Could It Be You?

Could It Be You?
32. Jelas


“Aku ingin pulang.” Soo yeong benar-benar kalut sekarang.


“Oh? Baiklah, tapi kita harus menunggu bus berikutnya. Tidak apa-apa kan?” kata Hyeon Ju seraya menenangkannya.


“Aku bisa mengantar mu dengan motorku.” Ye Joon menawarkan diri.


“Tidak Ye Joon, terimakasih. Tapi aku akan menunggu bus berikutnya dengan Hyeon Ju. Kamu pulang saja dulu.” Soo Yeong menolaknya. Memang Ia merasa sedikit bisa mempercayai Ye Joon, tapi tetap saja sulit jika harus percaya sepenuhnya.


“Baiklah, aku juga akan menunggu bus bersamamu. Akan ku temani kamu pulang. Walaupun sudah ada Hyeon Ju, aku akan tetap mengantarmu.” Ye Joon tetap khawatir walaupun sudah ada Hyeon Ju yang menemani Soo Yeong. Oleh karena itu, Ia memutuskan untuk tetap mengantarnya pulang.


Setelah sekitar 20 menit menunggu, akhirnya bus datang. Mereka pun bergegas naik. Mereka bertiga duduk berjejer dikursi paling belakang.


“Soo Yeong kamu masih marah padaku?” tanya Ye Joon, Dia masih merasa bersalah karena sedari tadi Soo Yeong diam tidak berkata apapun.


Lalu Soo Yeong menggeleng pelan.


Tidak lama, akhirnya mereka sampai dihalte tujuan. Ye Joon berjalan lemas mnegikuti Soo Yeong dan Hyeon ju dari berlakang. Lalu setelah tiba Hyeon ju langsung masuk kedalam rumah meninggalkan mereka berdua. Sudah terbukti kalau Ye Joon tidak mengenal lelaki yang mengganggu Soo Yeong, maka dari itu Hyeon Ju tidak begitu khawatir.


“Soo Yeong, kamu benar-benar sudah tidak marah padaku? Aku benar-benar minta maaf soal kejadian disekolah tadi. Aku tidak ber.....” ucapan Ye Joon terhenti karena Soo Yeong menyelanya.


“Iya, aku sudah tidak marah padamu. Aku serius, tapi walaupun kamu bilang kalau aku terkadang bersikap menyebalkan aku akan tetap seperti itu. Maaf jika aku tidak ingin memperbaikinya.” Ujar Soo Yeong.


“Iya. Aku tidak masalah.” Kata Ye Joon sambil mengangguk bersemangat. Terpancar sudah senyuman diwajahnya yang sedari tadi tidak ingin muncul.


“Oh, ada Ye Joon disini. Apa kamu mengantar Soo Yeong pulang?” kata Mama Soo Yeong sesaat setelah melihat Ye Joon berada didepan gerbang rumah.


“Eh, iya tante.” Jawab Ye Joon sopan.


“Ya sudah, ayo masuk dulu. Akan tante buatkan jus jeruk untukmu, jalan dari halte kesini cukup jauh.” Tawar Mama Soo Yeong.


Ye Joon pun menurut dan mereka bertiga masuk ke dalam rumah.


“Sayang, ada paket lagi untukmu. Mama heran, kenapa kamu sering mendapat kiriman paket akhir-akhir ini? “ ujar Mama Soo Yeong padanya yang sudah menaiki tangga, lalu mempersilahkan Ye Joon duduk.


Mendengar ucapan Mamanya barusan, kaki Soo Yeong rasanya berat sekali berjalan menuju kamarnya. Dia merasa gugup dan juga khawatir. Bisa ditebaknya isi dari paket itu akan sama dengan paket-paket sebelumnya.


Setelah Soo Yeong memasuki kamarnya, Ia bisa melihat kotak dengan kemasan yang sama persis dengan paket yang kemarin tergeletak dikasurnya. Tas sekolah yang tadi digendongnya kini Ia letakkan dimeja belajar dekat kasur. Perlahan Ia mengambil kotak itu dan berniat membukanya.


Walaupun sudah pasti ada perasaan ragu yang menyelimuti hatinya, tapi Soo Yeong tetap mengumpulkan keberanian dan membuka kotak itu. Perlahan Ia merobek kertas bergambar kartun doraemon dan menyisakan kotak coklat.


Mata Soo terbelalak lebar melihat isi kotak yang Ia terima. Rasa takutnya seketika datang dan membuatnya diam tidak berkutik. Ia hanya bisa menangis ketika emosinya yang tidak bisa dikendalikan. Lalu melempar kotak itu kuat-kuat hingga isinya betaburan keluar.


-


“Om, belum pulang tante?” tanya Ye Joon sedikit canggung untuk membuka obrolan.


Disela-sela obrolan mereka berdua, terdengar suara seperti benda terjatuh dari kamar Soo Yeong.


“Sayang, kamu menjatuh apa?” teriak Mama Soo Yeong karena kamarnya berada dilantai atas. Tapi hening tidak ada jawaban. Aneh, Soo Yeong tidak biasa seperti ini.


“Sayang?” panggilnya lagi.


Lalu karena khawatir, Dia bergegas menuju kamar Soo Yeong untuk memastikan keadaannya. Ye Joon yang juga khawatir ikut memastikan keadaan.


Tok Tok Tok


Mamanya mengetuk pintu kamar Soo Yeong seraya meminta izin masuk. Tapi tidak ada jawaban, hanya terdengar isak tangis yang berasal dari dalam ruangan. Dan karena kelewat khawatir, ia lalu membuka kamar itu walaupun tanpa izin sang pemilik.


Terlihat disana Soo Yeong sedang menangis histeris dan meringkuk ketakutan didekat kasur miliknya. Dibalik pintu, terdapat kotak yang sudah terbuka tidak beraturan dan juga beberapa foto Soo Yeong saat Ia diculik dulu. Seketika Mamanya menghampirinya dan memeluk Soo Yeong erat seraya menenangkan.


Ye Joon yang masih berada diambang pintu mengambil foto-foto itu dan mengamatinya seksama. Dan tidak lupa mengamati kotak-kotak itu, siapa tahu ada petunjuk siapa yang mengirimnya.


“Siapa kamu sebenarnya.” Gumam Ye Joon pelan karena tidak mendapatkan info apapun. Ia merasa kesal karena selama ini Dia sudah cukup berhasil membuat Soo Yeong menjadi lebih baik, tapi kini hancur berantakan gara-gara orang yang Ia tidak tahu siapa.


Diremasnya foto-foto itu untuk melampiaskan kemarahannya.


“Ye Joon bisa kesini sebentar dan tenangkan Soo Yeong? Tante akan mengambilkan obatnya sebentar dibawah.”


Dengan cepat Ye Joon mendekat kearah Soo Yeong yang masih menangis histeris. Hatinya ikut hancur melihat kekasihnya seperti ini hingga tidak Ia sadar air matanya ikut mengalir membasahi pipinya.


“Tidak apa-apa. Aku disini denganmu, aku akan menjagamu. Jangan khawatir.” Ucapnya lembut agar Soo Yeong bisa lebih tenang lalu memeluknya dengan hangat.


Ia teruuus mengucapkan kalimat tadi sebagai penenang tapi tidak semudah itu. Walaupun Soo Yeong membalas pelukkannya, kekasihnya itu masih merasa ketakutan.


“Kamu percaya padaku kan? Aku kan melindungimu, tenanglah dan berhenti menangis. Aku tidak ingin melihatmu seperti ini.” Bisik Ye Joon tepat ditelinga Soo Yeong.


Pelan-pelan Soo Yeong merasa lebih tenang hingga berhenti menangis walaupun masih sesenggukan. Selang beberapa saat Mamanya datang dan membawa segelas air putih dan beberapa tablet obat penenang.


“Soo Yeong, minum ini dulu.” Ucap Mamanya seraya menyodorkan gelas dan beberapa obat. Dan Ye Joon juga membantu Soo Yeong meminum obatnya. Lalu membopong Soo Yeong ketempat tidur.


Soo Yeong menggenggam erat tangan Ye Joon dan enggan melepasnya. Ia merasa aman ketika Ye Joon ada disampingnya, walaupun ada sang mama. Tapi Ia merasa tidak bisa mendapat perlindungan dari mamanya. Hanya Ye Joon yang bisa.


“Apa aku tidak boleh pulang?” tanya Ye Joon sembari mengelus kepala Soo Yeong.


Soo Yeong membalas dengan anggukan.


“Tapi, orang tua Ye Joon pasti akan khawatir. Kan ada Mama disini, mama akan melindungimu. Mama Janji. Lagipula sebentar lagi Papa akan pulang, jadi jangan khawatir.” Bujuk Mamanya tapi tetap saja Soo Yeong menolaknya.