" ucap Meli sambil memegang kening Lorenzo yang terasa sangat panas.


Segera Meli menyiapkan kompres dan menaruhnya di kening Lorenzo. Melipun menuju dapur sambil menyiapkan makanan dan juga minuman untuk Lorenzo.


"Ada yang bisa dibantu, non?" tanya bibi itu kepada Meli.


"Ga usah bii, gapapaa saya masak sendiri aja." ucap Meli dengan tersenyum manis kepada bibi.


"Baik, non. Tuan pasti sangat beruntung punya teman sebaik nona, tidak seperti nona Bella." ucap bibi seketika membuat Meli terdiam.


"Maaf bi, emangnya kenapa sama Bella?" tanya Meli dengan penasaran.


"Tadi saat bibi membawakan minuman untuk tuan,ga sengaja bibi mendengar tuan lagi telfonan dengan nona Bella." ucap bibi tersebut kepada Meli.


"Lalu kenapa bii?" tanya Meli yang nampak serius mendengar cerita bibi.


"Maaf ya non, bukannya bibi mau ngomongin tuan dengan nona Bella. Tapi bibi tidak tega melihat tuan selama ini karena tingkah nona Bella." ucap bibi yang terlihat sangat sedih.


"Iya bii tenang aja, saya ngerti kok maksud bibi." ucap Meli dengan pengertian.


"Jadi tadi tuan menelepon nona Bella, tuan bilang kalo dirinya sakit dan meminta nona Bella untuk datang menjenguknya. Namun nona Bella sepertinya tidak bisa datang, seketika suara tuan nampak kecewa dan pasrah karna nona Bella lebih mementingkan pekerjaannya." ucap bibi yang mendegar jelas ucapan Lorenzo.


"Ooh gitu bii, yaudah gapapa bii biar saya aja yang rawat pak Lorenzo." ucap Meli dengan senyum hangatnya.


Tak lama kemudian, Melipun membawakan seporsi bubur dan minuman hangat untuk Lorenzo.


"Pakk, bangun dulu yuk makan bubur." ucap Meli sambil membangunkan Lorenzo dengan hangat. Lorenzopun terbangun dan segera duduk, segera Meli menyuapinya makan. Setelah itu, memberikan minuman kepada Lorenzo. Sesudah menyuapi makanan kepada Lorenzo, Melipun segera mengganti kompresan Lorenzo dan mengelap tubuh Lorenzo dengan air hangat. Meski omongan Lorenzo kasar kepada Meli, namun ia tetap merawat Lorenzo dengan sangat telaten. Seketika pandangan Meli tertuju pada sebuah meja....


"Yaampun Lorenzo, nih meja kenapa berantakan banget sih." gerutu Meli. Segera Meli membereskan dan merapikan meja tersebut. Namun seketika ia terkejut karna melihat sebuah foto yang sangat ia kenali. Ya, foto itu adalah foto Lorenzo sekeluarga.


"Deg.. Deg.." jantung Melipun berdebar begitu kencang...


"Inikan foto......" ucap Meli yang sangat terkejut sambil memegangi foto tersebut.