
“Akh, bukan seperti itu.” Ujar Ye Joon.
“Lalu?” selidik Hyeon Ju.
Ye Joon kebingungan harus memulai cerita dari mana.
“Kenapa berbelit-belit sekali sih? Kamu kan memang kekasihku? Kenapa harus menutupinya sih Ye Joon?” perkataan yang keluar dari mulut Yu Ri seperti beban untuk Ye Joon hingga terus membuatnya semakin terpojok.
“Aku sudah pernah memperingatkanmu agar tidak menyakiti persaan Soo Yeong bukan?” tanya Hyeon Ju.
“Aku tidak akan menyakitinya, percayalah padaku !!” Ye Joon mulai kehabisan kata-kata untuk membela diri.
“Dengan seorang gadis lain yang memelukmu dengan erat, kamu fikir tidak akan menyakitinya? Ayolah Ye Joon,”
“Dia adalah orang yang terus meneror Soo Yeong.” Ye Joon akhirnya buka suara.
Wajah Yu Ri terlihat kesal ketika Ye Joon membuka kedoknya, tapi malah mengambil kesempatan ini untuk menghancurkan hubungan Ye Joon dengan Soo Yeong.
“Iya, benar. Tapi ketauhilah hal itu adalah rencana kami. Aku, Rye Weok, Ye Joon.” Kata Yu Ri.
“Yak !! Cha Yu Ri !! Jangan mengada-ada !!!” mata Ye Joon terlihat menajam ditambah dengan amarahnya yang membuat wajahnya merah padam.
“Ohh, jadi selama ini kamu mempermainkan kami?” Hyeon Ju menyela, tangannya mengepal seolah siap untuk mendaratkan pukulan keras ke wajah Ye Joon tapi masih Ia tahan.
“Bukan begitu Hyeon Ju, wanita ini hanya mengarang cerita. Jangan terpengaruh dengan kata-katanya.” Ye Joon masih berusaha membela diri.
“Kenapa masih terus saja mengelak sih Ye Joon, kita sudah tertangkap basah , mau bagaimana lagi? Bukannya kita bertemu disini untuk membicarakan rencana kita selanjutnya? Kita hanya perlu menunggu Rye Weok datang.” Yu Ri benar-benar ular.
“Hyeon Ju ? benar kan namamu tadi Hyeon Ju?” tambah Yu Ri sambil menunjuk kearahnya.
“Kamu ingin bukti? Aku akan memberikan satu alasan, selanjutnya terserah bagaimana cara mu mengartikannya. Yang mengirim seluruh paket-paket itu adalah Rye Weok, lalu menurutmu darimana Dia tahu alamat rumahnya kalau bukan dari Ye Joon? Aku sendiri tidak tahu dimana alamat rumah Soo Yeong.”
Hanya dengam kalimat itu cara Hyeon Ju memandang Ye Joon langsung berubah, Dia semakin curiga pada Ye Joon atas semua ucapan Yu Ri.
“Sudah cukup. Aku mengerti.” Ucap Hyeon Ju pelan.
“Mengerti apa? Kamu hanya termakan omongan Yu Ri. Mudah sekali kamu mempercayainya padahal belum tentu juga ucapannya benar. Kalau soal alamat bukankah itu hal yang mudah untuk dicari tahu. Ayolah Hyeon Ju, aku yakin kamu pasti bisa memikirkannya tanpa terdorong dengan semua kata-kata Yu Ri. Dia ular Hyeon Ju !!” Ye Joon mati-matian membela dirinya. Soo Yeong adalah orang yang cukup berarti untuknya, jadi tidak mungkin kalau Ia mencoba menyakiti Soo Yeong.
Sesaat setelah Ye joon selesai mengatakan itu semua, Hyeon Ju pergi tanpa mengatakan apapun. Espresi wajahnyapun tidak bisa diartikan bagaimana.
“Hyeon Ju, kau pecaya dengan wanita ini??” teriak Ye Joon pada Hyeon Ju yang semakin jauh pergi. Rasanya Ia ingin sekali menampar Yu Ri saat itu juga. Wanita ular itu benar-benar sukses mengacaukan segalanya.
“KAMU !!!!” Ye Joon menggigit bibirnya keras karena sangat kesal dengan ulah Yu Ri.
“Kenapa? Kamu yang memulainya Ye Joon. Kamu yang memberiku kesempatan ini.” Yu Ri sangat santai mengucapkan kata-katanya.
“Dasar gila !!” Ye Joon bersiap menamparnya karena amarahnya yang sudah sangat tidak terkontrol. Tapi tertahan oleh Rye Weok yang tiba-tiba muncul.
“Dia bukan wanita. Dia ular .”
“Jaga ucapanmu !!” pukulan keras mendarat diwajah Ye Joon hingga membuatnya terjatuh. Yu Ri terkejut bukan main dan mencoba membantu Ye Joon bangun namun dicegah oleh Rye Weok. Dia langsung ditarik menjauh dengan paksa.
“Rye Weok, apa yang kamu lakukan ?“ suara Yu Ri terdengar bergetar.
“Apa kamu tidak dengar apa yang dia ucapkan padamu? Tidakkah kamu merasa sakit hati?”
“Bukan urusanmu. Jangan juga melewati batas, kamu bukan siapa-siapa !!” Yu Ri mulai berteriak.
“Bukan siapa-siapa katamu? Asal kamu tahu, aku menyukaimu sejak lama tapi kamu terus saja hanya melihat pada Ye Joon. Tidakkah kamu sadar aku mau melakukan apapun yang kamu inginkan, apapun itu. “ Rye Weok menarik paksa Yu Ri lebih dekat padanya. Matanya menajam.
“Lepaskan !!” Yu Ri memberontak tapi tidak bisa lepas karena Rye Weok mencengkramnya dengan kuat.
“Kumohon Yu Ri, sekali saja. Lihatlah aku, terima perasaanku. Aku sangat menyukaimu.” Yu Ri semakin kesakitan karena kelakuan Rye Weok yang menggila.
Ye Joon yang melihat hal itu langsung menarik Yu Ri dan menyembunyikannya dibalik tubuhnya.
“Kau juga sama saja, bersikap kasar terhadap wanita, terlebih orang yang kamu suka. Berhentilah berbuat semacam ini dan juga berhentilah menggangguku dengan Soo Yeong. Urus saja urusan kalian berdua, jangan menarikku kedalam masalah yang bukan urusanku. “
Ye Joon langsung berjalan meninggalkan mereka berdua, sedangkan Yu Ri masih terdiam membisu.
-
Sesampainya dirumah, Ye Joon disambut oleh kedua orang tuanya yang sedang duduk menunggu diruang tamu. Ye Joon sedikit heran karena tidak biasa mereka seperti itu lalu memutuskan untuk melewati mereka tanpa menghiraukannya.
“Ye Joon, begitukah sikapmu saat melihat orang tuamu duduk menunggumu pulang?” kata Ayahnya yang sedang duduk sambil melipat kedua tangannya kedada.
“Bukannya kalian juga tidak pernah menganggapku ada?” balas Ye Joon sembari memutar badan menghadap kedua orang tuanya lalu berjalan mendekat.
“Astaga !! apa yang terjadi dengan wajahmu? Kau berkelahi? Dengan siapa?” Ibunya terlihat khawatir, namun bisa Ye Joon rasakan saat ini Ia sedang tidak pura-pura. Rasanya seperti kata-kata itu memang datang dari hati. Tidak ada tanda kebohongan dimatanya.
Ibu Ye Joon langsung berjalan mendekat dan mencoba melihat luka diwajah anak semata wayangnya itu. Kini semakin terlihat jelas tatapan tulus dari Ibunya yang membuat Ye Joon terdiam.
“Ye Joon !! Kamu berkelahi dengan siapa? Bukankah Ayah memindahkanmu agar kamu menjadi anak yang lebih baik? Tapi sekarang apa? Malah terlibat masalah dengan berkelahi? Mau Ayah pindahkan kemana lagi?” terdengar suara Ayahnya ikut campur.
“Sudah lah. Kita bahkan belum tahu cerita dari Ye Joon kamu sudah menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya semakin sakit.” Ibunya bahkan kini membela Ye Joon.
Sungguh hal ini membuat Ye Joon berfikir keras, apa yang sebenarnya membuat kedua orang tuanya begitu berbeda?
“Ibu, obati dulu ya lukanya?” suara Ibu Ye Joon terdengar sangat lembut.
“Tidak apa-apa Bu, aku akan mengobatinya sendiri dikamar. Dan juga semua yang terjadi hanyalah kesalah pahaman, aku tidak berkelahi dengan siapapun. Jadi Ayah tidak perlu repot-repot memindahkanku lagi. Sekolahku yang sekarang, aku menyukai tempat itu.” Ye Joon menjelaskan dengan singkat dan berlalu meninggalkan kedua orang tuanya menuju kamarnya.