
Soo Yeong tetap melanjutkan perjalanannya walaupun ingat ada hal yang Ia lupakan. Besok, iya Ia akan membicarakannya lagi dengan Ye Joon besok. Sekarang Dia hanya ingin pulang dulu. Dia sudah cukup lelah.
“Sore Pa,” sapa Soo Yeong pada Papanya yang sedang duduk diteras. Ditemani dengan secangkir teh dan juga kue kering. Sepertinya Dia sedang menunggunya pulang.
“Sudah dari tadi Papa melihat Hyeon Ju pulang. Kenapa kamu baru sampai rumah?” tanya Papa Soo Yeong sambil sesekali Ia menyeruput tehnya.
“Kata siapa aku pulang dengan Hyeon Ju? Aku tadi diantar Ye Joon sampai taman depan sana Pa.” Soo Yeong menjelaskan.
“Ya sudah sana cepat masuk dan mandi. Mama sudah menyiapkan makan untuk mu.”
Soo Yeong berjalan masuk kedalam rumah meninggalkan Papanya dan bersiap mandi.
-
Skip
-
Malam telah tiba,Soo Yeong bersiap untuk belajar. Tapi beberapa kali Ia membuka ponselnya berharap Ye Joon akan menghubunginya, tapi tak ada satupun notifikasi yang muncul.
“Ye Joon sedang apa?Apa Jae Min dan Ra Yun menghubungimu soal belajar kelompok kita? Aku belum mendapat kabar dari mereka.” Bunyi pesan yang Soo Yeong kirim pada Ye Joon. Ia memutuskan untuk menghubunginya duluan.
“Aku sedang tidak melakukan apapun. Bosan sekali. Mengenai itu, Aku tidak mendapat kabar apapun dari mereka.Coba saja kamu yang mencoba menghubungi mereka.” Balas Ye Joon.
“Kita kan sebentar lagi tes,kamu seharusnya belajar. Kalau tidak mau belajar tidak usah ikut belajar kelompok, hanya membuang waktumu saja.” Balas Soo Yeong.
“Aku akan menghubungi Jae Min.” Tambahnya.
“Iya. Iya. Aku akan belajar.”
Saat saling berkirim pesan, Soo Yeong ingat akan hal yang ingin Dia bahas dengan Ye Joon. Tapi Ia memutuskan untuk membicarakannya besok. Akan lebih nyaman jika bicara langsung.
“Jae Min, apa kamu dan Ra Yun sudah memutuskan kapan kita akan belajar kelompok?” tanya Soo Yeong pada pesan yang Ia kirim.
“Aku belum sempat membahas hal itu dengannya. Kalau kamu kapan ada waktu luang?” balas Jae Min.
“Bagaiman kalau lusa, hari sabtu?”
“Baiklah. Aku akan mengabari Ra Yun.”
Setelah mengatur jadwal belajar kelompoknya. Ia merapikan kembali buku pelajarannya dan bersiap tidur.
-
Pagi
Seperti biasanya Soo Yeong bersiap untuk berangkat sekolah. Kini Dia berangkat lebih pagi dari biasanya karena tak lagi diantar oleh Papanya.
“Pa, Ma, aku berangkat dulu. Daaah. “ Soo Yeong berpamitan pada orang tuanya.
Setelah Ia keluar dari gerbang, Ia mendapati Hyeon Ju yang juga akan berangkat sekolah.
“Tumben pagi sekali. Kamu tidak diantar Papamu?” sapa Hyeon Ju.
“hmm. Baiklah, kalau begitu ayo. Jangan sampai tertinggal bus.” Ajak Hyeon Ju. Kini mereka berjalan bersama menuju halte.
Setelah menunggu beberapa saat,akhirnya bus yang mereka tunggu datang. Waktu yang mereka butuhkan tidak banyak, hanya kira-kira 20 menit untuk sampai sekolah. Setelah sampai disekolah, Soo yeong dan Hyeon Ju berpisah karena kelas mereka berbeda.
Soo Yeong berjalan santai menuju kelasnya. Dan ditengah perjalanan Ia bertemu dengan Tae Hi yang sedang berdiri diujung lorong. Sepertinya Tae Hi menunggunya. Itu hanya spekulasinya saja, jadi Ia berjalan melewati Tae Hi tanpa menghiraukannya.
“Kamu yang bersama kak Ye Joon kemarin kan? “ kata Tae Hi tiba-tiba. Ia tak serta merta menyebut nama Soo Yeong tapi memang hanya ada mereka berdua disana. Jadi memang pertanyaan itu Ia tujukan pada Soo Yeong.
Soo Yeong berbalik dan menatap Tae Hi heran.
“Kau bertanya padaku?” tanya Soo Yeong sembari menunjuk dirinya sendiri.
“Tentu saja,siapa lagi. Hanya ada kita berdua disini.” Ucap Tae Hi santai.
Soo Yeong terdiam sejenak karena heran Tae Hi berbicara sangat santai padanya. Padahal Dia itu adik kelasnya yang bisa dibilang lebih muda darinya. Tapi sikapnya sangat tidak sopan dan menyebalkan.
“Ada apa memang?” kata Soo Yeong singkat tak kalah santai.
“Apa hubuganmu dengannya? Aku tegaskan ya, lebih baik kamu jauh-jauh darinya. Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan kak Ye Joon. Aku menyukainya dan aku akan selalu mendapatkan apa yang aku sukai. “ ujar Tae Hi dan berjalan meninggalkan Soo Yeong yang sudah sangat kesal.
“Dasar anak kecil yang menyebalkan.” Ucap Soo Yeong sambil berjalan menuju kelasnya. Mukanya cemberut tak seperti tadi pagi yang ceria. Moodnya seketika hancur hanya karena ucapan seorang anak kecil. Seharusnya memang Dia tidak seperti ini, Ye Joon sudah menjadi miliknya dan sudah pasti tak akan meninggalkannya. Tapi tetap saja Ia kesal ketika ada orang lain yang dengan Pdnya bilang menyukai kekasihnya. Karena hal itu, keputusan Soo Yeong untuk membiarkan orang lain tahu akan hubugannya dengan Ye Joon semakin bulat.
Sesampainya dikelas Ia mendapati Ye Joon yang sedang tertidur dibangkunya.
“Ye Joon, kamu kenapa sih sekarang setiap hari selalu tidur disini?” kata Soo Yeong sembari mengguncang-guncang badan Ye Joon. Ye Joon pun terbangun.
“oh. Hai Soo Yeong,kamu sudah datang?” ucap Ye Joon. Sesekali Ia menguap untuk melepaskan rasa kantuknya.
“Jangan mengalihkan pembicaraan.” Kata Soo Yeong sambil mimicingkan lengannya.
“Aku sangat mengantuk Soo Yeong. Kamu menyuruhku belajar, jadi aku belajar sampai larut malam.” Katanya. Ia tidak memberitahu Soo Yeong alasannya yang sebenarnya. Padahal Ia menjadi sulit tidur ketika tahu Yu Ri sudah pulang. Ia selalu khawatir jika suatu saat Yu Ri tahu mengenai Soo Yeong. Ia tak bisa membayangkan apa yang selanjutnya akan terjadi.
Soo Yeong terdiam setelah mendengar alasan yang Ye Joon berikan. Ada sedikit rasa bersalah dihatinya. Ia sudah berburuk sangka padahal semua itu ternyata karenanya.
Kkring
Bel masuk sudah berbunyi, Soo Yeong langsung duduk dibangkunya tanpa berkata apapun pada Ye Joon. Disisi lain Jae Min terus memperhatikan Soo Yeong sedari tadi, Ia sedikit kecewa karena Soo Yeong hanya fokus pada Ye Joon tanpa menyadari bahwa dirinya sedang dperhatikan oleh orang lain.
Pak Choi memasuki kelas dan memulai apel pagi.
“Sudah menentukan kelompok seperti yang bapak usulkan kemarin?” tanya Pak Choi.
“Sudah Pak.” Jawab mereka tak beraturan. Ada yang tidak peduli, ada juga yang tidak tertarik.
“Bagus. Sepertinya sebagian besar dari kalian ada yang sudah membuat kelompok. Belajarlah yang rajin ya. Semoga kelas kita mendapat nilai rata-rata yang memuaskan. Yang belum memiliki kelompok,segera bergabung supaya belajar kalian lebih efektif. Mengerti?” ujar Pak Choi ramah. Beliau adalah wali kelas yang menyenangkan. Tidak pernah menuntut tapi menekan dengan halus. Sama saja? Tapi tetap saja beda feelnya.
“Mengerti Pak.” Jawab mereka serentak.
“Kalau begitu bersiaplah untuk memulai pelajaran. Bapak akan kembali keruang guru. Jae Min,jangan lupa jika guru yang dijadwalkan tidak kunjung datang, segera cari diruangannya ya.” Kata Pak Choi sambil berjalan keluar kelas. Jae Min mengiyakan.