Could It Be You?

Could It Be You?
19. Berharap


"Baiklah. Kita tunggu 5 menit sampe Ye Joon datang. Tepat 5 menit. " Hyeon Ju mengalah dan mengiyakan apa mau Soo Yeong. Walaupun Ia sedikit kesal, tapi Hyeon Ju lebih tidak bisa jika membiarkan Soo Yeong memohon-mohon seperti ini. Ia mencoba memejam kan matanya sekejap dan mengatur pernafasannya agar lebih tenang.


"Oke. Kita duduk lagi ya. " jawab Soo Yeong senang karena akhirnya bisa membujuk Hyeon Ju. Matanya berbinar penuh harap menunggu Ye Joon datang. Tapi bisa ditebak Dia tidak akan bertemu Ye Joon dalam 5 menit karena orang yang Ia tunggu sedang mengantar Yu Ri pulang.


5 menit berlalu tak terasa.


"Soo Yeong, sudah 5 menit. Ye Joon tidak akan datang, lebih baik kita pulang sekarang. Ini sudah malam, lagipula besok kan kita harus berangkat sekolah. Jangan sampai terlambat bangun pagi karena menunggunya. " ajak Hyeon Ju lagi. Kini wajahnya memperlihatkan bahwa Ia sudah tidak bisa dibujuk dengan cara apapun. Muka memelas Soo Yeong sekalipun.


"Haruskah? Tapi aku yakin Ye Joon akan datang. Aku takut Dia akan menungguku sendirian disini. " Soo Yeong masih berusaha kekeuh untuk tetap tinggal. Ia memang terlihat kecewa, tapi rasanya ingin bertemu dengan Ye Joon lebih besar.


"Soo Yeong, aku tak habis pikir dengan pola pikirmu yang sekarang. Kenapa masih saja berharap dengan sesuatu yang sudah jelas jawabannya. Sudah. Aku tidak mau berdebat apapun lagi. Ayo pulang sekarang! " ucap Hyeon Ju tegas. Ditariknya lengan Soo Yeong agar meninggalkan tempat itu. Soo Yeong mengikuti pasrah.


"Kirim saja pesan agar Ye Joon tidak perlu datang. " tambahnya.


Merekapun berjalan bersama menuju rumah. Masih dengan Hyeon Ju yang menarik tangan Soo Yeong yang berjalan dibelakangnya. Suasana menjadi sunyi.


"Hyeon Ju, kenapa kamu begitu kesal? " Soo Yeong menghentikan langkahnya dan Hyeon Ju berbalik karena menyadari hal itu. Mereka saling menatap dan terdiam sejenak.


"Aku hanya khawatir kamu akan tersakiti nantinya. Melihatmu dengan kondisimu yang kemarin saja, aku sangat merasa bersalah. Kamu tahu? Bahkan disaat-saat Ibuku yang terakhir kalinya, Dia masih saja memintaku untuk selalu menjagamu. Pada awalnya aku sangat kesal karena dulu kupikir semuanya adalah kesalahanmu. Tapi seiring berjalannya waktu, aku sadar. Sifatku yang selalu ingin menjagamu memang sudah ada sejak awal. Ibuku saja menyadarinya. " ujar Hyeon Ju.


Soo Yeong tertunduk karena merasa bersalah. Ia mencoba mengerti.


"Baiklah. Aku akan berjanji padamu. Tidak akan ada yang bisa menyakitiku lagi, karena ada kamu disampingku. Ayo pulang. " ucap Soo Yeong riang. Senyum yang tadinya tidak terlihat, kini mulai mengambang dari ujung bibirnya. Ia mulai mengerti Hyeon Ju.


Mereka berjalan pulang lagi.


Sesampainya didepan rumah Soo Yeong. Hyeon Ju berpamitan pulang dan masuk ke rumahnya. Begitupun Soo Yeong.


"Pulang sama Hyeon Ju juga? " tanya Papanya yang sedang menunggu diruang tamu.


"Iya Pa. Dari tadi Hyeon Ju menemaniku mencari udara segar. Dan juga mengantar pulang. Mama mana Pa? " kata Soo yeong.


"Mamamu sudah tidur. Papa sengaja menunggumu disini dan akan menyusul mamamu tidur jika kamu sudah pulang. Ya sudah. Sana pergi kekamar dan tidur. "suruh Papanya.


"Iya, Pa. " Soo Yeong berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Ia lalu duduk ditepian ranjang dan mengecek ponselnya apakah Ye Joon membalas pesannya tadi atau tidak. Tapi seperti pesan-pesan sebelumnya, Ye Joon belum juga memberi respon.


"Huh. " Soo Yeong menghela nafas kecewa dan mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya lalu beranjak tidur.


-


Ye Joon mengantar Yu Ri sampai tepat didepan rumahnya.


"Makasih Ye Joon. " kata Yu Ri sembari memeluk kecil lengan Ye Joon.


Ye Joon menjadi sedikit tidak nyaman dan melepaskan pelukan Yu Ri.


Yu Ri menatapnya kesal dan mulai menyadari akan sesuatu. Ye Joon memang sudah berubah. Ia semakin yakin bahwa Ye Joon memliki teman wanita lain selain Dia. Dilihat dari gelagat aneh Ye Joon sejak awal yang tak bisa Ia tutupi.


"Kita sudah putus Yu Ri. Aku harap jangan seperti ini lagi. " Ye Joon memberanikan diri.


"Kata siapa. Mungkin menurutmu begitu. Tapi tidak dengan ku. Kamu masih milikku dan selalu akan jadi milikku. " ucap Yu Ri yakin dan membanting pintu pagar. Dia masuk kedalam rumah. Ye Joon tak menyangka Yu Ri akan berubah menjadi seperti ini saat marah. Ia semakin khawatir jika Yu Ri mengetahui tentang hubungannya dengan Soo Yeong.


Kini Ye Joon berada diluar sendirian. Setalah memastikan Yu Ri tidak akan kembali, Ia langsung mengecek ponselnya yang sedari tadi berbunyi. Ada beberapa pesan masuk dari Soo Yeong.


"*Ye Joon, aku sudah ditaman tapi tidak ada orang. "


"kamu dimana? "


"Baiklah. Aku harus pulang, jadi kamu tidak perlu datang. Kita ketemu besok disekolah saja*. "


begitu kira-kira bunyi pesan yang Ia terima.


"Hm. Maafkan aku membuatmu menunggu Soo Yeong. Tapi tadi benar-benar terjadi sesuatu yang mendadak. Jadi aku buru-buru pergi dan tidak sempat menghubungimu. "


"Ok. Kita ketemu besok disekolah. Selamat malam Soo Yeong. Tidur yang nyenyak. "


balasnya.


Setelah mengirim pesan itu pada Soo Yeong, Ia lalu bergegas melajukan motornya dan pulang. Ye Joon sengaja tidak menunggu balasan dari Soo Yeong karena tahu pasti dia sudah tidur. Sekarang sudah cukup malam.


Sesampainya dirumah Ia tidak disambut oleh siapapun. Bahkan orang tuanya yang tadi pagi Ia tinggalkan dengan sedikit percekcokan. Harusnya mereka khawatir, tapi Yee Joon bahkan tidak tau dimana mereka. Suasananya begitu sepi.


Ia berjalan menuju kamarnya dan berencana untuk tidur. Karena Ia sudah cukup lelah.


Beberapa saat setelah Ia membaringkan tubuhnya dikasur. Bukannya merasa mengantuk, tapi Ia malah mengingat kejadian divilla bersama Soo Yeong kemarin. Senyumnya tersungging lebar ketika moment kecupan itu kembali lagi. Sungguh itu ingatan paling liar untuk anak SMA yang bisa dibayangkan.


Ye Joon membenarkan posisi tidurnya dan mulai tertidur.


-


Pagi.


"Pa, nanti pulang sekolah. Aku akan belajar naik transportasi umum. Jadi Papa tidak perlu repot-repot menjemputku. " pinta Soo Yeong pada Ayahnya yang sedang mengoles selai coklat pada roti yang Ia pegang.


"Baiklah. Tapi hati-hati. Kalau perlu minta Hyeon Ju untuk menemanimu. " kata Papanya.


Soo Yeong memakan sarapannya dan bergegas masuk kemobil Papanya dan melaju menuju sekolah.


Sesampainya disekolah Ia mencari Ye Joon yang belum juga terlihat. Matanya berkeliling disetiap sudut sekolah tapi tak juga ketemu. Sebenarnya Dia sedikit kesal dengan ulah Ye Joon semalam. Dia sengaja tidak membalas pesannya. Soo Yeong mau Ye Joon menjelaskan padanya secara langsung, apa yang sebenarnya terjadi.