Could It Be You?

Could It Be You?
42. D-Day


Soo Yeong setengah berlari menuju kamarnya. Antara malu jika orang tuanya melihat saat Ia merasa seperti ini, wajahnya yang sudah memerah menjadi alasannya untuk bersembunyi.


“Uh. Pulang saja kenapa harus diam-diam seperti ini.” Soo Yeong bergumam sendiri sembari meletakkan tas sekolahnya ditempat biasa.


“Semua ini karena Ye Joon.”


“Tapi aku juga menyukainya. Aaaaaaaaahhh sudah lah.”


Soo Yeong terus saja bicara pada dirinya sendiri. Segala perlakuan Ye Joon terhadapnya begitu manis. Tak dipungkiri juga kalau Soo Yeong bisa lebih membuka diri pada dunia luar dan belajar meninggalkan masa lalu adalah berkat kekasihnya, Ye Joon. Bahkan dimana Ia sangat merasa down pun, Ye Joon lah yang Ia harapkan sebagai tempat berlindung.


“Sayang, Mama sudah menyiapkan makan malam untukmu. Segera turun dan makan bersama kami.” Teriak Mama Soo Yeong membuat lamunannya buyar.


“Iya,Ma. Sebentar.”


Tak lama Soo Yeong turun kemeja makan dan sudah ada Papa dan Mamanya yang menunggu disana. Mereka sudah siap untuk makan malam.


“Ma, sebentar lagi akan ada tes.” Kata Soo Yeong sembari mengunyah makanannya.


“Oh iya. Bagaimana? Apa kamu sudah menyiapkannya?” Mama Soo Yeong terdengar antusias. Papanya juga memandangnya sama antusiasnya.


“Tentu Ma, Ye Joon yang membantuku.”


“Oh begitu ya. Bagus lah. Papa dan Mama tidak perlu khawatir lagi.” Jawab orang tua Soo Yeong diiringi senyum hangat mereka.


Setelah acara makan malam mereka selesai Soo Yeong berpamitan pada orang tuanya dan berjalan kembali menuju kamar. Sudah beberapa hari terakhir Ia merasa begitu tenang. Tidak ada yang mengganggunya dan juga Ia memiliki lebih banyak waktu berdua dengan Ye Joon.


-


Hari tes.


Seperti biasanya, hari ini Soo Yeong bersiap untuk berangkat sekolah. Tentu saja naik bus umum, sudah ada Hyeon Ju yang sedang menunggunya didepan rumah untuk berangkat bersama menuju halte. Walaupun sudah semalaman begadang belajar tapi Ia masih bisa bangun pagi karena ingat hari ini adalah hari pertama tes.


“Tumben tidak perlu waktu lama menunggumu?” sapa Hyeon Ju setelah Soo Yeong keluar dari area rumahnya.


“Ish. Sama saja tau. “


Mendengar Soo Yeong yang terdengar kesal membuat Hyeon Ju cukup terhibur.


“Bagaimana? Sudah siap dengan tes hari ini?” tanya Hyeon Ju lagi dengan senyuman samar diwajahnya.


“Tentu saja. Kalian sudah banyak membantuku selama ini. Aku tidak mengejar nilai sempurna, asalkan tidak terlalu hancur itu sudah cukup bagiku.” Ucap Soo Yeong sambil membenarkan seragamnya yang terlihat sedikit berantakan.


“Jadi kamu tidak perlu merasa khawatir, bukan?”


“Tentu saja tidak. Hehe.” Soo Yeong dan Hyeon Ju mengobrol disepanjang perjalanan mereka menuju halte. Kadang juga dihiasi dengan gelak tawa Hyeon Ju saat mendengar ceritak tentang gombalan yang Ye Joon kirimkan padanya.


Hari ini bus yang mengantar mereka kesekolah datang sedikit terlambat. Hanya sekitar 10 menit memang. Tapi hal itu tidak terlalu mengganggu, karena Soo Yeong dan Hyeon Ju sampai disekolah tepat waktu.


“Selamat mengerjakan tes mu ya, Soo Yeong. Semangat.” Ucap Hyeon Ju saat Ia sampai didepan kelasnya.


“Hm. Iya. Kamu juga. Aku mengharapkan hasil terbaik dari tesmu. Dah.” Soo Yeong berjalan kembali menuju kelasnya setelah Hyeon Ju masuk.


Sudah sekitar beberapa bulan yang lalu, Ia bisa hidup dengan damai, kini secara tiba-tiba dihari yang cukup penting terlihat Tae Hi sedang menunggunya diujung lorong. Suasana hati Soo Yeong yang tadinya bahagia, kini hancur seketika.


“Kuharap Dia tidak menggangguku lagi kali ini.” Gumam Soo Yeong seraya berjalan melewati Tae Hi tanpa menghiraukannya.


“Hei !! Aku ada disini. Kenapa kamu hanya lewat saja tanpa menghiraukanku?” ucap Tae Hi setelah melihat ada orang yang cuek padanya.


“Hanya ingin menegaskan saja kalau aku masih menyukai Ye Joon oppa. “


“Terserah.” Tanpa menunggu jawaban dari Tae Hi, Soo Yeong berjalan meninggalkannya begitu saja. Dia tahu betul jika meladeninya, Ia akan kelelahan sendiri. Karena apapun yang berhubungan dengan Tae HI akan terasa menyebalkan baginya.


Setelah sampai ditempat duduk miliknya, Soo Yeong segera mempersiapkan buku-bukunya dan belajar seperti yang lain.


Kriing kring kring


Bel tanda masuk sudah berbunyi. Dan tanpa menunggu lama, terlihat Pak Choi dari pintu luar.


“Sudah belajar kan kalian?” tanya Pak Choi sebagai ganti salamnya yang sedang memberi wejangan seperti biasa disetiap pagi.


“Sudah Pak.” Jawab semua murid dikelas itu secara serempak. Begitupun Soo Yeong dan Ye Joon. Walaupun beberapa bulan terakhir mereka tertinggal begitu jauh, tapi karena Jae Min dan Ra Yun bersedia membantu jadinya tidak ada yang perlu mereka khawatirkan lagi. Banyak materi yang kini sudah berada diotaknya.


“Bagus. Kalau begitu selamat mengerjakan tes hari ini. Semangat !!!” wajah ceria Pak Choi menghilang dibalik pintu beserta suaranya yang kini semakin samar terdengar.


Tes Dimulai.


-


Skip


Total satu minggu penuh semua siswa diSMA Cheng In dan juga seluruh SMA dikota S berkutat dengan soal-soal tes. Ada yang merasa lega karena merasa sudah mengerjakan dengan baik sesuai rencana. Namun ada juga yang seolah stress karena soal-soal yang begitu sulit. Tapi ada juga yang bodoamat, tidak peduli.


“Bagaimana perasaanmu setelah tes berakhir?” tanya Ye Joon pada Soo Yeong yang sedang menikmati udara dingin taman dekat sekolah mereka.


“Tentu saja lega. Entah bagaimanapun hasilnya nanti, aku akan tetap puas karena aku mengerjakannya dengan seluruh kemampuanku. Lalu kamu?” tanya Soo Yeong balik dan memandang Ye Joon sekilas.


“Sama sepertimu. Namun ada sedikit kekhawatiran dihatiku.” Ye Joon memperbaiki jaketnya agar lebih hangat. Dia terlihat kedinginan.


“Apa?”


“Libur musim dingin sudah tiba. Dan bisa saja selama itu, aku akan sulit menemuimu. Aku rasa, aku akan merindukanmu.”


“Ish. Apa sih? Jangan berlebihan.” Soo Yeong tersipu malu mendengar ucapan Ye Joon barusan. Dia memang tidak akan terbiasa dengan segala ucapan manis dari kekasihnya itu.


“Hehe. Wajahmu memerah, tapi tetap cantik.” Ye Joon tersenyum.


“Hih. Ye Joon hentikan !!” Soo Yeong reflek menutup wajah cantiknya dengan kedua tangan yang sudah keriput karena kedinginan.


Melihat tingkah Soo Yeong yang begitu menggemaskan, senyuman diwajah Ye Joon semakin melebar.


“Sudahlah. Kita pulang sekarang. Sudah sore.” Ajak Soo Yeong seraya beranjak dari bangku taman.


“Sekarang? “ tanya Ye Joon seolah menolak.


“Dingin sekali Ye Joon.”


“Aku akan memelukmu memberi rasa hangat yang kupunya.”


Plak !!


“Aku bilang hentikan.” Soo Yeong memukul bahu Ye Joon dengan keras saking jengkelnya.


“Hehe. Iya. Iya maaf. Kita pulang sekarang.”