Could It Be You?

Could It Be You?
39. Sorry, but...


Kini semua sepakat mengenai anggota belajar kelompok yang baru, yaitu Soo Yeong, Ye Joon, Hyeon Ju, Jae Min dan Ra Yun.


“Kurasa kita harus pulang sekarang, sudah sore. Lagipula Soo Yeong harus banyak istirahat bukan?” ajak Jae Min yang kini sudah bersiap pulang.


Tanpa ada perdebatan, mereka semua setuju dan langsung pulang. Disisi lain Soo Yeong sudah cukup puas karena bisa bertemu dengan Ye Joon hari ini, walaupun sebentar. Begitupun Ye Joon. Rasa rindu dan khawatirnya kini seolah menguap.


-


“Menurutmu kapan kita bisa memulai belajar kelompok kita?” tanya Ra Yun disela-sela perjalanannya.


“Mungkin 2 atau 3 hari lagi. Biar Soo Yeong benar-benar pulih dulu.” Jawab Ye Joon.


“Hmmm. Begitu yaa, baiklah kalau begitu.” Ra Yun mengiyakan.


“Bagaimana meneurutmu, Jae Min.” Ye Joon melempar pertanyaan itu pada Jae Min karena melihatnya diam saja dari tadi.


“Terserah kalian, aku akan mengikuti jadwal yang kalian buat.” Jawabnya singkat.


Setelah mengatakan hal itu, Jae Min mempercepat langkahnya dan meninggalakan Ye Joon dan Ra Yun yang sedang berjalan santai.


“Ada apa dengannya.” Gumam Ye Joon pelan tapi bisa didengar oleh Ra Yun.


“Kurasa tidak nyaman karena aku ikut dalam kelompok kalian.” Ra Yun buka suara.


“Mana mungkin. Dia terlihat biasa saja waktu itu.” Ye Joon masih saja bersikap polos tidak tahu apa-apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua. Hmmm.


“Mungkin setelah aku menungkapkan perasaanku padanya. Dia terlihat sangat cuek padaku selepas kejadian waktu itu.” Ra Yun mencoba menjelaskan dengan detail.


“Heh?? Kamu menyatakan cinta padanya? Mana mungkin.” Ye Joon seolah-olah tidak percaya dengan segala perkataan yang Ra Yun utarakan.


“Yah, semua terjadi begitu saja. Tapi aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Walaupun sulit.”


“Hmmm. Begitu yaa.” Ye Joon mencoba bersikap biasa saja.


Setelah cukup lama berbincang, mereka langusung mempercepat jalan mereka unutk menyusul jae Min.


-


“kalian pulang saja dulu,aku ada urusan sebentar.” Pamit Ye Joon. Padahal Ia hanya membuat kesempatan pada mereka untuk berdua. Agar masalah yang menimbulkan rasa canggung itu bisa terselesaikan.


“Tapi Ye Joon.” Usaha Jae Min untuk mencegahnya sia-sia karena Ye Joon sudah jauh dari mereka berdua.


“Kenapa? Merasa tidak nyaman karena hanya ada kita berdua? Jangan khawatir setelah persimpangan didepan jalan yang kita ambil berbeda, kamu bisa pulang dengan nyaman.” Timpal Ra Yun.


Jae Min tak langsung menjawabnya, Ia hanya diam dan berjalan tanpa menghiraukan Ra Yun yang sedari tadi bicara.


“Jae Min, soal kemarin.....”


“Aku tidak ingin membahasnya.” Kata Jae Min singkat memotong Ra Yun.


“Terserahtapi aku akan tetap bicara.”


“Ra Yun....”


“Aku memang menyukaimu, tapi....”


“Ra Yun....”


“Tapi aku juga tidak berharap perasaanku akan terbalas. Aku baik-baik saja walaupun menyukaimu diam-diam.”


“Jadi kamu tidak perlu merasa canggung atau merasa tidak nyaman saat berada didekatku. Bersikaplah biasa saja. Memang aku ingin menjadi bagian dari kelompok belajar kalian hanya untuk selalu dekat denganmu, tapi kamu tidak perlu memikirkannya. Buatlah dirimu senyaman mungkin, aku tidak akan mengganggumu.” Ra Yun terus berbicara walaupun Jae Min memotong uacapannya beberapa kali.


“Baiklah. Kita sudah sampai ditempat kita harus berpisah. Kita harus mengambil jalur yang berbeda. Aku juga merasa sudah mengatakan segalanya padamu, rasanya melegakan. Hati-hati dijalan Jae Min, dah.” Setelah sampai dipersimpangan yang tadi mereka bicarakan, Ra Yun berpamitan padanya. Namun, Jae Min terus saja memandangnya sayu.


Bahkan saat Ra Yun sudah berjalan cukup jauh, Jae Min masih memusatkan pandangannya pada gadis itu. Sedikit merasa bersalah karena sadar selama ini perlakuannya pada gadis itu sudah terlalu berlebihan. Lalu setelah memantapkan hatinya, Jae Minpun berlari mengejar Ra Yun.


“Maafkan aku.” Katanya setelah sampai tepat dihadapan Ra Yun dan memeluknya.


Ra Yun yang terkejut karena mendapatkan perlakuan semacam ini dari Jae Min hanya bisa diam seribu bahasa, bahkan tubuhnya tidak ingin menolak.


“Wae?” tanya Ra Yun saat masih berada dipelukan lelaki yang Ia suka.


“Maafkan aku.” Jae Min melepaskan pelukannya.


“Soal?”


“Maaf karena tidak bisa memberimu kesempatan, sejak awal aku sudah menyukai Soo Yeong. Tapi Dia terlalu pendiam dulu, jadi aku hanya memendamnya tanpa ada yang tahu. Dan sekarang saat Ia sudah mulai membuka diri pada orang lain, rasanya perasaanku yang selama ini terpendam seolah mendapatkan semangat baru. Maaf.” Ujar Jae Min.


“Aku sudah bicara semua tadi. Anggap saja tidak terjadi apapun. Kamu juga tidak perlu menceritakan semuanya padaku.”


“Aku hanya tidak mau seolah-olah memberimu harapan palsu.”


Setelah mengucapkan itu, Jae Min segera pergi meninggalkan Ra Yun tanpa harus menunggu apa jawabannya.


-


Setelah pergi membiarkan Ra Yun dan Jae Min berbicara, Ye Joon berjalan santai menuju rumahnya. Rasanya sangat aneh karena terasa ada seseorang yang membuntutinya. Sama seperti saat pergi kerumah Soo yeong tadi.


Hingga secara tiba-tiba datanglah beberapa orang yang ada hubungannya dengan Yu Ri, pasalnya ada Rye Weok disana.


“Apa yang kalian mau?” tanya Ye Joon saat mereka semua mulai mendekat.


“Bukan apa-apa, hanya ingin mempererat pertemanan kita.” Rye Weok menjawab dengan santainya. Disaat yang sama beberapa teman yang Rye Weok bawa mulai mengepung Ye Joon.


“Katakan saja, tidak perlu berbelit-belit.” Ye Joon tetap merasa tenang karena tempat itu adalah area paling dekat dengan rumahnya. Jadi Rye Weoklah yang bodoh jika beraksi disana.


“Kamu tahu kan kalau aku menyukai Yu Ri?”


“Bukan urusanku.” Ye Joon menyela.


“Dia akan menerimaku jika aku bisa membuat kau dan kekasihmu itu benar-benar berpisah. Tapi aku bingung harus memulai dari mana.”


“Kalau begitu jangan dimulai, aku dan Soo Yeong tidak akan berpisah. Jangan buang-buang waktumu. “ selanya lagi.


“Wah. Ternyata cukup sulit bernegosiasi denganmu. Padahal jika kamu dengan sendirinya mau memisahkan diri, tidak akan ada yang tersakiti.”


“Aku sudah pernah bilang kalau jangan pernah menarikku kedalam urusan kalian. Aku tidak tertarik. Goda saja Yu Ri semampumu, kalau Dia memang menyukaimu tidak perlu waktu lama, kalian akan bersama. “


“Pilih saja, Kamu atau Soo Yeong yang akan terluka.”


“Aku sudah memperingatkanmu agar tidak mengganggunya. Sudah cukup dengan paket-paketmu yang tidak penting itu!!!” Ye Joon mulai terpancing emosi jika menyangkut keselamatan Soo Yeong. Seketika Ia menarik krah Rye Weok dan mengancamnya agar jauh-jauh dari Soo Yeong.


Namun yang terjadi adalah Rye Weok malah tertawa keras seolah tidak gentar dengan ancaman Ye Joon barusan.


“Memang apa yang akan kamu lakukan kalau aku menyakitinya?” Rye Weok mulai memancingnya lagi.


“Sialan.” Ye Joon yang sudah tidak bisa menahan emosinya, ia memukul wajah Rye Weok keras hingga terjatuh.