
Selain itu, tepat di bawah bingkai tersebut tertera masing - masing nama anggota keluarga.
~ Lorenzo Nico Jiang ~
Seketika air mata Melipun menetes begitu derasnya saat memegang bingkai tersebut.
"Bertahun - tahun aku cariin kamu kesana kesini, nungguin kamu yang ga tau ada dimana dan ternyata selama ini kamu ada didekatku bahkan kamu orang yang begitu aku benci." ucap Meli sambil menangis dan melihat foto tersebut.
"Kamu dimana?" tanya Nico yang tidak tersadar karena ia masih demam.
"Iya aku disini, Nico.." ucap Meli yang seketika mendekat ke sisi Lorenzo dan memegangi tangannya.
"Bella, jangan pergi." ucap Lorenzo dengan mata tertutup.
"Degg.." Seketika hati Meli terasa sangat sakit mendengar ucapan Lorenzo. Iapun tidak tau harus berbuat apa.. Marah, sedih, kecewa rasanya semua tercampur aduk menjadi satu. Awalnya ia sangat menginginkan Nico selalu berada di sisinya, namun mendengar Nico menyebut nama perempuan lain dan melihat keadaan Nico sekarang ini membuat Meli mengurungkan niatnya tersebut.
"Kring...kring.." Handphone Lorenzopun berbunyi. Melipun melihat ada notif pesan masuk dari Bella.
"Yang, maafin aku ya ga bisa jenguk kamu. Soalnya aku lagi kerja nih di luar kota." isi pesan dari notif yang Meli lihat.
Melipun bergegas pulang kerumah karna ia merasa sudah beres merawat Lorenzo..
"Non udah mau pulang?" tanya bibi tersebut.
"Iya nih bii. Oiya bi, nanti tolong kasih bubur lagi ke pak Lorenzo ya sama minumannya." ucap Meli sambil mengingatkan bibi tersebut.
"Baik nonn." ucap bibi.
"Makasih ya bi, kalo gitu saya pulang dulu." Pamit Meli dengan sopan.
******
Sesampainya di rumah, Melipun masih memikirkan kejadian tadi. Meli bingung harus bersikap bagaimana dengan Lorenzo yang tak lain adalah Nico, seorang lelaki yang berhasil membuat Meli mencintainya hingga sekarang..
"Hmm, aku tunggu waktu yang tepat aja deh buat ngungkapin semuanya ke Nico." ucap Meli dengan rencana matangnya.
Meli dan Rinpun janjian untuk bertemu di sebuah taman.. Rin melihat Meli yang sedang melamun sedari tadi di salah satu bangku taman, segera ia menghampiri Meli..
"Heii, Mell. Kenapa sih kamu?" ucap Rin yang membuyarkan lamunan Meli.
"Serius, sini cerita. Bebebbku ini kenapa sihh?" ucap Rin dengan sangat pengertian.
Seketika Meli memeluk Rin sambil menangis karna ia tidak sanggup lagi menahannya..
"Rinn... Nico" ucap Meli dengan suara tangisannya.
Kenapa sama Nico beb?" tanya Rin dengan panik.
"Selama ini orang yang aku benci, dia Nico Rin." ucap Meli dengan wajah sedihnya.
"Hah?! Lorenzo ?" tanya Rin dengan sangat terkejut. Segera Melipun mengganguk..
"Lorenzo Nico Jiang" ucap Meli.
"Kok kamu bisa tau itu dia?" tanya Rin yang terlihat sangat bingung.
"Hari ini dia demam Rin, jadi aku langsung kerumahnya. Sehabis ngerawat dia, aku liat salah satu mejanya berantakan. Lalu aku beresin dan ga sengaja ketemu 1 bingkai foto dia sama keluarganya. Aku kenal banget Rin, bahkan muka mamanya aja sama persis." ucap Meli dengan tatapan berkaca - kaca.
"Iya Mell. Tenang yaa tenang, emang kerasa berat bagi kamu." ucap Rin berusaha menenangkan Meli.
"Tapi dia nyebut nama cewe lain Rin dan bukan aku." ucap Meli sambil menangis karna tak kuasa menahan sakit apa yang ia rasakan.
"Sabarr Mell, kan karna kalian terpisah lama jadi memang kemungkinan dia bisa lupa sama kamu. Kamu harus yakin, kalo jodoh itu ga bakal kemana kok. Cepat atau lambat pasti akan bertemu." ucap Rin dengan pemikiran dewasanya.
"Iya Rinn, makasih yaa." ucap Meli yang merasa sedikit tenang karna ucapan Rin.
Setelah Rin merasa Meli sudah sedikit tenang, Rinpun bertanya...
"Terus habis ini kamu mau ngapain?" tanya Rin.
"Aku nunggu waktu yang tepat Rin buat ngomong sama dia, karna aku belum siap buat ceritain semuanya ke dia." ucap Meli dengan serius.
"Iya sih, aku ngertii keadaan kamu sekarang ini." ucap Rin dengan sangat pengertian.
"Makasih ya Rin. Kamu selalu ngedengerin semua cerita aku, ngedukung aku.. Lop yu my best friend." ucap Meli sambil memeluk Rin.
"Iyaa sayangkuu, makasih juga udah jadi sahabatkuu." ucap Rin sambip membalas pelukan hangat Meli.