
Soo Yeong tersedak karena ajakan Ye Joon yang tiba-tiba. Bukan apa-apa, hanya saja, bisikan Ye Joon barusan mampu membuat Soo Yeong merinding.
"ukhuk ukhuk. " Soo Yeong batuk dan memukul-mukul dadanya agar bisa lebih mudah bernafas.
"Ada apa sih Soo Yeong?. Kenapa buru-buru sekali makannya? tersedak kan jadinya. Ini minum dulu. " kata Mama Soo Yeong perhatian.
"Iya nih. Soo Yeong, memang kamu buru-buru mau kemana? " Hyeon Ju menimpali.
Soo Yeong jadi salah tingkah karena semua mata tertuju padanya. Ini semua karena Ye Joon, Dia selalu saja menggoda Soo Yeong.
Karena bingung memberi jawaban, Soo Yeong hanya tersenyum malu dan melanjutkan lagi makannya.
Setelah semua selesai makan, Hyeon Ju mengajak Soo Yeong untuk berjalan-jalan ke kebun teh.
"Ayo jalan-jalan sebentar. Mumpung cuacanya bagus. " ajak Ye Joon.
"Ayo. " Soo Yeong mengiyakan.
"Ye Joon mau ikut tidak? " tambahnya.
"Ikut lah. Bosan divilla terus. " jawab Ye Joon.
Mereka bertiga memulai perjalanan dengan semangat. Apa lagi sekarang, hubungan Soo Yeong da Hyeon Ju sudah membaik. Pasti tak akan canggung.
Mereka bertiga menikmati udara kebun teh yang sejuk. Ya walaupun cuacanya sedang panas karena sudah siang. Tapi hal itu tidak mempengaruhi segarnya udara ditempat itu.
Disepanjang perjalanan, Soo Yeong dan Hyeon Ju asyik mengenang masa kecil mereka. Sedangkan Ye Joon hanya mendengarkan walaupun ceritanya sangat membosankan.
"Dulu kita pasti lari-larian dikebun ini sampai capek ya. Padahal dulu kita masih kecil banget, tapi ga ada kapok-kapoknya muterin dari ujung sana sampai sana. haha" cerita Soo Yeong dengan sedikit terkekeh.
"Iya. Inget banget. Kalau kamu udah capek pasti minta gendong aku. Padahal kamu berat banget loh. Kaya lagi gendong kudanil. " ejek Hyeon Ju.
"Ehh. Enak aja kudanil. Aku ga seberat itu tau. " ujar Soo Yeong sambil cemberut karena kesal dengan ejekan Hyeon Ju.
Tapi, saat Soo Yeong cemberut begitu, menurut Ye Joon Dia malah tampak menggemaskan. Saking gemasnya, Dia ingin mencubit pipi Soo Yeong.
"Aduh. Apa an sih kamu Ye Joon. Sakit. " protes Soo Yeong kesakitan.
"Hehe. Maafkan aku. Soalnya kamu nggemesin sekali. Aku tidak tahan mau mencubit pipimu. " Ye Joon tertawa.
Soo Yeong kesal dan berjalan lebih cepat meninggalkan Ye Joon dan Hyeon Ju.
"Hyeon Ju, bisa beri aku waktu berduaan sama Soo Yeong tidak?" pinta Ye Joon dengan wajah slengean nya.
"Tidak. Nanti kamu macam-macam sama Soo Yeong lagi. Tidak bisa. Aku harus menjaganya. " Hyeon Ju menolak.
"Halah. Aku ga bakalan ngapa-ngapain Dia. Sumpah. Cuma mau menagih jawabannya aja. " Ye Joon masih berusaha meyakinkan Hyeon Ju.
Hyeon Ju berpikir sejenak mempertimbangkan perkataan Ye Joon barusan.
"Baiklah. Tapi janji loh ya, dijagain. Jangan sampai kenapa-kenapa. Awas aja. " ancam Hyeon Ju.
Hyeon Ju pun kembali ke villa duluan. Walaupun ada sedikit kekhawatiran di hatinya, tapi Dia mencoba menenipis rasa itu.
Setelah Hyeon Ju pergi, Ye Joon segera berlari menyusul Soo Yeong. Dia sudah tertinggal agak jauh.
"Soo Yeong, tunggu aku. Berhenti sebentar. " pinta Ye Joon sambil berteriak.
Mendengar hal itu, Soo Yeong berhenti dan memutar badan, memastikan siapa yang memanggilnya. Ternyata Ye Joon. Lalu Dia berhenti sejenak untuk menunggu Ye Joon.
"Lama sekali dari mana saja sih? " tanya Soo Yeong pada Ye Joon yang baru saja sampai ditempatnya.
"Tadi ngobrol sama Hyeon Ju sebentar. Katanya Dia mau pulang duluan. Jadi nungguin sampai dia bener-bener pulang." Ye Joon menjelaskan.
"Kamu yakin tidak menyuruhnya pulang duluan? " tebak Soo Yeong seakan sudah tau, hal itu adalah akal-akalan Ye Joon.
"hehe. Kamu tahu ya. Kan aku maunya berdua aja sama kamu." goda Ye Joon pada Soo Yeong.
"Dasar. " Soo Yeong tersenyum tipis mendengar ucapan itu.
Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan mereka berkeliling kebuh teh.
"Soo Yeong, kamu sudah merasa lega karena hubunganmu dengan Hyeon Ju membaik? " tanya Ye Joon sambil mengikuti jalan Soo Yeong dari belakang.
"Mmm. Bisa dibilang begitu. Rasanya, sesuatu yang pernah mengganjal dihatiku menghilang. Aku senang Hyeon Ju kini tak lagi membenciku. Oh ya, Ye Joon, terimakasih sudah menjadi temanku. Kurasa semua ini berawal setelah aku mengenalmu. " ucap Soo Yeong sembari membalikkan badannya menghadap Ye Joon.
"Hehe. Aku menerima terimakasih mu mengenai teman. Tapi soal kamu dan Hyeon Ju, kurasa itu memang karena kalian berdua sudah mulai bisa mengerti satu sama lain. Ketika kita bisa saling memahami, masalah apapun akan tetap ada jalan keluarnya. " Ye Joon berjalan lebih dekat dengan Soo Yeong dan menatap lekat matanya.
"Soo Yeong, apa kamu tidak menyukaiku? " tanya Ye Joon.
"Hem? Tiba-tiba? " Soo Yeong tak mengerti.
"Kamu terus saja menghindar ketika aku bertanya soal hubungan kita. Bahkan sampai sekarang belum memberiku jawaban pasti. Aku memang ingin menunggumu hingga kamu benar-benar yakin dengan perasaanku. Tapi nyatanya semakin lama aku menunggu, aku semakin tidak yakin kamu memiliki perasaan yang sama denganku. Aku ingin memberimu waktu, tapi semua itu membuatku semakin gelisah. Aku......... "
Belum sempat Ye Joon menyelesaikan isi hatinya, Soo Yeong dengan berani mendekat kearahnya dan memeluknya. Ye Joon terkejut. Bahkan tangannya tak mampu membalas pelukan itu. Dia diam mematung.
"Maafkan aku membuatmu terlalu lama menunggu. Tapi ketauhilah Ye Joon, aku pun menyukaimu. Hanya saja ini adalah hal pertama bagiku, aku tak mengerti bagaimana cara menunjukkannya. Aku takut jika aku lebih mengutamakan hatiku dengan menerimamu, suatu saat kamu akan terluka karena sikapku. Kamu juga hanya tahu bagaimana kondisiku, belum tentu mengerti. Jika suatu saat aku sedang dalam keadaan yang tak terkendali lalu berujung melukaimu, itu hanya membuatku semakin merasa bersalah. " Soo Yeong menjelaskan.
"Aku sudah berulang kali bilang padamu agar menuruti kata hatimu. Karena semakin sering kamu berpikir tentang konsekuensi, itu tak akan ada habisnya. Ketahuiah, aku menyukaimu. Itu artinya aku siap menerima seluruh kekurangan yang ada padamu. Cukup itu yang kamu pikirkan. " ujar Ye Joon sambil membalas pelukan Soo Yeong.
"Aku menyukaimu Soo Yeong. Sangat. " tambahnya.
Soo Yeong tidak menjawab dan hanya mempererat pelukannya.
-
Kabut yang sedikit tebal menemani perjalanan mereka. Karena sudah sore dan kabut mulai turun, udara menjadi cukup dingin.
"Kurasa kita harus kembali sekarang. Sebentar lagi gelap, lagian udaranya sangat dingin dan jaketku tipis. Jadi kerasa sekali dinginnya. " ajak Soo Yeong sambil menyedekapkan kedua tangannya.
Melihat Soo Yeong yang kedinginan, Ye Joon melepas jaketnya lalu memakaikan pada badan Soo Yeong. Dan menyisakan kemeja kotak-kotaknya. Walaupun tahu kemejanya itu tidak cukup untuk melindunginya dari udara dingin.