Could It Be You?

Could It Be You?
34. Misi Rahasia


Pagi


“Hyeon Ju, Soo Yeong mana? Tidak berangkat bersamamu? Bagaimana bisa kamu meninggalkannya sendirian, kalau ada yang berniat menyakitinya bagaimana?” tanya Ye Joon padanya saat bertemu dihalaman sekolah.


“Oh, iya. Tadi malam Soo Yeong panas tinggi, sampai-sampai Bibi Su Ri khawatir dan meminta bantuan Ayahku. Jadi kemungkinan besar hari ini Dia tidak berangkat sekolah.” jawab Hyeon Ju.


“Panas tinggi? Semalam saat aku meninggalkannya Dia baik-baik saja kok. Lalu keadaanya sekarang bagaimana?” terlihat wajah Ye Joon yang menyemburatkan rasa khawatirnya.


“Entahlah. Tapi yang kudengar semalam Paman dan Bibi akan membawanya kerumah sakit dan menitipkan kunci rumah pada ayahku. Mungkin hampir dini hari tadi. Tapi sampai sekarang aku belum juga mendapat kabar apapun.” Hyeon Ju juga terlihat khawatir. Mereka berdua tahu betul bagaimana penyakit Soo Yeong, jadi mereka khawatir kalau penyakitnya akan kambuh lagi.


“Aku akan pergi.” Ye Joon yang bergegas pergi tiba-tiba dicegah oleh Hyeon Ju.


“Mau pergi kemana? Memang tahu dimana rumah sakit tempat Soo Yeong dirawat? Tidak kan, atau malah mau mengelilingi kota S untuk mencari rumah sakit itu? Tunggu saja sampai ayahku memberi kabar. Aku akan menghubungimu. Jangan khawatir.” Katanya.


“Tidak !!” Ye Joon menolak dengan tegas dan berusaha pergi dari rangkulan dilehernya.


“Menurut saja padaku dan kembalilah kekelas, aku janji akan menghubungimu saat Ayahku memberi kabar nanti.” Hyeon Ju memperlihatkan wajah seriusnya agar Ye Joon percaya dan tidak membangkang lagi.


“Huh...” helaan nafas keluar dari mulut Ye Joon dengan lemah. Dia menjadi tak bersemangat.


Hyeon Ju lalu mengajak Ye Joon pergi kekelas dengan merangkulnya. Lalu berpisah karena mereka berada dikelas yang berbeda. Baru saja Ye Joon berjalan beberapa langkah, Ia langsung kembali dan menemui Hyeon Ju.


“Jangan lupa menghubungku !!” katanya serius lalu beranjak pergi lagi. Dan Hyeon Ju hanya diam dan memandangnya heran.


Selama pelajaran belangsung, pikiran Ye Joon tidak diam ditempat. Otaknya terus berisi dengan kekhawatiran pada Soo Yeong. Rasa marahnya juga semakin mencampuri keributan didalam kepala Ye Joon.


Kriing kring kring


Bel tanda istirahatpun berbunyi dan membuat seluruh siswa berhamburan keluar. Begitupun Ye Joon, Dia langsung bergegas menemui Hyeon Ju.


“Hyeon Ju !!!!” teriaknya saat melihat Hyeon Ju berjalan cepat menuju kantin. Alhasil Dia langsung berhenti setelah seseorang meneriakkan namanya.


“Hmm. Ye Joon lagi.” Gumamnya pelan sambil menunggu.


“Kenapa?” tanyanya setealah Ye Joon sudah berada dihadapannya.


“Sudah mendapat kabar mengenai Soo Yeong?” tanya Ye Joon dengan nafas ngos-ngosan karena berlari saat menghampiri Hyeon Ju.


“Sudah. Tadi sebelum pelajaran dimulai Ayahku mengirim SMS kalau Soo Yeong dibawa keRumah Sakit SE.” Jawabnya.


“Sial, kenapa tidak menghubungiku sedari tadi. Aku malah membuang waktuku saat pelajaran tadi karena tidak bisa berkonsetrasi sedikitpun. Coba saja kau beri tahu aku lebih awal, aku pasti sudah bertemu dengan Soo Yeong sekarang.” Ocehnya dengan sedikit bercampur kesal lalu beranjak pergi lagi.


“Karena ini...” Hyeon Ju mencegahnya lagi. Kini rangkulannya berubah menjadi lebih kuat.


Terlihat Ye Joon yang kini kepalanya tertunduk malu mendengar penuturan Hyeon Ju barusan. Semua yang Ia dengar masuk akal. Dia pun merasa bodoh karena tidak memikirkan bagaiamana posisi Soo Yeong, Ia hanya egois memikirkan dirinya sendiri.


“Sudah jangan sedih, nanti pulang sekolah kita menjenguknya bersama. Dia pasti senang bertemu denganmu nanti.” Hyeon Ju mencoba menghibur sebisanya.


“Baiklah.” Jawabnya lesu.


Mereka berdua lantas berjalan bersama menuju kantin dan menyantap makan siang yang sudah disiapkan.


“Hyeon Ju, kamu tidak penasaran dengan apa yang menimpa Soo yeong akhir-akhir ini ?” tanya Ye joon disela-sela aktifitas mereka.


“Aku hanya tahu sebatas paket-paket yang Ia terima. Tapi tidak tahu apa isinya karena tidak ada yang memberitahuku. Memangnya apa yang terjadi ?” Hyeon Ju menjadi penasaran karena ucapan Ye Joon barusan.


“Paket pertama berisi tambang usang, paket kedua berisi potongan lakban yang juga sudah usang dan yang terakhir paling parah. Isinya adalah foto-foto Soo Yeong sewaktu kecil ketika Ia diculik dulu.” Kata Ye Joon sembari meremas sendoknya karena kesal.


“APA???” Hyeon Ju terkejut bukan main. Dia tidak berfikir hingga separah itu.


“Mungkinkah itu penyebabnya penyakit Soo Yeong kambuh? Sial, siapa yang melakukan hal kejam itu padanya?” tambahnya.


“Makanya aku tidak bisa fokus sedari tadi. Aku terus saja memikirkan siapa pelakunya dan mencoba menangkapnya hidup-hidup. Tapi kamu malah terlihat santai begini.” Ye Joon kini beralih mengacak-acak nasi dinampanmya.


“Jadi, kamu juga belum bisa mendapatkan jawabannya?” tanya Hyeon Ju.


“Sebenarnya aku mencurigai seseorang tapi belum bisa yakin betul Dia pelakunya. Dia baru saja bertemu dengan Soo Yeong sekali, waktu itu. Dan aku tidak bisa mencurigainya karena foto Soo yeong waktu kecil terpampang jelas dikotak itu. Dari mana Dia bisa mendapatkan foto-foto itu.” Ye Joon mengeluarkan unek-uneknya.


“Siapa?” tanya Hyeon Ju lagi.


“Yang kemarin saat kamu dan Soo Yeong melihatku mengobrol dengan pria berjaket hitam. Dia adalah teman lamaku disekolah dulu. Aku dan Soo Yeong bertemu secara tidak sengaja saat hari sabtu kemarin. Aku curiga karena saat bertemu dengannya waktu itu, aku sempat beradu pukul dengannya dan kemarin saat Dia menemuiku ia memberikan alasan yang menurutku sedikit aneh.” Ye joon menceritakan semuanya.


“lalu?”


“Bahkan saat aku menelfonnya kemarin dan mengintrogasinya, jawaban yang Ia berikan juga cukup aneh. Bisa saja mengarahkanku pada siapa pelaku sebenarnya. Hanya saja bukti itu semua masih membuatku ragu.” Ye Joon bercerita sambil beberapa kali memasukkan sendok yang berisi penuh dengan makanan ke dalam mulutnya.


“Kita cari tahu lebih lanjut besok saat pulang sekolah. Kita harus menangkapnya bersama agar lebih mudah. Hari ini kita menjenguknya seperti biasa dan berpura-pura tidak terjadi apapun agar tidak membuatnya semakin khawatir.” Ajak Hyeon Ju.


“Baiklah.”


Merekapun sepakat untuk mencari peneror Soo Yeong bersama lalu melanjutkan acara makan siangnya.


Setelah bel masuk berbunyi, mereka segera masuk kembali kekelas lalu menyelesaikan kegiatan belajar hari ini. Lalu menjenguk Soo Yeong sebentar, dan membuat rencana untuk menangkap si peneror itu secara sembunyi-sembunyi.


“Oh, kalian datang?” sapa Soo Yeong dengan wajah cantiknya yang semakin indah dengan uraian senyum tertarik diujung bibirnya.