
“sekarang pulanglah, aku juga harus pulang.” Kata Soo Yeong sambil melepaskan pelukan itu.
“Baiklah.” Ye Joon menurutinya.
Setelah Ye Joon sudah benar-benar pergi, Soo yeong juga berjalan pulang menuju rumahnya. Ada sedikit sesuatu yang mengganjal tapi Dia memilih untuk tidak menghiraukannya.
“Pa, Ma, aku pulang.” Ucap Soo Yeong setelah memasuki rumahnya.
“Papa, belum pulang sayang. Sepertinya lembur. Sana mandi lalu makan, Mama sudah menyiapkan makanan untukmu.” Kata Mamanya.
“Hmm.” Soo Yeong lalu berjalan masuk kekamarnya.
Sore itu Soo Yeong melakukan seluruh kegiatannya seperti biasa. Mulai dari makan malam sambil berbincang sebentar dengan Mamanya lalu belajar sebelum tidur.
-
Pagi
Sesampainya dihalte, Ia kebetulan bertemu Hyeon Ju. Soo Yeong memang sengaja tidak menunggunya karena sedang tidak mood. Entah kenapa Dia sedikit tidak bersemangat, lelah mungkin.
“Soo Yeong, kamu tidak menungguku? “ sapa Hyeon Ju pada Soo Yeong yang sedang menunggu bus dengan lesu.
“Toh kita juga bertemu dihalte kan.” Balasnya singkat tak bersemangat.
Hyeon Ju tak langsung membalas perkataan Soo yeong karena bus yang mereka tunggu sudah tiba. Mereka berdua buru-buru masuk, tapi tiba-tiba ada seorang lelaki yang menabrak Soo Yeong hingga membuatnya terjatuh.
“Aduh.” Rengeknya saat terjatuh. Hyeon Ju sigap membantu Soo Yeong berdiri. Mereka berdua keheranan melihat orang yang menabrak Soo Yeong berjalan santai tanpa rasa bersalah. Hyeon Ju sebenarnya ingin mengejar lelaki itu tapi ditahan Soo Yeong karena bus akan segera berangkat.
“Sudah lah ayo naik saja, dari pada telat sampai sekolah nanti. Tidak menyenangkan kalau kita dihukum ditengah lapangan .” kata Soo Yeong sambil menaiki bus yang sudah menunggu.
“Tapi kamu tak apa-apa?” tanya Hyeon Ju khawatir sambil mengikutinya dari belakang.
Bus yang mereka tumpangi cukup penuh, sehingga mereka harus berdiri. Tapi tak apa yang penting mereka sampai tepat waktu.
Soo Yeong beberapa kali mengibas-kibaskan roknya yang kotor karena terjatuh tadi. Oleh karena itu ia berjalan tak beraturan menuju area sekolah.
“Soo Yeong aku masuk dulu.” Ucap Hyeon Ju saat sampai didepan kelasnya.
“Ohh? Iya.”
Aneh, Tae Hi tumben tidak mencegatnya pagi ini.
“Soo Yeong, apa yang terjadi padamu.” Sapa salah seorang temannya yang mengetahui rok yang Ia pakai kotor. Lututnya juga sedikit kemerahan karena terbentur aspal.
“Hehe, tidak apa-apa.” Kekeh Soo Yeong sedikit dipaksakan.
Ia langsung berjalan menuju bangkunya. Terlihat Ye Joon yang menunggunya dengan wajah khawatir.
“Aku tidak apa-apa.” Ucap Soo Yeong saat menyadari hal itu.
Ye Joon masih tidak percaya lalu memeriksa lutut dan bagian lain dengan seksama.
“Benar tidak apa-apa?” ucapnya khawatir.
“Hentikan.” Soo Yeong duduk dibangkunya.
“Tadi tidak sengaja bertabrakan dengan orang yang tidak kukenal, berhenti khawatir dan duduk saja dibangkumu.” Tambahnya.
Ye Joon menurutinya. Jae Min kini benar-benar dingin dengan mereka berdua, melihat Soo Yeong seperti itu saja Dia tetap diam tidak peduli.
Kegiatan belajar pun dimulai dengan wejangan oleh Pak Choi seperti biasa. Selalu saja mengingatkan tentang tes yang sudah dekat dan hal-hal menyebalkan lainnya.
-
Ia lalu mengikuti Ye Joon yang sudah berdiri disampingnya. Seperti biasa, mereka berjalan bersama menuju kantin.
Benar-benar tidak ada yang berbeda, masuk kelas, mulai pelajaran lagi, pulang naik bus lagi bersama Ye Joon, seperti itu. Tapi ketika hendak naik bus untuk pulang, Soo Yeong ditabrak lagi oleh seorang laki-laki asing berjaket hitam. Untung saja Ye Joon sigap menangkapnya jadi Dia tidak harus menyapa aspal juga seperti tadi pagi.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Ye Joon. Soo Yeong menggeleng yakin walaupun Dia sedikit merasa aneh dengan lelaki tadi, sepertinya Dia adalah orang yang sama dengan lelaki pagi tadi. Tapi Dia tidak mengatakannya pada Ye Joon karena belum yakin betul.
Bus pun melaju pergi setelah Ye Joon dan Soo Yeong naik.
Kali ini Ye Joon mengantarnya sampai depan rumah karena sedikit merasa khawatir.
“Terimakasih Ye Joon, kamu bisa pulang sekarang.” Kata Soo Yeong.
Setelah memastikan Soo Yeong pulang dengan selamat, Ia bisa pulang dengan tenang.
“Soo Yeong, tadi ada paket untukmu. Mama taruh dikamar ya.” Kata Mama Soo Yeong saat mengetahui anaknya sudah pulang sekolah.
“Iya Ma.” Ucap Soo Yeong seraya berlari menuju kamarnya, karena penasaran dengan paket yang Mamanya maksud. Ia sedikit penasaran karena selama ini tidak ada yang mengirimi Soo Yeong apapun.
Sebuah kotak coklat ber lapiskan kertas bergambar doraemon, kartun yang Ia suka tergeletak dikasur miliknya. Soo Yeong cukup antusias membuka paket itu karena dari kemasannya saja sudah menarik hatinya.
Tapi saat Ia mulai membuka kotak itu, Soo Yeong merasa tidak mengerti dengan isi dari kotak itu. Pasalnya yang ada hanyalah tali tambang usang. Kondisinya sudah sangat tidak baik, setiap beberapa centi serat dari tambang itu sudah rusak bahkan ada yang terkoyak. Jantungnya seketika berdegub kencang ketika ingatannya dulu samar menghantui otaknya.
Soo Yeong reflek menutup kotak itu dan melemparnya asal kesudut rumah.
“Sayang, apa isinya?” tanya Mamanya yang sudah berada diambang pintu.
“Ohh. Bukan apa-apa Ma.” Soo Yeong berusaha menutupi ketakutan pada dirinya.
“Oh,tapi kenapa kotaknya tergeletak sembarangan disana.” Mamanya mencoba mengambil kotak itu dan menaruhnya dimeja belajar Soo Yeong.
“Cepat bersih-bersih dan segera turun. Papa sudah menunggu dibawah, kita makan malam bersama.” Tambahnya.
Soo Yeong merasa lega karena kotak itu hanya diletakkan disana tanpa dibuka dulu. Ia takut membuat orang tuanya khawatir.
Selang beberapa saat Ia turun menghampiri Papa dan Mamanya yang sudah menunggu. Mereka bertiga lalu makan malam bersama.
“Pa, Ma, aku kekamar dulu ya. “ ujar Soo Yeong seraya bangkit dari tempat duduknya. Ia sedikit tidak nafsu makan setelah mendapat paket itu.
Orang tuanya tidak terlalu curiga dengan gerak gerik anak semata wayangnya itu.
-
Pagi
“Sayang, bangun. Sudah waktunya berangkat sekolah.” panggil Mama Soo Yeong yang belum melihat anaknya keluar dari kamar. Takut kalau terlambat.
“Sudah siang, Papa antar saja ya. Pasti tidak sempat kalau naik bus.” Kata Papanya.
Soo Yeong mengangguk lesu dan berpamitan pada Mamanya.
Selang beberapa saat mobil Papa Soo Yeong keluar dari pekarangan rumah. Terlihat Hyeon Ju berlari keluar. Sepertinya Dia juga kesiangan.
“Hyeon Ju, ikut paman saja. Soo Yeong juga sedikit kesiangan jadi paman yang antar.” Papa Soo Yeong menawarkan tumpangan.
Hyeon Ju mengiyakan dan bergegas masuk, tapi Soo Yeong hanya diam saja tidak menyapa atau mengajaknya bicara. Tapi Hyeon Ju tidak mempermasalahkan apapun karena mendengar kalau Soo Yeong juga kesiangan, mungkin Dia masih mengantuk.