
Hari ini adalah hari pertama siswa pindahan itu menjadi teman sekelas Soo Yeong. Beberapa kali Dia mencuri pandang kearahnya, tapi Soo Yeong tak menggubris. Dia hanya fokus dengan apa yang sedang Ia lakukan. Tak peduli dengan yang lainnya.
"Hai. Perkenalkan namaku Ye Joon, Park Ye Joon. Siapa namamu? " sapa murid baru itu sambil mengulurkan tangannya pada Soo Yeong.
Tapi Soo Yeong tetap tak menjawab, Dia hanya menoleh sebentar lalu fokus dengan kesibukannya lagi.
"Hei?? " Ye Joon menyapa lagi. Kini dengan sedikit menundukkan badannya agar Soo Yeong merespon.
"Hai Ye Joon. Maaf ya.. Soo Yeong memang seperti itu. Dia sangat pendiam. Oh iya, perkenalkan namaku Seok Jae Min, ketua kelas. Kamu bisa bertanya padaku jika butuh sesuatu. " potong Jae Min menghentikan aktifitas Ye Joon.
"Oh hai, Jae Min. Salam kenal. " balasnya.
"Oke. Mukai sekarang kamu bisa duduk disini. Tempati saja dulu soalnya pelajaran akan segera dimulai." kata Jae Min sembari menunjukkan bangku kosong dibelakang Soo Yeong.
Ye Joon menurut dan memulai pelajaran.
- skip -
kring kriing
Tanda bel istirahat sudah berbunyi. Semua murid bergegas menuju kantin sekolah, begitupun Soo Yeong. Tapi Dia berbeda dengan siswi yang lain. Ketika yang lain berjalan bersama-sama Dia sendirian. Begitupun ketika makan. Tak ada teman yang menemaninya.
Bukan karena apa-apa, tapi Soo Yeong sangat pendiam dan tertutup itu menyebabkan teman yang lainnya sedikit canggung ketika bersama Soo Yeong.
Hingga akhirnya ada yang menghampiri Soo Yeong.
"Boleh aku duduk disini? " tanya Ye Joon.
Soo Yeong menatapnya sekilas dan mengangguk.
"Terimakasih. "
Ye Joon dan Soo Yeong makan bersama. Tapi situasinya canggung sekali karena tak ada obrolan yang tercipta.
"mm. Namamu Soo Yeong kan? Aku tahu dari ketua kelas kita, Jae Min. Tapi apa kamu tak mau berkenalan denganku secara langsung? " Ye Joon akhirnya buka suara.
Soo Yeong tetap diam.
"Apa aku mengganggu? Sedari tadi kamu tidak menggubris seluruh pertanyaanku. Padahal aku hanya ingin berteman. Apa itu terlalu berlebihan? " Ye Joon menuntut jawaban dari Soo Yeong.
"Kim Soo Yeong. " akhirnya Soo Yeong menjawab dan menghentikan aktifitas makannya lalu pergi meninggalkan Ye Joon.
Ye Joon diam ditempat, bukan kesal dengan perilaku Soo Yeong tapi terkesan akhirnya Dia mendapat tanggapan dari Soo Yeong. Entah apa yang membuatnya sepenasaran itu pada Soo Yeong hingga seperti ini.
-
"Pelajaran hari ini cukup sampai disini. Kalian bisa pulang. Jangan lupa dengan tugas yang Bapak berikan dan hati-hati dijalan. Sampai ketemu besok." kata salah satu Guru menutup kegiatan belajar hari ini.
Seluruh murid merapikan buku mereka dan beranjak meninggalkan kelas. Tapi tidak dengan Soo Yeong. Dia masih berdiam diri dibangkunya.
"Soo Yeong, kamu tidak pulang? " tanya Ye Joon.
Kini hanya tinggal mereka berdua tapi Soo Yeong tetap tak menggubris Ye Joon. Dia hanya melihat keluar jendela memperhatikan teman-temannya yang berhamburan meninggalkan sekolah.
"Soo Yeong?? " tanya Ye Joon lagi.
Dan tak digubris lagi.
"Baiklah. Aku pulang dulu. Kamu sebaiknya segera pulang. Sudah mendung. Dahh.. " Ye Joon akhirnya pergi meninggalkan Soo Yeong sendiri.
Setelah lama duduk, Soo Yeong akhirnya beranjak pulang. Dia hanya menunggu hingga sekolah sepi. Dia sudah seperti itu setelah bertemu dengan Hyeon Ju tahun lalu.
- Tahun lalu -
Ketika pulang sekolah, Soo Yeong bergegas meninggalkan kelas karena sudah dijemput oleh ayahnya. Tapi ketika Dia berlari dilorong kelas tanpa sengaja Ia menabrak Hyeon Ju yang juga sedang berjalan disana.
"Maafkan aku Hyeon Ju. " kata Soo Yeong.
Tapi Hyeon Ju hanya menatapnya dengan tatapan merendahkan dan pergi begitu saja.
"Hyeon Ju........ " Soo Yeong memanggilnya lagi.
Hyeon Ju kesal lalu berbalik mengampiri Soo Yeong.
"Apa? Kau mau apa? " tanyanya ketus.
"Aku hanya ingin meminta maaf saja apa tidak boleh? " suara Soo Yeong bergetar.
"Tidak akan kumaafkan. " jawab Hyeon Ju singkat.
"Ta-tapi kenapa? " kini Soo Yeong mulai berkaca-kaca karena tak menyangka sepupu yang juga teman baiknya itu kini menatapnya dengan tatapan sangat marah. Dulu Dia tak seperti itu, Dia baik dan juga perhatian padanya tapi kini semua sifat manis Hyeon Ju hilang. Yang tersisa adalah Hyeon Ju yang selalu kasar dan benci padanya.
"Aku membencimu. ! Aku tak suka jika kamu berada didekatku. Soo Yeong, jangan lupa gara-gara kamu ibuku meninggal. Ingatlah kau pembunuh ibuku. Jadi kumohon menjauhlah dariku, aku tak mau melihatmu lagi. " jawab Hyeon Ju sambil pergi meninggalkan Soo Yeong.
Kaki Soo Yeong lemas dan terjatuh. Semua yang Hyeon Ju katakan sungguh menyakiti hatinya. Dan kini Ia tak mampu lagi membendung air matanya yang sejak tadi Ia tahan.
Dia menangis sendirian dilorong dingin itu tanpa ada yang menghibur. Hatinya begitu sakit. Dan ketika ingatan tentang penculikannya dulu datang tangisnya semakin parah. Dia menjadi ketakutan dan tak bisa mengendalikan diri.
Ayah Soo Yeong khawatir karena anaknya tak kunjung terlihat dan Dia memutuskan untuk menyusul Soo Yeong kekelas.
Begitu terkejutnya ayah Soo Yeong yang menemukan anaknya menangis histeris, sendirian dilantai. Ia paham karena ketika dirumah, Soo Yeong seperti itu saat kambuh.
"Soo Yeong, tenanglah. Ini Papa, kamu sudah aman bersama papa. " Ayah Soo Yeong memeluknya sambil mengelus lembut punggung Soo Yeong. Begitulah caranya menenangkan Soo Yeong ketika penyakitnya kambuh.
Kejadian itu membuat Soo Yeong sangat terpukul dan absen dari sekolah selama beberapa hari karena sering kambuh dan ketakutan.
Dan karena itu lah kini Soo Yeong menjadi sangat pendiam dan selalu berusaha menghindar dari Hyeon Ju. Dia selalu menunggu hingga sekolah sepi dan memastikan Hyeon Ju benar-benar sudah pulang. Dia takut bertemu dengannya. Sangat takut.