
Ye Joon terdiam sejenak mendengar permintaan Yu Ri barusan. Dulu, Dia tidak sampai menunggu hingga Yu Ri meminta tapi sudah berinisiatif sejak awal untuk mengantarnya pulang. Tapi sekarang terasa aneh baginya. Memang kepergian Yu Ri tidak sampai bertahun-tahun, mungkin hanya satu tahun. Tapi diwaktu singkat tersebut mampu merubah perasaan Ye Joon. Sama halnya dengan Yu Ri dulu, teman-teman Ye Joon yang sekarang juga pada awalnya berusaha keras mendekatinya.Tapi bedanya, Chan Sik dan kawan-kawan mengajari Ye Joon untuk berteman lebih banyak orang. Sedangkan Yu Ri malah semakin menutup jalan padanya untuk melihat dunia luar. Hanya karena perasaan pribadinya pada Ye Joon,Dia ingin membuat Ye Joon membutuhkannya dan menatap hanya padanya.
"Kenapa diam Ye Joon. Kamu tidak mau mengantarku pulang? Benarkan kamu sedang menunggu orang lain disini? Siapa? Katakan padaku!! " ucap Yu Ri keras sambil beranjak dari kursi ayunan yang tadi Ia duduki.
"Bukan begitu. Memang tadi apa yang membawamu kesini? Lalu dengan apa? " Ye Joon terus menutupi kenyataannya.
"Aku tadi melihatmu berkumpul dengan Chan Sik dan yang lainnya. Lalu mengikutimu kemari dengan taksi. Mengamatimu bermain dari ujung jalan sana dan menghampirimu ketika sudah selesai. Begitu. " jelas Yu Ri.
"Antar aku pulang ya Ye Joon. Biasanya kamu tidak akan menolak permintaanku. " tambahnya lagi.
"Baik. Baiklah. Ayo aku antar pulang. " kata Ye Joon seraya berdiri dan berjalan menuju motornya. Disempatkannya juga untuk mengirim pesan pada Soo Yeong agar tidak perlu kesini. Tapi belum selesai Ia mengetik pesannya, Yu Ri tiba-tiba menghampirinya dan memeluk Ye Joon dari belakang. Ia sontak kaget.
"Sedang menulis apa? " tanya Yu Ri lagi. Ye Joon cepat-cepat memasukkan lagi ponselnya kedalam saku celananya. Padahal belum sempat Ia mengirim pesan itu. Tapi Dia sudah terdesak akan kelakuan Yu Ri dan tidak bisa apa-apa lagi.
Ye Joon melajukan motornya sedikit kencang agar lebih cepat sampai tujuan dan kembali lagi ke taman tadi.
"Ye Joon. Pelan sedikit. Aku takut. " pinta Yu Ri. Dan Ye Joon hanya bisa menuruti tanpa protes lalu mengurangi kecepatan motornya.
-
Soo Yeong mengintip dari jendela, melihat apakah Papanya masih disana atau tidak. Dan masih disana.
Ia menunggu sedikit lama tapi mereka tak kunjung pergi. Lalu Soo Yeong menyerah dan memutuskan untuk meminta ijin keluar.
"huhh. " helaan nafas Soo Yeong sengaja diperjelas.
"Kenapa Soo Yeong? " tanya Papanya.
"Oh. Papa masih disini, Paman juga. Aku penat sekali Pa, belajar. Ada soal yang sulit aku pecahkan. Rasanya butuh udara segar agar aku bisa berpikir lebih jernih. Apa aku boleh keluar sebentar Pa? Hanya sampai taman didepan saja. " Soo Yeong mencoba membuat alasan agar Papanya percaya. Padahal itu semua hanyalah kebohongan semata.
"Iya. Tapi hati-hati, dan juga jangan lama-lama. Ini sudah malam. " Papa Soo Yeong mengijinkan.
"Oke Pa. Makasih. " jawab Soo Yeong ceria dan langsung berlari menuju taman.
Hyeon Ju yang tadinya hanya memperhatikan dari balik pagar rumah mulai mendekat kearah Ayahnya dan juga Pamannya.
"Paman Jin Tae, Soo Yeong mau kemana malam-malam begini? "tanya Hyeon Ju pada Papanya Soo Yeong.
"Oh. Tadi katanya mau mencari udara segar sebentar. Soo Yeong bilang ingin ke taman depan komplek. " jawab Jin Tae. Iya, Kim Jin Tae, nama Papanya Soo Yeong.
"Hyeon Ju, susulah Soo Yeong dan temani Dia sebentar. Kasian malam-malam sendirian. "tambah Ayahnya.
"Baik, Ayah. " Hyeon Jupun berjalan menuju taman menyusul Soo Yeong.
-
Nafas Soo Yeong sedikit ngos-ngosan setelah berlari dari rumahnya. Tapi saat sudah sampai ditaman, tidak ada orang disana. Soo Yeong mengecek ponselnya, apakah Ye Joon mengabari lagi atau tidak. Tapi ternyata tidak dan Ia mencoba mengirimi Ye Joon pesan.
"Aku akan menunggu. Cepatlah datang. " Soo Yeong mengira Ye Joon sedang dalam perjalanan dan Ia memilih untuk duduk diayunan dan menunggunya.
Ketika Soo Yeong sendirian disana, memori saat Ye Joon menyatakan perasaan padanya tiba-tiba datang. Ayunan itu, yang saat ini Soo Yeong duduki adalah saksi bisu kejadian itu. Semakin jelas ingatan itu, semakin lebar pula senyum di wajahnya.
"Sedang apa disini? " Hyeon Ju tiba-tiba datang. Perkataan itu sontak membuat Soo Yeong terkejut.
"Sedang memikirkan apa? " tambah Hyeon Ju lagi.
"Ah. Kamu ini tiba-tiba datang. Membuatku kaget saja. " protes Soo Yeong seraya memegang dadanya karena kaget.
"Kamu ini ditanya malah balik nanya. " Hyeon Ju mendekat dan duduk dikursi ayunan sebelah Soo Yeong.
"mm. Aku hanya sedang penat saja. Dan ingin mencari udara segar. " jawab Soo Yeong. Dia sedikit gelagatan.
"Kamu yakin? Tapi menurut feeling ku tidak seperti itu. " Hyeon Ju menyadari gelagat aneh Soo Yeong dan mendesaknya agar berkata jujur. Sedikit banyak Hyeon Ju sudah paham betul bagaimana sifat Soo Yeong. Ia bisa tau kapan Soo Yeong berbohong atau tidak.
"Tentu saja. " ucap Soo Yeong mencoba meyakinkan.
"Benarkah? " Hyeon Ju membalik badan dan menatap Soo Yeong lebih lekat. Seperti sedang menghipnotis.
"Hah. Iya. Iya. Aku kalah. " Soo Yeong menyerah. Ia tidak bisa berbohong lebih lagi pada Hyeon Ju karena tatapannya sungguh membuatnya tidak sanggup berbohong lagi.
"Tadi Ye Joon meminta untuk bertemu disini. Tapi setelah aku datang tidak ada seorangpun. Jadi aku menunggunya. " tambah Soo Yeong.
Hyeon Ju menghela nafas panjang.
"Sudah coba menghubungi Ye Joon belum? " tanya Hyeon Ju. Ia terlihat sedikit kesal.
"Sudah. Aku mengiriminya beberapa pesan. Tapi tak kunjung dibalas. Aku pikir Dia sedang dalam perjalanan, tapi kok tidak sampai-sampai dari tadi. " Soo Yeong menjelaskan situasi.
"Tadi Dia bilang tidak kalau sedang dalam perjalanan. " tanya Hyeon Ju lagi.
"Sebenarnya tidak. Tadi Ye Joon bilang Dia sudah disini. Soal Ye Joon sedang dalam perjalanan, itu hanya asumsiku saja. " ujar Soo Yeong. Kini Dia terlihat sedih karena Ye Joon tak kunjung datang.
"Huh. " Hyeon Ju menghela nafas lagi. Sepertinya Dia semakin kesal. Matanya memejam seakan sedang mereda emosinya.
"Hyeon Ju, kenapa? Kenapa wajahmu memerah? "tanya Soo Yeong. Benar. Hyeon Ju terlihat begitu kesal.
Hyeon Ju memejamkan matanya dan menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.
"Ayo pulang saja! " ajak Hyeon Ju tiba-tiba. Ia berdiri dan sedikit menarik Soo Yeong agar mengikutinya.
"Tunggu sebentar saja. Kalau Ye Joon tiba-tiba datang bagaimana? " pinta Soo Yeong pada Hyeon Ju. Tapi Hyeon Ju masih menatapnya datar seolah tidak menerima pendapat Soo Yeong.
"Oke. 5 menit saja. Kita tunggu 5 menit. Ya? " pinta Soo Yeong lagi.