Destiny With My First Love

Destiny With My First Love
DI SEBUAH CAFE


2 hari berlalu begitu cepat, kini Meli dan Rin bertemu di sebuah cafe yang sudah mereka janjikan... Setibanya di cafe....


******


"Rinn" panggil Meli yang sedari tadi sudah sampai sambil melambaikan tanggannya kepada Rin yang baru saja sampai..


"Melii. Kangen banget.." sapa Rin segera menghampiri Meli sambil memberikan pelukan hangatnya.


"Iyaa, padahal baru beberapa hari ga ketemu tapi kangen banget rasanya." ucap Meli sambil membalas pelukan hangat Rin..


"Kamu udah dapet loker, Rin?" tanya Meli.


"Belum Mell, lagi cari - cari juga sih." ucap Rin.


~ Merekapun bercerita banyak hal, hingga pembicaraan mereka tertuju pada Stev..


"Rin, kamu udah tau tentang Stev?" tanya Meli dengan wajah yang nampak murung.


"Iya, Mell. Kemarin itu Stev ada cerita ke aku sama Rei. Mau gimana Mel, kita tau itu impian dia selama ini." ucap Rin dengan wajah sedihnya.


"Iya sihh, kita sebagai sahabatnya harus selalu dukung diaa!" ucap Meli yang tertiba bersemangat.


"Iya setujuu.. Kita harus selalu dukung Stev!" ucap Rin yang ikut bersemangat.


Tanpa mereka sadari, sudah 3 jam lamanya mereka berada di cafe itu karena terlalu asik bercerita. Merekapun segera bergegas pulang setelah menghabiskan beberapa makanan yang sudah dipesan. Rin dan Meli sengaja hanya ingin bertemu berdua saja, tanpa mengajak Stev dan juga Rei. Karena Rin dan Meli merasa bahwa mereka memiliki pemikiran yang sama dan juga sesama perempuan bisa saling memahami dan mengerti satu sama lain.


******


Keesokkan harinya, setelah membereskan pekerjaan rumah tanpa sadar Melipun tertidur di sofa ruang tamunya....


Pada pukul 16.00 Wib, Melipun terbangun karena kedatangan Jesi yang baru saja pulang kerja...


"De.. Lu kenapa tidur di situ, kenapa ga di kamar aja." ucap Jesi yang melihat Meli terbangun tiba - tiba.


"Iya gua ketiduran." ucap Meli sambil menetralkan semua jiwa dan raganya karena sehabis tidur pulas.


"Ciii, gua mau keliling dulu ya pake sepeda." ijin Meli kepada Jesi.


"Iya, tiati." ucap Jesi sambil memainkan handphonenya.


~ Karena merasa bosan, Melipun pergi keluar rumah agak jauh dengan sepedanya. Sekitar 1 jam lamanya berkeliling, pandangan Melipun terhenti pada sebuah cafe yang nampak indah karena dihiasi oleh berbagai jenis bunga.


"Hmm, cafenya baguss. Tapi kok, rada sepi ya?" Bisik Meli sambil berpikir dan segera memarkirkan sepedanya. Setelah itu, memasuki cafe tersebut.


"Selamat sore kakk, mau pesan apa?" tanya seorang pelayan dengan ramahnya yang berada di meja pesanan.


"Sore, saya mau pesan menu spesial di cafe ini mba." ucap Meli sambil membayar pesanannya dan segera menuju meja makan.


Tidak lama kemudian, seorang pelayanpun membawakan makanan beserta minuman yang sudah Meli pesan.... Segera Meli menyantap makanan tersebut..


"Hmm.. Rasa makanannya enak, cafenya juga rapi dan bersih, biayanyapun terjangkau. Tapi, kenapa sepi ya? cuman ada beberapa pembeli di sini." bisik Meli yang masih serius berpikir.


Melipun mengamati setiap sudut cafe dengan terperinci, seketika pandangannya pun tertuju pada sebuah panggung kecil. Ya, panggung kecil itu adalah panggung singer dengan sebuah kursi, mic dan juga gitar. Segera Meli menghabiskan makanannya dan menghampiri meja pesanan.


"Ada yang bisa dibantu kakk?" tanya seorang pelayan dengan senyum ramahnya.


"Panggung itu sudah ga dipake lagi mba?" tanya Meli sambil menunjuk panggung kecil tersebut.


"Sudah lama tidak dipakai kakk, karena CEO cafe kami sangat sibuk akhir - akhir ini. Biasanya kalo CEO cafe kami ada waktu luang, beliau suka menyanyi di cafe ini." ucap seorang pelayan sambil menjelaskan.


"Ooh, gitu.. Kalo sekarang saya menyanyi di cafe ini boleh?" tanya Meli dengan tatapan memohon.


"Boleh kak, karena CEO kami memberikan izin kepada siapa saja yang ingin menyanyi di cafe ini." ucap seorang pelayan tersebut. Sontak hal itu membuat Meli merasa gembira dan bersemangat untuk bernyanyi.


~ Melipun membawakan beberapa lagu dengan ciri khas suaranya sehingga menarik perhatian beberapa pembeli yang datang. Tidak kerasa jam sudah menunjukkan pukul 20.30 Wib, nampak 2 orang pelayan itupun sedang membereskan dan membersihkan cafe yang sebentar lagi akan tutup...


"Kakk, suara kakak tadii merduu sekalii. Sangat menyentuh hati, banyak pembeli tertarik dengan suara kakak.. Terima kasih ya kak." ucap 2 orang pelayan tersebut.