
1 minggu lebih berlalu dengan cepat, Lorenzopun sudah mulai terbiasa dengan Meli...
*******
"Pagi pak, ini tehnya." ucap Meli dengan senyum manisnya.
"Senyum itu..." bisik Lorenzo dalam hati.
"Meli, kamu ikut saya hari ini bertemu dengan klien." ucap Lorenzo segera bersiap - siap.
"I...yaa pak." ucap Meli dengan gugup karna baru pertama kali mengikuti Lorenzo meeting dengan klien.
~ Merekapun segera bergegas kesuatu tempat menghampiri klien tersebut, Setibanya di tempat tersebut....
"Selama pagi, pak Lorenzo." ucap klien tersebut yang tak lain adalah pak Mario sambil berjabat tangan dengan Lorenzo.
"Pagi, pak. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda pak Mario." ucap Lorenzo dengan sangat bijak.
"Kenalkan, ini sekretaris saya." ucap pak Mario sambil memperkenalkan sekretarisnya.
"Saya Anastasia, pak." ucap sekretaris pak Mario sambil memperkenalkan dirinya.
"Wah siapa perempuan anggun ini, pak Lorenzo?" tanya pak Mario sambil menanyakan Meli kepada Lorenzo.
"Ah dia bukan siapa - siapa, pak." ucap Lorenzo sambil berusaha menutupi Meli.
"Saya Meli, pak. Asisten pribadi pak Lorenzo." ucap Meli sambil tersenyum manis memperkenalkan dirinya.
"Ohh begitu, marii duduk. Saya sudah siapkan anggur terbaik untuk anda." ucap pak Mario sambil mempersilakan Lorenzo dan juga Meli.
"Maaf pak, biar saya saja yang menuangkannya." ucap Meli segera menuangkan anggur karna melihat pak Mario membukanya sendiri.
"Terima kasih, nona Meli. Beruntung sekali pak Lorenzo memilikimu." ucap pak Mario sambil meledek Lorenzo.
~ Melipun menyiapkan dan menuangkan anggur ke masing - masing gelas. Namun, dirinya tidak bisa meminum anggur. Oleh karna itu, ia memilih untuk tidak meminumnya..
"Baik pak, tentunya saya akan memberikan pelayanan terbaik untuk pak Mario." ucap Lorenzo dengan sikap gigihnya. Ya, Jiang Group adalah perusahaan dengan desain arsitektur terbaik di negara ini.
"Siap pak Lorenzo. Saya percayakan sepenuhnya pada anda." ucap pak Mario sambil berjabat tangan dengan Lorenzo.
Tidak kerasa sudah 3 jam lamanya mereka berada di tempat itu sambil membahas berbagai rencana dan juga hubungan kerjasama. Setelah itu, Lorenzo dan Melipun segera bergegas menuju kantor. Namun...
"Pak, anda baik - baik saja?" tanya Meli sambil memegangi lengan Lorenzo yang tampak lelah.
"Apa - apaan dia ini, baru minum anggur sedikit aja udah kaya gini." gerutu Meli sambil berusaha menopang Lorenzo menuju mobilnya.
Sesampainya di mobil, Lorenzopun sedikit tersadar ...
"Melii, aku mau pulang saja." ucap Lorenzo yang setengah sadar dan tidak sadar.
"Pak, tolong antarkan ke rumah pak Lorenzo ya." ucap Meli dengan sopan meminta pada sopir kepercayaan Lorenzo.
"Baik, bu." ucap sopir tersebut.
Setibanya di kediaman Lorenzo... Sopir tersebutpun membantu Meli untuk menopang Lorenzo sampai kedalam kamar..
"Terima kasih pakk.. Bapak bisa kembali ke kantor untuk jemput pak Richie nanti. Selebihnya biar saya urus pak Lorenzo sendiri di sini." ucap Meli.
"Baik, bu. Saya pamit dulu." ucap sopir tersebut sambil bergegas pergi.
"Rumah gede tapi ga ada orang." bisik Meli sambil menghelas nafas.
Melipun segera membenarkan posisi tidur Lorenzo yang sangat berantakan.. Namun saat ia hendak menggeser tangan Lorenzo, betapa terkejutnya ia melihat bahwa posisinya sekarang dengan Lorenzo berpelukan karna Lorenzo menarik tangan Meli dengan begitu cepat.
"Melii, maafkan aku." ucap Lorenzo sambil memeluk dan mengecup kening Meli.
"Degg..." Seketika jantung Meli berdebar sangat cepat karna mendengar ucapan Lorenzo..
"Maaf saya ga bisa pak." ucap Meli segera terbangun dan lebih memilih pergi ke dapur membuatkan minuman untuk Lorenzo.
"Siang non, ada yang bisa dibantu?" tanya seorang bibi yang muncul tiba - tiba dibelakang Meli.
"Aduh bii, saya kaget." ucap Meli dengan wajah terkejutnya.
"Maaf nonn, apa yang non cari?" tanya bibi itu dengan ramahnya.
"Saya butuh bahan - bahan ini bii." ucap Meli sambil memberikan daftar bahan - bahan yang diperlukan.
Selama kurang lebih 5 menit, bibipun segera membawakan bahan - bahan lengkap sesuai dengan apa yang Meli minta.
"Ini non bahan - bahannya." ucap bibi tersebut sambil memberikannya kepada Meli.
"Terima kasih ya bi." ucap Meli dengan senyum ramahnya dan segera meracik minuman penawar untuk Lorenzo karna Meli mengetahui bahwa Lorenzo akan sakit kepala saat dia bangun nanti. Setelah minuman tersebut dikemas dalam termos kecil, iapun kembali ke kamar Lorenzo dan meletakkan minuman tersebut di atas meja sebelah kasur Lorenzo dengan sebuah note di bawahnya..