
"Soo Yeong, sebentar saja. Tetaplah disini sebentar saja. " kata Ye Joon lirih. Tangannya masih mengenggam erat pergelangan Soo Yeong.
"Ye Joon...... " ucap Soo Yeong yang masih berada di pangkuan Ye Joon. Dia bingung dengan perlakuan Ye Joon. Sebenarnya apa yang ingin Dia lakukan.
"Aku ingin bersamamu disini,sebentar saja. " Ye Joon beralih menarik tubuh Soo Yeong kedalam pelukannya. Tangannya erat melingkar pada pinggang ramping wanita itu.
"Apa yang kamu lakukan Ye Joon. " berontak Soo Yeong mencoba melepaskan diri. Tapi sudah pasti Ye Joon lebih kuat darinya, apa yang Ia lakukan sia-sia. Ye Joon tak akan melepaskannya.
"Tak bisakah kamu menuruti kemauanku kali ini saja, Soo Yeong? "kata-kata Ye Joon barusan berhasil menghentikan pemberontakannya. Bahkan mempersilahkan lelaki itu memeluknya lebih erat.
"Soo Yeong, aku mencintaimu. " ucap Ye Joon yang masih tenggelam dalam pelukan itu. Lalu tanpa sadar Soo Yeong membalasnya. Dilingkarkan lengannya kebahu bidang lelaki itu.
"Kenapa tiba-tiba bilang begitu? " tanya Soo Yeong.
"Entahlah, hanya saja aku ingin mengungkapkannya. Mungkin hatiku belum sepenuhnya yakin bahwa kamu tau isinya. Bagaimana denganmu? " kata Ye Joon.
Perlahan Soo Yeong mulai melonggarkan lengannya dengan tetap melingkar dibahu Ye Joon dan menatapnya lekat.
"Ada apa dengan tatapanmu, Soo Yeong. Aku tak bisa mengartikannya. Bicaralah saja agar aku bisa mengerti, jangan seperti ini. Kalau memang perasaanku tidak terbalas, bilang.............. " belum sempat Ye Joon menyelesaikan kalimatnya, Soo Yeong dengan berani mengecup bibir Ye Joon yakin.
Mereka saling menatap, memikirkan apa yang barusan terjadi. Benar-benar seperti mimpi. Dan setelah Soo Yeong tersadar akan yang Ia lakukan barusan, wajahnya mulai memerah karena malu. Lalu dengan sigap menutup wajahnya dengan tangan yang tadi melingkar pada bahu Ye Joon. Dia sangat malu sekarang.
Ye Joon yang menyadari hal itu langsung tersenyum manis dan membujuk Soo Yeong untuk melepaskan tangan diwajahnya.
"Hei. Soo Yeong kenapa? Turunkan tanganmu, aku ingin menatap wajahmu sebentar. "bujuk Ye Joon sembari memegang pergelangan tangan Soo Yeong.
"Hentikan Ye Joon. Aku malu. Jangan memaksaku. " Soo Yeong memberontak lagi.
"Haha. Kenapa malu?. Kamu sendiri yang melakukannya. " Ye Joon terkekeh.
"Jangan tertawa. " protes Soo Yeong dibarengi dengan tangannya yang sudah tidak lagi menutup wajah cantiknya. Terlihat jelas kini pipinya semerah tomat.
"Iya Iya. Aku tidak tertawa. Tapi kenapa kamu yang malu, kamu yang menci... " Soo Yeong menhentikan kalimat Ye Joon lagi tapi kini dengan tangannya yang membungkam mulut Ye Joon.
"Berhentilah. Aku tidak ingin membahasnya. " Suruh Soo Yeong.
Ye Joon tersenyum dan melepaskan tangan Soo Yeong.
"Iya. Aku akan berhenti. Tapi tau kah kamu Soo Yeong? sekarang kamu sangat menggemaskan. " senyum Ye Joon mengambang sempurna di wajah tampannya.
Soo Yeong terdiam dan hanya memajukan bibirnya, cemberut.
"Kenapa. Kenapa cemberut begitu. " tanya Ye Joon sambil menyelipkan anak rambut yang terurai ketelinga Soo Yeong.
"Aku malu. Kenapa malah aku yang memulainya. Harusnya kan kamu sebagai lelaki. Dasar aku bodoh. " ucap Soo Yeong sebal.
Mendengar kalimat itu, Ye Joon langsung mendaratkan kecupan lembut ke bibir wanita dipangkuannya tersebut.
"Sudah. Sekarang aku yang memulainya. Jangan cemberut lagi. " kata Ye Joon.
"Issh. Apanya. Menyebalkan. " Soo Yeong memukul pelan dada Ye Joon. Wajahnya makin memerah.
"Sudah. Berhenti cukup sampai disini. Jantungku sudah tidak terkontrol. " jawab Ye Joon dengan memegangi dadanya.
"Tentu saja. Pertanyaan macam apa itu. Kamu tahu? Jantungku rasanya ingin memaksa keluar. Sesak sekali didalam sana. "
Soo Yeonh terdiam lagi. Kini Dia benar-benar diam, Dia tidak mau salah berbicara lagi. Mereka berdua diam.
"Sudah. Aku mengerti. Kurasa perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. Ayo bergabung dengan yang lainnya, nanti mereka kebingungan mencari kita. "ajak Ye Joon.
Soo Yeong mengangguk lalu Ye Joon menggandeng tangannya dan beranjak meninggalkan tempat itu. Setiap detik yang Soo Yeong rasakan ketika Ye Joon menggam erat tangannya, tanpa senganja Ia melepaskan sebuah senyuman. Sepertinya Ia menyukai perlakuan Ye Joon.
"Kalian dari mana saja. Kenapa baru terlihat?" tanya Hyeon Ju ketika melihat dua orang itu keluar dari villa.
"Aku merindukan ayah dan ibuku. Jadi aku menyendiri di kamar, tapi Soo Yeong berusaha membujukku untuk bergabung dengan kalian. Akhirnya aku menurutinya. Dia sangat gigih, hingga aku tak bisa melawannya. " ujar Ye Joon.
"Ya begitulah sisi kuat Soo Yeong kami. " tambah Papa Soo Yeong yang sedang membakar daging.
"Iya Om. Benar-benar kuat. " kata Ye Joon.
Tiba-tiba...
plakk
"Hentikan. Tidak perlu berlebihan. " Soo Yeong menimpali dan memukul bahu Ye Joon dengan keras.
Ye Joon pun kesakitan dan akhirnya menuruti Soo Yeong, duduk kembali dipinggir api unggun.
"Hari ini adalah hari terakhir kita berada divilla dan besok kita harus sudah kembali ke S. Bagaimana, apa kalian menyukai piknik. keluarga kali ini? " tanya Ayah Hyeon Ju.
"Tentu.. " teriak mereka berasamaan.
Ye Joon lalu berdiri dengan mengangkat gelasnya yang berisi jus jeruk itu.
"Terimakasih, Om, Tante, Paman, Hyeon Ju dan juga Soo Yeong, karena sudah mengijinkanku untuk ikut piknik keluarga kalian. Padahal aku hanya orang luar, tapi rasanya kalian memperlakukanku seperti keluarga. Aku sangat berterimakasih. Daan karena piknik kita berakhir dengan sempurna, mari kita bersulang untuk merayakannya. Bersulang!! " ucap Ye Joon.
"Bersulang. " jawab yang lain secara serentak. Mereka semua berbahagia. Apalagi Ye Joon dan Soo Yeong yang sudah memantapkan hati untuk saling menunjukkan perasaan masing-masing.
-
Keesokan harinya, keluarga itu bersiap untuk pergi, kembali ke kota S. Suasananya sangat berbeda ketimbang perjalanan kemarin. Sekarang tidak ada kecanggungan yang tercipta, semua ceria sambil menyanyikan lagu yang Papa Soo Yeong putar.
Tapi setelah mobil berjalan sekitar 30 menit, hujan yang sangat deras turun.
"Papa, malah turun hujan. Bagaimana piknik ditaman kota G nya?" tanya Soo Yeong yang teringat akan rencananya kemarin.
"Terpaksa kita batalkan dulu. Jika suatu saat nanti ada waktu, kita jadwalkan ulang. Bagaimana? " jawab Ayah Hyeon Ju.
"Itu lebih baik. Hujannya juga sepertinya akan berlangsung lama. " tambah Mama Soo Yeonh.
"Baiklah Pa, kita pulang saja. " ujar Soo Yeong sedikit kecewa.
Mobil melaju diantara derasnya hujan membuat suasana menjadi membosankan. Dan akhirnya para penumpang dibelakang, semuanya tertidur. Kecuali Ayah Hyeon Ju yang harus menemani Papa Soo Yeong menyetir.
Setelah perjalanan yang cukup jauh,akhirnya mereka sampai ditujuan dengan selamat. Lalu Ye Joon mengambil motornya yang terparkir digarasi dan berpamitan pulang.