Could It Be You?

Could It Be You?
40. Good Day


Brug


Suara tubuh Rye Weok yang terjatuh karena pukulan diwajahnya. Melihat hal tersebut orang-orang yang Rye Weok bawa tidak tinggal diam. Mereka mulai mengeroyok Ye Joon. Ada yang memukul, menendang dan lainnya.


“Akh” ringis Ye Joon yang merasa kesakitan diseluruh tubuhnya.


“Aku sudah bilang tadi.” Rye Weok mulai bangun. Ia bersiap memberikan pukulan balasan diwajah Ye Joon tapi terhenti karena para penjaga mulai berdatangan.


“Siapa mereka semua?” Rye Weok kebingungan.


“Kamu yang bodoh karena menyerang diwilayahku.” Jawab Ye Joon santai.


Tak perlu waktu lama, orang-orang yang sepertinya para penjaga diarea itu mulai mengepung Rye Weok dan kawan-kawan.


Saat mereka ingin kabur, tidak berhasil karena jumlah mereka dengan para penjaga kalah telak. Porsi tubuh mereka juga kalah kuat. Jadi pilihan untuk kabur tidak akan berhasil. Para penjaga itu mulai menyerang dan melululantahkan pertahanan Rye Weok dan teman-temannya.


“Sudah. Biarkan saja mereka pergi.” Perintah Ye Joon saat Rye Weok terlihat babak belur.


“Baik.”


Karena merasa sudah dilepaskan Rye Weok tanpa fikir panjang langsung pergi dari tempat itu.


“Siapa yang mengirim kalian?” tanya Ye Joon pada penjaga itu karena penasaran.


“Tuan Han.”


“Ayah?” gumam Ye Joon pelan. Ia tidak menyangka Ayahnya akan mengirim mereka semua untuk membantunya. Mungkin inikah kesempatan kedua yang Ibunya bicarakan kemarin?. Mungkin.


Salah satu penjaga itu membantu Ye Joon berdiri dan membopongnya menuju rumah.


Sesampainya dirumah.


“Ohh, jadi mereka yang membuatmu babak belur kemarin? Bukankah salah satu dari mereka adalah teman lamamu?” tanya Ayah Ye Joon saat melihat anaknya sampai dirumah.


“Sudah lah. Harusnya obati dulu lukanya. Baru bertanya seperti itu.” Potong Ibu Ye Joon sambil meletakkan kotak P3K dimeja, lalu mulai mengobati luka-luka diwajah Ye Joon.


“Ayah, apa aku boleh minta bantuan padamu?” tanya Ye Joon disela-sela pengobatannya.


“Tentu saja boleh Ye Joon, kenapa pertanyaanmu seperti itu?” Ibu nya ikut menimpali.


“Tapi ayah tidak menjawab apa-apa.” Nada suara Ye Joon terlihat sedikit memaksa.


“Baik. Bantuan apa? Kita sudah memulainya bukan? Memulai semuanya dari awal agar hubungan kita menjadi lebih baik?”


Ye Joon mengangguk kuat.


“Aku butuh orang untuk melindungi salah satu temanku, Yah.” Ye Joon mengatakan keinginannya.


“Temanmu?” Ibu Ye Joon terus menimpali obrolan mereka.


“Siapa?” tanya Ayahnya.


“Namanya Kim Soo Yeong. Dia salah satu teman disekolah baruku. Akhir-akhir ini aku merasa khawatir padanya jika ada orang yang mengganggunya. Seperti orang-orang tadi. Bisa ?”


“Dia seorang wanita?” Ibu Ye Joon penasaran.


“Apa kalian akan terkejut jika aku bilang Soo Yeong adalah kekasihku?” Ye Joon mulai membuka diri pada orang tuanya.


Tentu saja mereka terkejut, bisa dilihat dari gelagat yang mereka buat seolah sangat terkejut karena anak semata wayang mereka sudah mulai mengenal cinta.


“Lalu Cha Yu Ri?” tanya Ibu Ye Joon karena tahu betul bagaimana hubungan mereka berdua.


“Ceritanya panjang, aku malas membicarakannya. Oh iya, orang yang harus dijauhkan dari Soo Yeong adalah Yu Ri. Aku tidak ingin Ia menyakiti Soo Yeong sedikitpun.”


“Baiklah. Ayah mengerti.”


“Terimkasih Yah.”


Setelah membuat kesepakatan dengan orang tuanya, Ye Joon bernajak dan berjalan menuju kamarnya untuk mengistirahatkan diri. Ia merasa sangat lelah.


-


Pagi, disekolah.


Sesuai jadwal, Soo Yeong sudah mulai masuk sekolah dan hal itu membuat Ye Joon semakin tenang. Karena Ia bisa mengawasi Soo Yeong lebih dekat.


“Kalau besok kita mengadakan belajar kelompok lagi, bagaimana?” ajaknya pada Ye Joon, Hyeon Ju, Jae Min dan Ra Yun yang sudah berkumpul.


Dan seperti yang diharapkan mereka semua setuju.


-


Terhitung 2 bulan mereka melakukan belajar kelompok dengan berjalan seminggu dua kali. Hal itu sudah sangat cukup untuk membuat mereka siap menghadapi tes.


“Soo Yeong, bagaimana kalau hari ini aku mengantarmu pulang? Tes sudah tinggal beberapa hari lagi, belajar kelompok juga sudah dibubarkan. Bagaimana?” ajak Ye Joon.


Soo Yeong mengiyakan dengan anggukan kepala.


Mereka lalu menaiki sepeda motor Ye Joon dan mengitari jalanan kota S untuk mengistirahatkan otak yang sudah diforsir selama 2 bulan penuh.


“Aku merindukan saat-saat seperti ini.” Ucap Soo Yeong sambil mengeratkan kalungan lengannya pada pinggang Ye Joon.


“Aku juga.”


Mereka terlihat begitu bahagia hanya dengan bersepeda mengelilingi jalanan. Rasanya jalanan itu hanya milik mereka berdua.


“Kita mampir ya,” ajak Ye Joon saat sampai ditaman dekat rumah Soo Yeong. Seperti biasa, mereka selalu menyempatkan diri untuk mampir ketempat penuh kenangan mereka berdua.


“Wahh..” Soo Yeong meresa senang saat memainkan ayunan yang ada ditaman itu. Ye Joon reflek mendorongnya dengan pelan. Hal sesederhana itu sudah sangat romantis untuk Soo Yeong.


“Kamu senang?” tanya Ye Joon tanpa menghentikan dorongannya.


“Tentu saja. Aku juga sudah mulai merindukan tempat ini. Kapan ya terakhir kali kita kesini?” Soo Yeong sesekali memalingkan wajahnya untuk melihat Ye Joon.


“Tentu saja sebelum kita benar-benar fokus dengan tes tes dan tes.”


“hahah. Kamu lucu sekali.” Terdengar kekehan Soo Yeong yang merasa senang hanya karena Ye Joo mengeluh tentang tes yang sudah dekat.


“Lucu dibagian mana?” Ye Joon berhenti mendorong ayunan itu.


“Disini.” Ucap Soo Yeong sambil menunjuk kearah bibir manyun Ye Joon.


“Kenapa berhenti? Dorong lagi dong.” Tambahnya.


“Hmm. Baiklah.”


Disaat seperti ini, Ye Joon terlihat sangat menyukai Soo Yeong. Senyum yang Ia buat terlihat tulus, tidak ada rasa khawatir lagi. Tentu saja karena penjagaan yang Ayah Ye Joon berikan sudah berhasil. Buktinya selama 2 bulan ini tidak hal yang mengganggu Soo Yeong dan juga dirinya. Hal itupun membuat hubungan Ye Joon dan orang tuanya semakin membaik.


“Bagaimana kalau kita pulang sekarang?” ajak Soo Yeong yang mulai bosan.


“Sekarang? Padahal aku masih rindu padamu. Aku ingin disini berdua denganmu lebih lama.” Ye Joon memanyunkan lagi bibirnya.


“Astaga. Manja sekali. Besok kita masih bisa bertemu.”


“Lalu apa besok aku juga bisa mengantarmu pulang lagi?” nada Ye Joon berubah menja seketika. Bahkan seperti sedang beraegyo.


“Hentikan.”


“Hentikan apa?”


“Jangan bersikap seperti itu !”


“Yang bagaimana?”


“Ihhhh. Yang seperti ini, yang sok manja dan memanyunkan bibirmu. Macam anak kecil saja.” Soo Yeong yang merasa semakin kesal mulai bangkit dari kursi ayunan dan berdiri dihadapan Ye Joon sambil berkacak pinggang.


“Hehehe. Apa aku semanis itu?” Ye Joon sangat percaya diri saat mengucapkannya.


Kini giliran Soo Yeong yang memanyunkan bibir saking kesalnya.


“huh.” Helaan nafasnya pelan namun terdengar oleh Ye Joon.


“Kamu cantik bahkan saat manyun.” Ye Joon menggodanya.


“Jangan mulai yaaa.”


“Tapi memang benar kok.”


Mendengar rayuan barusan wajah Soo Yeong berubah memerah. Ia lalu reflek menutup wajah dengan kedua telapak tangannya dan menunduk.


Ye Joon pun langsung menangkupkan tangannya dan mengangkat wajah Soo Yeong agar menatapnya.


Cup


Kecup Ye Joon singkat dibibir Soo Yeong saat Dia mulai membuka wajahnya.