
Seperti biasanya seorang anak perempuan yang bernama Meli sedang bermain bersama teman - temannya setiap hari di dalam rumahnya. Namun, tiba - tiba kejadianpun datang dikala siang hari itu.
*******
Meli adalah seorang anak perempuan yang berumur 5 tahun. Dengan sifat ramah dan baik terhadap teman - temannya, membuat ia cepat untuk saling mengenal dan berbaur dengan teman - temannya. Namun, hal itu berbeda dengan kakak perempuannya yang bernama Jesi. Jesi adalah seorang anak perempuan yang sifatnya pemalu dan terkesan sangat jutek.
*******
Pada siang hari itu, seperti biasanya anak - anak perempuan bermain masak - masakkan ala cafe di rumah Meli.
"Ci, gimana cafemu hari ini ?" tanya salah satu teman Meli yang bernama Angel, karena umur Angel lebih muda ketimbang Meli sehingga ia memanggil Meli dengan sebutan cici(kakak).
"Ya beginilah ngel, cafeku tidak terlalu ramai hari ini" ucap Meli sambil menunggu pelanggan yang tak kala adalah teman - temannya.
Tak lama kemudian, salah satu teman Meli pun datang. "haiiii, ga telat kan aku?" ucap salah satu teman Meli yang bernama Wulan, dengan ekspresi gembira.
"Kemana aja kamu lan, baru datang jam segini?" kesal Jesi kepada Wulan dengan ekspresinya yang jutek.
~ Jesi dan Wulan adalah yang paling tertua di dalam grup, sedangkan yang paling termuda adalah Angel.
"Baiklah, baiklah aku paham dengan kondisimu, lan." ucap Meli untuk memperbaiki suasana tegang pada kala itu.
"Aku ingin memesan ikan bakar + nasi" ucap Jesi kepada Angel yang berlaga seperti pembeli.
"Baik nona, pesanan anda akan saya antarkan. Mohon tunggu." ucap Angel kepada Jesi yang berlaga seperti pemilik cafe.
"Lan, kamu mau makan apa? biar hari ini aku yang pesan" ucap Jesi sambil menggoda Wulan yang tampak bersalah.
"jadi tidak ada yang mau memesan makanan di cafeku nih?" tanya Meli dengan ekspresi memelas yang sangat lucu. Karena melihat ekspresi Meli, membuat mereka bertiga tertawa dan membuat Melipun ikut tertawa.
~ Suasana yang tadinya tegang pada siang itu, kembali dengan suasana hangat dengan penuh canda dan tawa keempat anak peremuan itu.