Could It Be You?

Could It Be You?
4. Lebih Baik


Gangguan mental yang Soo Yeong derita bukan lah tanpa alasan. Penculikan yang menimpanya dulu, sangat berpengaruh pada kesehatan psikisnya. Bahkan jika orang dewasa yang mengalami, pasti akan merasa trauma. Dan pada saat itu Soo Yeong masih belasan tahun. Jadi bisa dimengerti kenapa dia seperti ini.


Hyeon Ju memiliki peran penting dalam kehidupan Soo Yeong kecil. Yaa.. Mereka dekat. Soo Yeong juga lebih bergantung padanya. Jadi wajar, jika Hyeon Ju bersikap seperti itu mampu membuat hati Soo Yeong benar-benar sakit dan membawa kembali traumanya dulu.


Karena kejadian kemarin Soo Yeong terpakasa tidak berangkat sekolah selama beberapa hari.


"Soo Yeong, apa yang terjadi padamu? Kenapa sampai 2 hari tidak masuk. Aku merindukanmu. " ucap Ye Joon khawatir.


"Terjadi sesuatu. Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa. Kau khawatir padaku? " kata Soo Yeong sambil meletakkan tas ditempatnya.


"Tentu saja aku khawatir. Kamu bahkan tidak memberitahuku kabarmu! " jawab Ye Joon meninggi.


"Terimakasih sudah khawatir padaku, Ye Joon. " ujar Soo Yeong sembari tersenyum manis.


Melihat Soo Yeong yang tersenyum, Ye Joon tak mampu berkata apapun lagi. Bibirnya kelu dan Dia memilih menikmati setiap detik yang Ia habiskan untuk memandang wanita dihadapannya. Soo Yeong tampak sangat cantik.


kring kring


Suara bel membuyarkan dunia fantasi Ye Joon, Dia terkejut dan buru-buru duduk dibangkunya. Terlihat jelas kecanggunggan menyelimuti Ye Joon. Hahaha.


Hari-hari Soo Yeong semakin berbeda. Dia kini terlihat seperti gadis SMA biasanya. Semenjak Ye Joon hadir, Soo Yeong sering tersenyum bahkan tertawa. Sesuatu yang selama ini jarang terlihat.


Hyeon Ju menatap mereka dari kejauhan.


"Syukurlah kamu sudah baik-baik saja. " ucapnya lirih.


Sebenarnya selama beberapa hari ini Hyeon Ju sering memperhatikan Soo Yeong. Dia merasa bersalah atas ucapannya kemarin dan juga tahun lalu. Kini Dia sadar bahwa, perlakuannya pada Soo Yeong sudah sangat berlebihan dan menerima kematian ibunya adalah sebuah takdir.


Ia ingin sekali menghampiri Soo Yeong dan memeluknya sebagai tanda permintaan maaf. Tapi pantaskah Dia? Sebagian besar yang Soo Yeong alami adalah karena kesalahannya. Dia merasa harus bertanggung jawab.


Tapi, semua itu sulit. Entah dari mana Ia harus memulainya.


-


"Soo Yeong-ah? " panggil Ye Joon.


"mm? " jawab Soo Yeong.


"08123xxxxxxx, simpan nomorku. Hubungi aku ketika terjadi sesuatu padamu. Dan jika kamu membutuhkan teman, aku akan datang. " kata Ye Joon.


"hmm. Tiba-tiba begini? Tapi baiklah. " Soo Yeong meyimpannya dan mereka saling bertukar nomor.


"Berjanjilah, kau tidak adan membiarkanku kebingungan mencari kabar tentangmu. " pinta Ye Joon.


"Iyaa. Aku janji. "


mereka pun mengikrarkan janji pertama mereka.


Setiap hari, psikis Soo Yeong mengalami kemajuan. Dia merasa lebih baik dan juga tampak ceria. Bahkan kini lebih banyak bicara.


Orang tua Soo Yeong tentu bahagia dengan hal itu. Sejak awal mereka selalu berharap trauma Soo Yeong akan membaik dan Dia menjadi seperti gadis pada umumnya. Kini harapan mereka sedikit demi sedikit mulai terlihat.


Semua itu berkat Ye Joon. Dia mampu menjadi sosok yang Soo Yeong butuhkan. Dia juga selalu berada disampingnya.


"Soo Yeong, bagaimana kalau hari ini aku antar pulang. " kata Ye Joon.


"Berjalan kaki? Pasti sangat jauh. " Soo Yeong merajuk.


"Kan aku bawa motor." ucap Ye Joon.


"hmm. OK. Aku bilang Papa dulu agar tidak perlu menjemputku. "


Merekapun pulang bersama.


Lengan Soo Yeong melingkar kuat di pinggang Ye Joon.


Ye Joon tersenyum.


Menaiki sepeda motor berdua dan berkeliling jalanan kota S adalah hal yang romantis. Mereka sangat menikmati momen-momen manis seperti ini.


Lalu mereka berhenti disebuah taman.


"Mampir sebentar. Aku ingin mengobrol. " jawab Ye Joon sambil mencopot helm dikepalanya.


"........" Soo Yeong menuruti tanpa menjawab.


"Apa rencanamu saat liburan? " Ye Joon bertanya lagi.


"Papa mengajakku piknik keluarga. Kalau kamu? " jawab Soo Yeong.


"Piknik? Apa aku boleh ikut? " pinta Ye Joon.


"Aku sih boleh. Tapi tidak tau bagaimana Papa dan yang lainnya. Soalnya ini adalah piknik keluargaku dan keluarga Hyeon Ju. " Soo Yeong merasa bersalah karena tidak bisa menjawab secara langsung.


"Hyeon Ju? " Ye Joon tidak mengenal nama itu.


"Iya. Sepupuku. "


"Sepupumu yang kemarin? "


Soo Yeong mengangguk dan Ye Joon berpikir dalam diam.


Setelah berpikir cukup lama, Ye Joon meminta lagi untuk ikut piknik dengan Soo Yeong. Dia pasti khawatir setelah melihat Soo Yeong menjadi ketakutan ketika melihat Hyeon Ju waktu itu. Dia ingin melindunginya.


"Tapi kalau kamu ikut aku, bagaimana dengan Orang tuamu? Mereka pasti akan kesepian. " Soo Yeong menjadi emosional.


"Yak. Aku yang selama ini kesepian. Mereka tak pernah meluangkan waktu untukku. Yang ada dipikiran mereka hanya kerja dan uang. Lagi pula aku setiap hari sendirian dirumah,dan merasa kesepian. Tapi mereka tak pernah peduli." Ye Joo menjadi kesal ketika mengingat orang tuanya.


"Baiklah. Aku akan coba membujuk Papa. " Soo Yeong merasa kasian pada Ye Joon.


"Yeah. Ayo aku antar pulang. Sudah Sore. " ajak Ye Joo bersemangat.


Soo Yeong naik ke atas motor dan melingkarkan kembali lengannya ke pinggang Ye Joon. Motorpun melaju pergi.


Ye Joon sengaja melajukan motornya pelan, Dia ingin menikmati momen manis itu walau hanya sebentar. Soo Yeong juga menyukainya, ketika ada angin yang menerpa wajah cantiknya membuat Soo Yeong semakin menikmati.


-


"Apa ini rumahmu? " tanya Ye Joon sambil menunjuk sebuah rumah bercat putih tulang dengan sepetak taman kecil dipekarangannya.


"Iya. Mau masuk sebentar? " ajak Soo Yeong.


"Lain kali saja. Yang penting aku sudah tau rumahmu sekarang. Aku akan berkunjung lain kali. " mereka sungguh tak bisa berhenti tersenyum sekarang.


"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati dijalan ya. " ucap Soo Yeong.


"Tak perlu khawatir Soo Yeong. Oh iya, jangan lupa memberiku kabar baik yaa. Aku pergi dulu. Dahh. " Ye Joon melajukan motornya pergi. Dan ketika motor Ye Joon tak terlihat, Soo Yeong masuk ke rumahnya.


Setelah masuk Ia dihadapkan dengan orang tuanya yang sedang berdiri sambil bersedekap dan menatapnya curiga.


"Apa karena lelaki tadi kamu tak mau Papa jemput.? " Papa Soo Yeong menginterogasi.


"Kemana saja kok sampai sore begini? " Mama Soo Yeong menambahi.


"Kenapa Pa, Ma? " jawabnya takut-takut.


Kedua orang tua Soo Yeong diam dan saling memandang sebentar, tapi disisi lain, Soo Yeong takut jika dimarahi.


Lalu mereka tersenyum lebar dan memeluk Soo Yeong bersama.


"Ada apa sih? " tanyanya sambil mencoba melepaskan diri.


"Mama senang kini kamu punya teman, Sayang. " mamanya mulai bicara


Soo Yeong tak lagi memberontak.


"Iya, Papa juga. Bertemanlah dengan banyak orang. Jadilah gadis yang bahagia. Kami merindukan keceriaanmu dulu." Papa Soo Yeong mulai tak mampu lagi menahan air matanya.


Mereka sangat menyayangi Soo Yeong. Amat sangat.