
"Baik. Baiklah. Aku akan membantunya. " kata Hyeon Ju yang menuruti permintaan Soo Yeong.
Hyeon Ju berjalan kembali ke lapangan basket untuk menghampiri Ye Joon. Dan Soo Yeong hanya menatapnya dari kejauhan.
"Tunggu. Tunggu sebentar. Ada apa ini ramai-ramai begini. " kata Hyeon Ju mencoba menenangkan situasi. Ia langsung berdiri disamping Ye Joon dan langsung merangkul bahunya.
"Menurut teman-teman yang lain aku cocok untuk menjadi pacar Kak Ye Joon. Dan juga aku memang sudah menyukainya. Jadi kami sedang menunggu jawaban dari orang ini. " ucap Tae Hi sembari menunjuk Ye Joon dihadapannya. Cara bicaranya sangat yakin, pasalnya Dia adalah siswa yang cukup populer. Tae Hi memliki paras yang cantik, prestasinya ada, dan jangan lupa tentang kekayaan orang tuanya. Bisa dibilang Dia itu sempurna. Jadi mana mungkin Ye Joon akan menolaknya.
"Tapi, memang kalian yakin kalau orang disampingku ini belum memiliki kekasih. Lihatlah, Dia cukup tampan. Akan sangat mudah baginya untuk mendapatkan hati seorang gadis.Benar bukan? " kata Hyeon Ju dan memaksakan Ye Joon untuk menatapnya. Ye Joon pun mengangguk pelan.
"Jadi kak Ye Joon sudah punya kekasih? Siapa? Anak mana? " Tae Hi sedikit kesal dengan ucapan Hyeon Ju barusan.
Semua orang masih saja menatap kearah mereka bertiga dengan tatapan penasaran setengah mati. Bagaimana tidak, hal tersebut akan membuat Tae Hi sangat malu. Dia sudah berani menyatakan perasaannya tapi apabila memang benar lelaki yang Ia suka sudah memiliki kekasih, banyak siswa yang akan bergosip dibelakangnya.
"Ada. Aku memang memiliki kekasih. Tapi masalah Dia siapa, itu rahasiaku. Aku tidak bisa memberitahu semua orang. " jawab Ye Joon setengah yakin. Dia sedikit gugup karena takut perkataannya akan membuatnya semakin kesulitan dekat dengan Soo Yeong.
Setelah mendengar ucapan Ye Joon, Tae Hi terlihat kesal dan merebut kembali minuman yang tadi Ia berikan. Lalu beranjak pergi meninggalkan lapangan basket. Tidak ketinggalan juga teman-temannya yang tadi memprovokasi ikut pergi.
"huuuuuuuu" sorak mereka bersamaan sembari pergi menuju kelas masing-masing. Begitupun Jae Min, Ia juga berjalan kekelasnya sendirian. Saat berpapasan dengan Soo Yeong, Dia tidak bereaksi apapun hanya terus berjalan dengan tatapan datar.
Setelah semuanya pergi Ye Joon dan Hyeon Ju saling menatap sebentar. Hyeon Ju belum juga melepas rangkulannya.
"Jangan sampai kamu menyakiti Soo Yeong, awas saja. " ucap Hyeon Ju tegas. Kata-katanya semacam ancaman yang tidak boleh Ye Joon.
Ye Joon pun mengangguk dan melepaskan diri dari rangkulannya. Lalu Hyeon Ju juga pergi.
krring
Bel masuk sudah berbunyi, membuat Soo Yeong dan Ye Joon berlari menuju kelas karena masih berada didekat lapangan basket. Keduanya belum sempat membahas apapun karena waktu yang tidak memungkinkan. Sesampainya dikelas mereka buru-buru duduk dibangkunya dan bersiap melanjutkan pelajaran.
-
skip
-
Sebelum pulang Pak Choi memberikan pengumuman.
"Anak-anak, Bapak disini akan memberi beberapa pengumuman. Yang pertama, kalian pasti tahu kan kalau sebentar lagi akan ada Tes Akhir Semester? "
"Haha. Bapak tahu, reaksi kalian akan seperti ini. Tapi yang terpenting adalah kalian harus mulai menyiapkan semuanya dari sekarang. Agar kalian belajar lebih giat. Bapak juga menyarankan kalian untuk membuat kelompok untuk belajar bersama, supaya akan lebih mudah jika ada yang tidak dimengerti. Dan jugaa setelah tes berakhir, sekolah akan mengadakan wisata untuk kelas 1 dan 2. Kelas 3 memang sengaja tidak diikutsertakan karena mereka harus mempersiapkan diri untuk masuk ke universitas pilihan mereka. Jadi, kalian harus selalu bersemangat. Oke? " tambah Pak Choi. Ia lalu berjalan keluar kelas dengan diiringi senyum untuk menyemangati para siswa.
"Soo Yeong, bagaimana kalau kita satu kelompok. Aku akan mengajarimu sampai bisa. Lihatlah catatanku lengkap. " ajak Jae Min setelah Pak Choi meninggalkan kelas.
Soo Yeong tersenyum sekilas dan memikirkan tawaran Jae Min sembari mengemas buku pelajarannya.
"Bagaimana? " tanya Jae Min memastikan.
"Bagaimana kalau aku juga ikut dengan kalian. Aku baru saja pindah dan lihat, catatanku bahkan tidak ada setengahnya dari milikmu. Aku membutuhkan bantuan mu juga Jae Min. " seka Ye Joon diantara obrolan mereka. Bisa dilihat jika Jae Min menjadi sebal karena Ye Joon terus mengganggunya ketia Ia mencoba mendekati Soo Yeong.
"Kurasa itu ide yang bagus Jae Min. Kita bisa mengajak satu orang lagi. Supaya lebih efektif belajar kelompok kita nanti. " Soo Yeong memberikan pendapatnya.
"Kalau begitu, aku boleh ikut? " potong Ra Yun yang sedang duduk didepan Jae Min sambil mendengar obrolan kami.
"Tentu." jawab Soo Yeong dan Ye Joon bersama. Ra Yun merupakan siswa yang juga cukup pintar dikelas itu. Ia biasanya pasti mendapat peringkat 5 besar. Jadi akan menjadi komposisi yang pas ketika ada 2 orang pintar dalam satu kelompok.
Jae Min sebenarnya ingin menolak. Karena pada awalnya ia hanya ingin berdua dengan Soo Yeong saja. Tapi gagal seketika saat Ye Joon ikut campur. Apalagi dengan Ra Yun juga, Dia akan merasa pusing.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya. Soal mulai kapannya belajar kelompok kita, kita bicarakan lagi besok. Atau hubungi aku ketika kalian sudah memutuskan. Aku siap kapan saja. Oke? Daaaah. " Soo Yeong berpamitan dan berjalan keluar kelas. Diikuti juga oleh Ye Joon dibelakangnya. Jae Min dan Ra Yun hanya saling menatap melihat dua orang itu pergi.
"Soo Yeong, tunggu. Kan aku yang akan mengantarmu pulang. Jadi kita harus berjalan bersama. " kata Ye Joon yang kini sudah berjalan berdampingan dengan Soo Yeong.
Soo Yong tersenyum dan mengangguk yakin. Merekapun berjalan keluar area sekolah menuju halte bis terdekat. Baru beberapa meter berjalan, mereka sudah dicegat oleh Tae Hi bersama teman-temannya.
"Kak Ye Joon. Apa Dia yang kamu sebut kekasihmu tadi? " ucap Tae Hi sembari menunjuk kearah Soo Yeong.
Mereka pun berdiri canggung seperti sedang ketahuan selingkuh. Mereka belum juga sempat membahas komitmen tadi karena waktu yang tidak mendukung. Soo Yeong rencananya akan membahasnya saat naik bis nanti. Tapi malah sekarang sudah dituntut jawabannya.
"Bukan urusanmu Tae Hi. Kamu tidak perlu ikut campur. Lebih baik fokus saja pada tes yang akan datang. " Ye Joon menyela dan membuat Tae Hi tak bisa berkata-kata lagi.
Ia lalu menggenggam tangan Soo Yeong dan menariknya pergi. Tae Hi dan kawan-kawan semakin kesal dan menatapnya penuh iri.
Soo Yeong dan Ye Joon mengitari jalan dengan bergandengan tangan. Pasalnya Ye Joon benar-benar enggan melepaskan tangan Soo Yeong.
"Lepaskan saja Ye Joon. Kalau nanti ada yang melihatnya gimana. " pinta Soo Yeong yang terus mencoba melepaskan tangannya.