
Ye Joon mengendarai motornya pelan menuju rumah. Suasana hatinya sedang bagus makanya sepanjang perjalanan senyuman yang sedari tadi terukir tak luntur sedikitpun. Moment bersama Soo Yeong kemarin membuatnya senang luar biasa.
"Aku mulai merindukannya lagi. " ucap Ye Joon.
-
Sesampainya dirumah, Ia disambut dengan tatapan introgasi orang tuanya.
"Dari mana saja? Sampai beberapa hari tidak pulang kerumah? Bagus ya? Sekarang sikapmu benar-benar tidak tahu aturan. " Ayah Ye Joon memarahi.
"Bukannya kemarin aku sudah mengirimi kalian pesan kalau selama liburan aku ikut piknik dengan keluarga temanku? Pantas saja tidak ada balasan. Rupanya di baca saja tidak. " jawab Ye Joon tak kalah marah.
"Kamu ini, dibilangin orang tua kok jawab terus. Mau jadi apa kalau besar nanti. Harusnya kamu itu belajar, supaya bisa lebih pantas ketika meneruskan perusahaan Ayah. " teriak Ayah Ye Joon. Disana juga ada Ibunya Ye Joon. Tapi Dia tak jauh beda dengan sang Ayah. Sama saja, terus memikirkan uang dan pekerjaan. Makanya tak terdengar satu katapun yang Ia ucapkan untuk membela Ye Joon.
"Yang pasti tidak seperti Ayah. Aku akan mencurahkan kasih sayang sebanyak yang aku bisa untuk anakku nanti. Apa ayah tau? Aku itu tidak butuh uang kalian. Tapi waktu kalian, paling tidak Ayah dan Ibu sedikit saja penasaran dengan keadaanku. " kata Ye Joon membela diri. Tak ada satupun orang yang bisa mengerti Dia. Memang, Dia terus mencoba meyakinkan hatinya untuk berada disudut pandang yang berbeda, seperti perkataan Soo Yeong kemarin. Tapi nyatanya sangat sulit. Emosi yang terbangun tidak bisa diredamkan dengan mudah.
Ye Joon berlalu, meninggalkan mereka yang masih terpaku karena jawaban Ye Joon barusan. Pasalnya, selama ini Dia hanya terus menuruti kemauan orang tuanya. Disuruh A, dijalankan. Tidak boleh B, dituruti. Seperti itu, namun sekarang sepertinya Ye Joon mulai lelah.
Ye Joon memasuki kamar dan menutup pintunyan keras.
Apa kedua orang tuanya sedang berpikir tentang kesalahan mereka selama ini? Entahlah. Tapi, rasanya tidak semudah itu.
"Hah. Mereka menyebalkan. Mengapa setiap hari bisa semenyebalkan itu?" kata Ye Joon pada dirinya sendiri.
Ia menjatuhkan tubuhnya yang lumayan lelah keatas kasur empuk miliknya. Rasanya nyaman sekali. Pada saat seperti ini, Dia ingin mengingat-ingat momentnya bersama Soo Yeong kemarin. Tapi mood Ye Joon sudah hancur karena orang tuanya.
Karena bosan harus ngapain, Ye Joon memutuskan untuk mengirim pesan pada Soo Yeong. Ia mencari-cari ponselnya.
"Soo Yeong sedang apa? " tulisnya sebuah pesan dan mengirimnya.
Tapi cukup lama, pesannya tidak kunjung di baca. Apalagi dibalas. Ye Joon menjadi sangat bosan.
Trriring
Ponsel Ye Joon berbunyi dan dengan semangat Ia membuka pesan yang masuk. Tapi tak sesuai dengan harapan. Bukanlah pesan dari Soo Yeong, melainkan Chan Sik teman lamanya.
"Hei, Ye Joon bagaimana kabarmu. Kamu seperti menghilang, tidak memberi kabar setelah pindah sekolah. Apa kamu tidak merindukan kami? " bunyi pesan itu.
"Tentu aku merindukan kalian. Ayo kita ketemuan, aku bosan sekali dirumah. " balas Ye Joon.
"Apa orang tua mu mengijinkan? Tidak masalah? " balas Chan Sik.
"Sudahlah. Aku sedang malas berdebat. Kalian dimana, aku akan kesana."
"Ya sudah. Kemarilah. Ditaman biasa. Kebetulan kami bertiga sedang berkumpul disini. "
"OK. Aku jalan sekarang. " Ye Joon beranjak dari kasurnya dan berlalu pergi. Tidak lupa menyabet jaket terdekatnya dan kunci motor.
Ketika hendak melewati ruang tengah, Ia masih mendapati kedua orang tuanya yang sedang duduk disana. Tapi Ia sedang malas untuk beragumen lagi dengan orang tuanya dan memilih untuk pergi tanpa berpamitan.
"Mau kemana lagi kamu? " tanya Ayah Ye Joon yang sukses menghentikan langkah kakinya.
"Ayah mu bertanya kamu mau kemana Ye Joon. Kenapa tidak dijawab. " Ibu Ye Joon menambahi.
Ye Joon berbalik dan menjawab kesal.
"Bertemu dengan teman-teman lamaku. Bisa kutebak kalian tidak akan mengijinkan. Kan kalian pikir merekalah yang mempengaruhiku. "
"Kalau sudah tau ya cepat kembali kekamarmu. Belajar saja sana. "perintah Ayah Ye Joon.
"Tidak. Aku akan tetap pergi. Mereka sudah menungguku. Lagi pula apa kalian pernah mengubah sudut pandang kalian dalam memahami hal ini? Pernah berpikir tidak kalau aku seperti ini karena kalian tidak pernah menyempatkan diri untuk lebih mengerti aku. Seperti yang temanku katakan, Aku akan belajar untuk mengerti kalian. Tapi itu juga tergantung. " ujar Ye Joon dan bergegas pergi. Orang tua Ye Joon masih saja bingung dengan kelakuan anaknya. Hari ini mereka kalah telak.
-
Ye Joo melajukan motornya pergi, hatinya masih saja kesal jika teringat orang tuanya. Setelah bekendara beberapa saat, Ia sampai ditujuan dan bertemu dengam teman-temannya. Chan Sik, Kyung Seok dan Rye Wok.
"Hai Ye Joon, lama tidak terlihat. Bagaimana kabarmu? " sapa Rye Wok. Temannya yang lain menyalaminya seperti Rye Wok.
"Bisa kalian lihat sendiri. Aku sehat. " jawab Ye Joon.
"Belum genap sebulan tapi rasanya sudah lama sekali ya kita tidak berkumpul disini? " ucap Kyung Seok.
"Hahaha. Benar" tambah Chan Sik.
Karena sudah lama tidak ketemu, mereka mengobrol dengan asiknya. Saling bertanya kabar dan hal-hal lainnya. Ye Joon bisa dibilang sangat dekat dengan mereka jadi obrolan mereka pasti nyambung.
"Eh iya Ye Joon. Kamu sudah tau kabar Yu Ri? " tanya Chan Sik tiba-tiba.
"Yu Ri? Cha Yu Ri? "Ye Joon memastikan.
"Tentu siapa lagi kalau bukan Dia. Tunggu sebentar, apa kamu sudah mulai bisa melupakannya?" Chan Sik menjadi penasaran.
"Jangan-jangan kamu sudah mempunyai kekasih disekolah barumu? "Kyung Seok menimpali. Rye Wok juga ikut penasaran. Mereka bertiga menatap Ye Joon, menunggunya memberi jawaban.
"haha. Sudahlah. " jawab Ye Joon yang tidak bisa menyembunyikan senyumannya.
"Wah. Dia tersenyum. Kurasa memang benar, kalau kamu sudah mempunyai kekasih lagi. Hm. Tapi memang bisa ketebak. Kamu tampan, pasti banyak sisiwi yang mengejar-ngejarmu. " ujar Rye Wok.
"Jangan membahasnya. Tadi apa maksudmu tentang kabar Yu Ri? " Ye Joon berusaha untuk tidak membahas Soo Yeong. Dia rasa belum waktunya.
"Masih penasaran tentang Yu Ri juga? Sepertinya kekasih barumu tidak sebanding dengan Yu Ri ya? Jadi sangat sulit untuk move on. " ejek Kyung Seok.
"Sudahlah. Jawab saja. Tidak perlu berbelit-belit. Suasana hatiku sedang tidak bagus nih. " Ye Joon mulai kesal.
"Ok. Dengarkan baik-baik ya. Tapi jangan terlalu terkejut. Siapkan hatimu juga. " Rye Wok seolah mempermainkan Ye Joon.
Tapi Ye Joon malah semakin kesal dan menatapnya marah. Dia tidak sedang dalam. kondisi yang bisa diajak bercanda.
"Baik. Baik lah. Biar aku saja yang bilang. Ye Joon, setelah kamu pindah sekolah. Beberapa hari setelahnya Yu Ri kembali lagi kesekolah. "