
"Maafkan aku, Soo Yeong. " Hyeon Ju menahannya yang sudah akan beranjak pergi.
Soo Yeong tidak menjawab, Dia tetap pada posisinya yaitu membelakangi Hyeon Ju.
"Aku tahu, perlakuanku padamu adalah hal yang buruk. Tapi kini aku benar-benar menyesalinya. Maaf kan aku karena sudah menyakitimu selama ini. Jujur akhir-akhir ini aku merasa tersiksa karena rasa bersalahku padamu. Semua yang kamu alami sebagian adalah salahku. Aku benar-benar minta maaf, Soo Yeong. Tidak seharusnya, Aku menyalahkanmu atas kematian ibuku. Maaf." Hyeon Ju tertunduk atas rasa berasalahnya. Sudah beberapa kali Dia ingin mengungkapkannya, tapi selalu gagal karena nyalinya yang tak cukup besar.
Mendengar perkataan Hyeon Ju barusan, hati Soo Yeong luluh. Sudah sejak lama Ia menginginkan hubungannya dengan Hyeon Ju membaik.
"Aku juga meminta maaf atas semua kesalahanku Hyeon Ju. " Soo Yeong berbalik badan. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Dia tak mampu lagi menahan air matanya. Bukan air mata kesedihan, namun air mata bahagia.
Hyeon Ju tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Soo Yeong. Ditariknya Soo Yeong kedalam pelukannya. Dan menepuk-nepuk punggung Soo Yeong agar tenang.
Benar. Soo Yeong tidak sehisteris seperti biasanya. Dia tenang walaupun sedang menangis, bukan karena sakit tapi bahagia. Tentu saja, suasananya berbeda.
"Sudah. Jangan menangis lagi. " ucap Hyeon Ju sambil mempererat pelukannya.
Ye Joon memperhatikan dua saudara ini dari pintu kamar mandi. Dia ikut bahagia karena akhirnya hal yang berpotensi memperburuk psikis Soo Yeong sudah tidak ada lagi. Ye Joon rasa setelah ini Soo Yeong akan terus menjadi lebih baik. Ia lega. Akhirnya.
"Ekhem. Sudah baikan sekarang? " Ye Joon berdehem mengagetkan Hyeon Ju dan Soo Yoong.
Soo Yeong melepaskan pelukannya dan menjawab Ye Joon.
"Tentu saja. " katanya dengan ceria.
"Kenalkan. Namaku Hyeon Ju. Sepupunya Soo Yeong. " sapa Hyeon Ju sambil menyodorkan tangannya ke arah Ye Joon.
"Iya. Aku tahu. Kenalkan juga, namaku Ye Joon. Teman dekat Soo Yeong. " jawab Ye Joo menyalaminya.
"Teman dekat?. Apa kalian pacaran? " tanya Hyeon Ju tiba-tiba.
"Akan. Tapi entahlah, Soo Yeong belum memberiku jawaban. " goda Ye Joon pada Soo Yeong yang kini wajahnya sudah merah karena saking malunya.
Baru beberapa saat yang lalu Dia menangis sesegukan, kini sudah berganti menjadi malu yang luar biasa.
"Heh? Kamu sudah menembaknya? Kapan? Lalu, apa jawabanmu Soo Yeong? " Hyeon Ju menjadi penasaran. Dia merasa sudah sangat jauh dari Soo Yeong sampai-sampai tidak tahu, sepupunya itu sudah bisa menyukai lelaki lain.
"Katanya ingin dipikir dahulu. Padahal aku bersungguh-sungguh menyukainya. Aku tidak sedang bermain-main. Apa yang harus Ia pikirkan ya? Apa Ia akan menolakku? " Ye Joon menimpali. Dia sengaja mengatakannya supaya Soo Yeong bisa lebih yakin akan perasaannya.
Kedua lelaki itu memandang Soo Yeong bersamaan. Menyadari hal itu, Soo Yeong menjadi salah tingkah dan kebingungan harus menjawab apa.
"Yak. Berhentilah menatapku seperti itu !!" bentak Soo Yeong pada mereka.
"Kenapa? Kamu jadi jatuh cinta padaku? Baguslah. " ucap Ye Joon.
Soo Yeong semakin kesal setelah mendengar jawaban Ye Joon dan memukul lengannya beberapa kali.
"Kamu masih melakukannya padahal tahu aku akan membalas dengan caraku. Kamu sengaja? " ancam Ye Joon.
"Eh. " Soo Yeong berhenti dan teringat akan kecupan dipipinya kemarin. Wajahnya semakin memerah. Karena sangat malu, Dia berlari keluar kamar dan meninggalkan Ye Joon dan Hyeon Ju. Mereka hanya saling bertatapan karena heran.
Setelah Soo Yeong pergi, Hyeon Ju mulai mengintrogasi Ye Joon.
"Tentu saja. Apa kamu tidak bisa melihatnya dari tatapan mataku saat menatapnya? " Ye Joon yankin. Memang benar, Dia sangat menyukai Soo Yeong. Sejak dulu,saat pertama kali Ye Joon melihat Soo Yeong.
"Berjanjilah tidak akan meninggalkannya dan menyakitinya. Jangan jadi seperti aku yang menyesal karena sudah menyakitinya. Kalau tidak, kamu akan berhadapan dengan ku. " ujar Hyeon Ju pergi meninggalkan Ye Joon.
"Tentu saja. Aku tak akan menyakitinya. " jawab Ye Joon kesal walaupun Hyeon Ju tidak mendengar karena Dia sudah pergi.
Sementara itu Soo Yeong berjalan sebal menuju ruang makan. Dia masih heran karena Ye Joon terus saja menggodanya, yaa walaupun Dia menyukainya tapi hal itu tetap saja menyebalkan.
"Sayang, kenapa mukanya ditekuk begitu Ada apa? Dan juga dimana Hyeon Ju dan Ye Joon? Kamu tidak mengajak mereka makan? " tanya Mamanya sambil meletakkan beberapa lauk diatas meja.
"Ah, sebal saja sama mereka,Ma. Nanti juga turun sendiri kalau lapar." jawab Soo Yeong kesal.
Setelah beberapa saat Hyeon Ju pun tiba di ruang makan.
"Hyeon Ju, kamu tidak mengajak Ye Joon turun? " tanya ayahnya.
"Soo Yeong, sana ajak Ye Joon turun untuk makan, semua sudah menunggu." suruh Hyeon Ju sambil mengacak-acak rambut Soo Yeong.
"Tidak mau. Sana kamu saja. Kan kalian satu kamar, kenapa tadi tidak kamu ajak turun sekalian? " jawab Soo Yeong ketus.
"Eh, kalian sudah baikan? " tanya Papa Soo Yeong.
"Sudah Paman, tadi aku tidak tega melihatnya menangis sesegukan begitu. " ledek Hyeon Ju.
"Eh, itu kan gara-gara kamu juga. Nyebelin!! " Soo Yeong memajukan bibirnya sebal.
ttak
Hyeon Ju dijitak oleh Ayahnya.
"Kamu membuatnya menangis lagi? Dasar! " Ayah Hyeon Ju memarahinya. Melihat Hyeon Ju kesakitan begitu, Soo Yeong jadi tertawa terbahak-bahak karena puas rasa kesalnya sudah dibalaskan walaupun lewat pamannya.
Semua orang tertawa.
Ye Joon yang sedang menuruni tangga dan melihat mereka tertawa bahagia bersama merasa iri dengan 2 keluarga ini. Mereka sangat harmonis dan penuh kasih sayang. Hal yang tidak pernah orang tuanya berikan. Dia berfikir, jika suatu saat nanti Ia memiliki keluarga sendiri. Dia akan menjadikan keluarganya, keluarga yang penuh kasih sayang. Tak kan Dia biarkan anaknya kelak mengalami apa yang Ia alami.
"Oh, itu Ye Joon." ucap Papa Soo Yeong.
Semua orang berbalik dan menatap kearahnya. Ye Joon menjadi salah tingkah karena perhatian yang tertuju padanya lalu tersenyum canggung dan melambaikan tangan karena malu. Lalu berjalan menghampiri yang lainnya.
Tapi berbeda dengan yang lainnya, Soo Yeong menatapnya dengan tatapan lain. Melihat Ye Joon tersenyum canggung begitu, Ia merasa Ye Joon sangat tampan. Walau senyum Ye Joon tak selebar ketika menggodanya, tak bisa dipungkiri bahwa sekarang lelaki itu tampak begitu manis.
"Eh, apa yang sedang aku pikirkan? " batin Soo Yeong.
"Ye Joon, ayo duduk disini dan makan bersama. Setelah ini terserah kalian mau kemana. Yang penting makan dulu. " ucap Mama Soo Yeong.
Ye Joon duduk disamping Soo Yeong dan menyantap makanannya, begitupun dengan yang lain. Mereka menikmati makan bersama itu.
"Soo Yeong, setelah makan mau jalan-jalan berdua denganku? " bisik Ye Joon pada Soo Yeong.