
Ye Joon membaringkan badannya yang lelah keatas kasur. Pikirannya pun sama penatnya, pertama khawatir jika yu Ri akan mengganggunya lagi. Kedua tentang kesalah pahaman Hyeon Ju. Dan sekarang orang tuanya yang berubah. Untuk hal yang terakhir sebenarnya adalah hal yang baik, namun jika terjadi dengan mendadak seperti ini rasanya Ye Joon membutuhkan alasan.
Kring kring
Ponsel Ye Joon berdering menandakan ada panggilan masuk. Dan ternyata sang pemanggil adalah Soo Yeong. Ye Joon yang tadinya lesu, kini berubah menjadi kegirangan setelah tahu Soo Yeong menghubunginya.
“Ye Joon, sedang apa?” tanya Soo Yeong.
“Sedang membaringkan tubuh lelahku diatas kasur. Lalu kamu? Bagaimana keadaanmu?” Ye Joon bertanya balik.
“Hmm. Aku sih merasa baik-baik saja. Namun entah karena alasan apa jadwal pulangku diundur yang harusnya hari ini menjadi besok. Aku sangat bosan, seandainya saja kamu disini.” Rengeknya.
“Jadi besok kamu belum bisa berangkat sekolah?” nada suara Ye Joon terdengar kecewa.
“Belum. Padahal kita kan harusnya belajar kelompok lagi. Terhitung baru sekali kita melakukannya. Tes sudah semakin dekat, aku khawatir.”
“Sudah. Fokus saja dulu dengan kesehatanmu, jangan memikirkan yang lain. Aku akan mencari catatan lain untukmu. Tenang saja.” Ye Joon mencoba menghiburnya.
“Hmm. Baiklah. “
“Kau tidak tidur?” tambah Soo Yeong.
“Kurasa kamu yang seharusnya tidur dan banyak istirahat. Cepatlah sembuh, aku merindukanmu.”
“Haha, akupun merindukanmu. Baiklah, sepertinya Papa akan marah jika melihatku masih terjaga. Aku akan tidur. Selamat malam, Ye Joon.”
“Selamat malam juga Soo Yeong.”
Setelah panggilan itu berakhir, Ye Joon sedikit merasa lega karena dari nada bicara Soo Yeong terdengar baik baik saja. Tidak terdengar gelisah seperti saat Ia dirumahnya waktu itu. Kemungkinan besar Hyeon Ju belum biacara apapun pada Soo Yeong, jadi Ia harus meluruskan kesalah pahaman dengan Hyeon Ju terlebih dahulu.
“Hyeon Ju, apa kamu masih saja percaya dengan semua ucapan Yu Ri ? Kamu seharusnya tahu kalau Dia adalah wanita gila yang bermulut ular. Dia menjebakku dan menjadikan kesalah pahaman diantar kita. Aku sangat menyayangi Soo Yeong, aku tidak mungkin menyakitinya aku sudah pernah bilang seperti itu padamu.”
Ye Joon mengirimkan pesan singkat pada Hyeon Ju namun tidak mendapatkan balasan apapun. Hingga tertidur karena balasan yang tidak kunjung datang. Sampai-sampai lupa tidak mengobati memarnya.
“Anak ini, tertidur tanpa mengobati lukanya. Bahkan tidak membersihkan diri.” Kata Ibu Ye Joon setelah melihatnya terbaring berantakan diatas kasur.
Ia langsung mengoleskan salep dengan hati-hati agar Ye Joon tidak terbangun.
“Maafkan kami ya Ye Joon karena selama ini tidak terlalu memperhatikanmu. Bahkan sedari kecil, kami tidak memberi kasih sayang yang seharusnya kamu dapatkan. Kami terlalu sibuk dengan bisnis dan perusahaan hingga menyianyiakan masa kecilmu. Kami menyesal Ye Joon. Mungkin ini sudah sangat telambat, tapi bisakah kami memperbaiki semuanya? Kita ulang semuanya dari awal. Hiks.” Terdengar isak tangis wanita itu saat mengelus kepala anak lelaki satu-satunya. Air matanya tidak berhenti mengalir.
Perubahan yang terjadi pada orang tua Ye Joon sebenarnya tidak tiba-tiba. Sudah beberapa hari terakhir ini Ibu Ye Joon merasakan kerinduan yang luar biasa padanya setelah kembali dari kota Y. Tempat yang seharusnya cabang perusahaan didirikan. Namun ternyata ditempat itu terdapat sebuah bangunan panti asuhan. Saat orang tua Ye Joon turun langsung kelapangan dan mengecek tempat itu, terdapat seorang anak kecil yang berjalan kearah mereka.
Hanya ada harapan untuk diadopsi yang tergambar dijelas dimanik anak itu. Harapannya sangat besar hingga matanya sangat berbinar-binar saat melihat sepasang orang tua datang. Bisa dipastikan mereka langsung teringat dengan Ye Joon, anak mereka satu-satunya.
Begitulah singkat ceritanya.
“Maafkan Ibu dan Ayahmu ya Ye Joon, beri kami kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya.” Ibu Ye Joon mengusap air matanya lalu meninggalkan tempat itu.
-
Pagi
Ye Joon memutuskan untuk bersikap biasa dan berpura-pura tidak mendengar apapun yang dikatakan oleh Ibunya semalam. Ia menuruni tangga dan bersiap berangkat sekolah, namun dicegat oleh Ibunya yang sudah menyiapkan sarapan, ada Ayah Ye Joon juga disana sedang mengoleskan selai pada roti yang ada ditangannya.
“Ye Joon, Ibu sudah menyiapkan sarapan untukmu. Makan dulu ya.” Ucapnya dengan nada lembut.
Tanpa penolakan Ye Joon menurut dan berjalan menuju meja makan lalu duduk ditempatnya. Terdapat sepiring nasi goreng sudah disiapkan dihadapannya. Masih hangat.
Suasana menjadi hening karena Ye Joon menyantap makanannya tanpa mengatakan apapun. Padahal dilubuk hatinya merasa sangat senang atas perhatian yang Ia dapatkan. Mungkin karena sedikit canggung, jadi Ia mencoba tidak memperlihatkan perasaannya.
“Terimakasih Bu, aku berangkat sekolah dulu.” Sapa Ye Joon yang akhirnya memberanikan diri untuk berbicara, sedikit terasa aneh memang tapi Ia tidak memperdulikannya.
Senyum lega tercipta diwajah orang tuanya, merasa senang karena anaknya mau membuka diri dan memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki semua yang telah berlalu.
Ye Joon berjalan menuju halte untuk berangakat sekolah, sudah beberapa hari ini sepeda motornya masih terpakir diwilayah sekolah.
Tidak membutuhkan waktu lama, bus yang Ia tumpangi sudah sampai dihalte tujuannya, Ia hanya perlu berjalan sedikit untuk sampai disekolah.
“Hyeon Ju !!” teriaknya saat melihat Hyeon Ju sedang berjalan sendirian.
Namun Hyeon Ju berlagak tidak mendengar dan terus berjalan tanpa menoleh.
“Kamu masih tidak percaya padaku?” tanya Ye Joon yang kini sudah berada tepat dibelakangnya. Sedikit ngos-ngosan karena harus berlari untuk menyusul Hyeon Ju.
“Jadi kamu lebih percaya pada wanita itu?” tanya Ye Joon lagi karena tidak mendapatkan respon. Sekarang mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Lucu.
Hyeon Ju tiba-tiba berhenti.
“Aku percaya padamu.” Ucapnya singkat.
“Ohh ?” Ye Joon keheranan.
“Kenapa? Terkejut? “ Hyeon Ju berbalik menghadapnya.
“Kenapa tidak bilang? Aku bahkan sampai mengirimimu pesan semalam, tapi ternyata kamu percaya padaku. Sangat memalukan.”
“Sengaja. Tapi sungguh kamu sangat lucu. Apa sepentingkah itu kepercayaanku? Sampai-sampai kamu berusaha keras untuk meyakinkanku.” Kata Hyeon Ju santai.
“Jangan terlalu besar kepala. Aku hanya khawatir kamu akan mengatakannya pada Soo Yeong dan membuatnya membenciku.”
“Kamu fikir aku akan melakukan hal bodoh itu? Hal yang akan membuat Soo Yeong lebih terpuruk? Aku tidak sebodoh itu.”
Ye Joon merasa sangat lega seperti mendapatkan hidup baru pagi ini. Diawali dengan sikap orang tuanya yang hangat dan ditambah dengan kesalah pahamannya dengan Hyeon Ju yang juga sudah selesai.