Could It Be You?

Could It Be You?
5. Cemburu?


- Makan Malam -


"Soo Yeong, kalau Papa boleh tahu, temanmu tadi siapa namanya? " tanya Papanya disela-sela makan malam mereka.


"hm? yang mengantarku tadi?" Soo Yeong memastikan.


Orang tua Soo Yeong mengangguk bersama.


"Namanya Ye Joon. Oh iya, Pa, Ma, apa Dia boleh ikut piknik bersama kita? "


"Piknik? Tunggu sebentar. Apa anak Papa sekarang sudah mulai berpacaran? " tanya Papa Soo Yeong penuh curiga.


"Eh? Pacar? Aku belum pernah memikirkannya. " Soo Yeong mengelak. Tapi tak sepenuhnya begitu, dalam hatinya berkata lain. Tak bisa disangkal jika Ye Joon adalah lelaki yang sangat manis, baik, dan perhatian. Bahkan ketika berboncengan dengan Ye Joon kemarin, Soo Yeong merasakan ada yang berbeda dengan jantungnya.


Jantungnya berdebar.


"Benarkah? Kalaupun iya, Papa dan Mama tidak masalah. Dia terlihat seperti anak yang baik. Jadi tak apa jika menyukainya. " kata Papa Soo Yeong mengejutkan lamunannya.


"Papa apa sih. Aku hanya kasihan padanya, Dia selalu kesepian karena orang tuanya selalu sibuk berkerja. Itu saja. " wajah Soo Yeong mulai memerah.


"Hmm. Begitu. Kalau begitu ajak saja. "


Mendengar jawaban Papanya, Soo Yeong tersenyum tanpa sengaja. Dia sangat payah menyembunyikan rasa bahagianya.


- Pagi


Seperti biasa, Soo Yeong diantar Papanya berangkat ke sekolah.


"Nanti Papa jemput atau diantar Ye Joon lagi? " goda Papa Soo Yeong sambil mengacak-acak rambutnya.


"Papa, sudahlah. Sejak semalam tak pernah lelah menggodaku. " protes Soo Yeong.


"Haha. Iya iya. Nanti kabari Papa. "


Soo Yeong turun dari mobil dan memasuki area sekolah. Ketika sampai dikelas, matanya berkeliling mencari sosok Ye Joon yang belum juga terlihat. Pasalnya, Ye Joon selalu menyapa ketika Dia sampai. Tapi kini hingga pelajaran mulaipun Ye Joon tak kunjung muncul.


"Dimana Ye Joon. Kenapa Dia belum terlihat. " tanya Pak Choi setelah selesai mengabsen. Iya. Pak Choi adalah seorang wali kelas.


"Tadi Dia mengabariku dan bilang sedang sakit Pak." Jae Min menjawab.


Mendengar jawaban Jae Min, Soo Yeong jadi khawatir. Seingatnya kemarin Ye Joon baik-baik saja.


"Apa terjadi sesuatu padanya diperjalanan pulang kemarin? " kata Soo Yeong dalam hati.


"Sakit? Kalau begitu, katakan padanya untuk beristirahat dan kembali ketika sudah sembuh." kata Pak Choi.


"Baik Pak. "


Setelah Pak Choi meninggalkan kelas, Soo Yeong menghampiri Jae Min yang sedang fokus pada bukunya.


"Jae Min, apa Ye Joon mengatakan padamu Dia sakit apa? " tanya Soo Yeong ragu.


"Oh, hai Soo Yeong. Sepertinya ini pertama kalinya kau bertanya padaku? " kata Jae Min.


Soo Yeong tak menjawab.


"Maaf, aku hanya bercanda. Ye Joon tidak bilang apa-apa padaku. Bukankah kalian dekat? Apa Dia tidak mengabarimu? "


"Aku tak akan bertanya padamu jika Dia memberiku kabar. " ucap Soo Yeong sedih.


Soo Yeong kembali ke tempat duduk dan menyandarkan kepalanya diatas meja. Kenapa Dia sesedih itu. Mungkinkah Soo Yeong memang menyukainya?. Mungkin.


Ye Joon tiba-tiba sakit dan tak ada yang tahu bagaimana kabarnya sekarang. Hal itu membuat Soo Yeong tak bisa fokus pada pelajaran. Dia terus memikirkan Ye Joon, Soo Yeong mengkhawatirkannya.


- Istirahat


Soo Yeong duduk dipinggir lapangan dan mencoba mengirim pesan pada Ye Joon.


"Ye Joon, kamu sakit? "


Melihat Soo Yeong duduk sendirian, Jae Min menghampiri dan duduk disampingnya.


"Sedang apa disini? " tanya Jae Min pada Soo Yeong yang sedang melamun.


"Ah, hanya ingin saja. " jawab Soo Yeong setengah terkejut.


"Apa sedang memikirkan Ye Joon? "


Soo Yeong mengangguk pelan.


"Soo Yeong, apa kamu tidak menyadarinya?. Setelah Ye Joon datang banyak perubahan yang terjadi padamu. Dari pendiam menjadi ceria. Kamu juga sudah banyak bicara. " kata Jae Min.


"Benarkah? Aku tidak menyadarinya. " ucap Soo Yeong.


"Iya. Kalau saja dari dulu kamu seperti ini, pasti kamu punya banyak teman."


"hmmm.. " Soo Yeong tersenyum tipis.


"oh iya. Barusan aku menemui Pak Choi dan menyuruhku untuk menemui Ye Joon. Dia memberiku alamatnya, apa kamu mau ikut bersamaku? " ajak Jae Min.


"Bolehkah? "


"Tentu. "


Soo Yeong dan Jae Min masuk kekelas bersama. Setelah banyak mengobrol mereka menjadi lebih dekat.


Setelah pelajaran berakhir, Soo Yeong mengabari Papanya agar tidak perlu menjemput dan pergi kerumah Ye Joon bersama Jae Min. Karena rumah Ye Joon sedikit jauh mereka harus naik bus.Setelah berjalan beberapa meter dari halte, akhirnya mereka sampai.


"Benarkah ini rumahnya? " tanya Soo Yeong.


"Entahlah. Aku akan coba membunyikan bel dan bertanya. " Jae Min memencet bel beberapa kali.


Setelah beberapa saat, seorang wanita yang sudah cukup tua menghampiri mereka dan membukakan pintu.


"Cari siapa? " tanya wanita itu.


"Apa benar ini rumahnya Ye Joon? Kami adalah teman sekelasnya. Tadi pagi Dia mengabari saya kalau sedang sakit jadi kami datang untuk menjenguknya. " Jae Min menjelaskan.


"Oh, temannya tuan muda Ye Joon. Silahkan masuk. Dia sedang dikamarnya. " kata wanita itu.


Soo Yeong dan Jae Min pun masuk dan duduk diruang tamu. Mereka heran karena rumah Ye Joon sangat besar dan juga sepi. Soo Yeong jadi teringat dengan perkataan Ye Joon kemarin, bahwa Dia selalu sendirian dirumah. Soo Yeong tak mengira jika Dia sendirian dirumah sebesar ini, pasti Dia sangat kesepian.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Ye Joon muncul. Ujung bibirnya terlihat memar seperti terbentur sesuatu.


"Oh, kalian datang? " sapa Ye Joon sambil menuruni tangga lalu duduk bersama.


"Iya. Kamu sakit apa? " tanya Soo Yeong.


"Bukan sesuatu hal yang parah. hehe." kata Ye Joon.


"Ye Joon,ini adalah tugas yang diberikan hari ini. Kata Pak Choi kamu bisa mengumpulkannya ketika sudah sembuh. " Jae Min menimpali.


"Apa kalian kesini hanya berdua saja? Lalu dengan apa? Apa Jae Min membawa motor? " cerocos Ye Joon.


"Tentu hanya berdua, kalau ada yang lain pasti sudah bersama kita sekarang. Tadi kami naik bus. Kenapa sepertinya kamu penasaran sekali, Ye Joon? " jawab Jae Min.


Soo Yeong hanya diam. Dia merasa lega karena sudah tahu keadaan Ye Joon.


"Tidak. Aku hanya bertanya. " nada Ye Joon sedikit kesal. Dia sedikit terganggu melihat keakraban Soo Yeong dan Jae Min, bahkan mereka naik bus bersama. Sejak kapan mereka sedekat itu. Ye Joon menjadi cemburu dengan hal sesepele itu.


"Hmm. Begitu. Oh iya, kata Pak Choi mulai sekarang kamu bisa menghubunginya jika suatu saat tidak bisa masuk kelas. " kata Jae Min sambil memberikan nomor telepon Pak Choi.


"Tenang saja. Mulai sekarang aku tidak akan absen. Aku akan berangkat setiap hari." ucap Ye Joon yakin. Ye Joon khawatir jika Soo Yeong dan Jae Min akan menjadi lebih dekat ketika Dia tidak ada.


Sungguh, dibalik sifatnya selama ini ternyata tersimpan sifat Ye Joon yang kekanak-kanakan. Tapi itu membuatnya terlihat menggemaskan.