Could It Be You?

Could It Be You?
33. Curiga


“Tidak apa-apa tante, aku akan menemani Soo Yeong. “ kata Ye Joon.


“Tapi orang tuamu....” ucapan Mama Soo Yeong terhenti.


“Jangan khawatir tante, aku akan menghubungi mereka nanti.”


“Baiklah. “


Setelah mengucapkan kalimat itu Mama Soo Yeong keluar dari kamarnya. Berjalan keluar mengembalikan gelas bekas Soo Yeong meminum obatnya tadi dan mengambil minuman untuk Ye Joon. Ia merasa tenang karena anak perempuannya sudah lebih baik, tapi masih penasaran siapa pengirim kotak-kotak itu.


-


“Masih takut ?” tanya Ye Joon pada Soo Yeong.


“Tidak, ada kamu disini.” Jawabnya.


“Maaf ya. Aku mendiamkan mu disekolah tadi. Saat aku jalan menuju sekolah bersama Hyeon Ju pagi tadi, aku melihatmu berbicara dengan seorang pria yang sejak beberapa hari yang lalu menggangguku. Maka dari itu terbesit difikiranku kalau kamu ada hubungannya dengan orang itu.” Tambah Soo Yeong menjelaskan.


“Aku? Berhubungan dengan orang yang mengganggumu? Tidak mungkin.” Ujar Ye Joon diiringi wajah tidak percayanya.


Soo Yeong terdiam, Ye Joon juga. Dia sedang berfikir siapa orang dibalik ini semua. Bagaimanapun caranya Dia akan mencari tahu.


Kring kring kring


Suara ponsel Ye Joon berbunyi karena ada panggilan masuk.


Ye Joon terkejut bukan main saat melihat siapa sang pemanggil. Cha Yu Ri, nama itu terpampang jelas dilayar ponselnya.


“Siapa?” tanya Soo Yeong mengejutkan Ye Joon.


“Oh? Ibuku, aku angkat sebentar ya?” Ye Joon berbohong.


“Angkat saja disini.” Pinta Soo Yeong karena Ye Joon berusaha melepaskan genggaman tangannya.


“Aku akan bicara diluar sebentar. Sebentar saja.”


Soo Yeong akhirnya melepaskan karena Ye Joon melepas paksa genggaman tangannya.


-


“Ada apa?” tanya Ye Joon ketus pada Yu Ri.


“Kenapa jawabanmu dingin sekali. Tentu saja karena aku merindukanmu. “ jawab Yu Ri dari ujung panggilan.


“Jangan bertele-tele, cepat apa maumu?” Ye Joon tak mengurangi nada ketusnya.


“Boleh aku main kerumahmu sekarang?” pinta Yu Ri. Tak ketinggalan nada manjanya.


“Aku tidak dirumah. Suasana hatiku juga sedang tidak bagus, lain kali saja telfonnya.” Baru saja Ye Joon berniat menutup telfon tapi Yu Ri mengucapkan sesuatu yang membuatnya sedikit kebingungan.


“Sedang bersama kekasihmu? Kenapa? Takut akan ada pria serba hitam menyelinap kekamarnya?” ucap Yu Ri.


“Pria serba hitam? “ Ye Joon berusaha mengetahui apa maksud dari ucapan yang baru saja Ia dengar.


“Iyaa. Malaikat pencabut nyawa bukannya mengenakan pakaian serba hitam? Hahaha “ terdengar suara kekehan dari sana.


“Jaga ucapanmu.” Ye Joon terdengar marah.


“Oh? Jadi benar kamu sedang bersamanya?”


Belum mendapat balasan dari pertanyaannya barusan, Ye Joon sudah menutup panggilan itu secara sepihak. Hal itu sukses membuat Yu Ri mendengus kesal.


Ye Joon kembali menghampiri Soo Yeong yang ternyata sudah tertidur.


“Oh sudah tidur.” Gumamnya setelah melihat kekasihnya yang tertidur dengan tenang.


“Aku pulang dulu ya.” Pamitnya seraya mendaratkan kecupan dikeningnya agar Soo Yeong tidak terbangun. Tapi gagal karena seketika itu juga mata Soo Yeong terbuka.


“Kukira sudah tidur.” Ujar Ye Joon.


“Tadinya iya, aku ketiduran karena menunggumu. Tapi bangun lagi setelah merasakan ada sentuhan dikeningku.” Jawabnya sambil menunjuk-nunjuk keningnya dengan imut. Ye Joon tersenyum dengan tingkah Soo Yeong barusan.


“Lalu, kamu akan pulang setelah aku tidur?” Soo Yeong bertingkah sangat manja.


“Kenapa? Takut kalau aku pulang?” Ye Joon kembali duduk dipinggir kasur.


“Iya.”


Ye Joon hanya mengelus kepala Soo Yeong sambil tersenyum karena melihatnya bersikap begitu menggemaskan.


“Aku harus pulang Soo Yeong tapi setelah kamu tidur. Percayalah tidak akan terjadi apapun saat aku tidak ada disampingmu. Jadi tidurlah dengan tenang.” Ye Joon berusaha membuatnya tenang.


“Apa ibumu yang menyuruhmu pulang?” Soo Yeong bertanya.


“Iya.”


“ya sudah, kamu boleh pulang saat aku sudah tidur nanti. Aku melihat hubunganmu dengan orang tuamu sudah lebih baik. Aku tidak ingin merusaknya.” Kalimat yang Soo Yeong katakan barusan membuat Ye Joon merasa bersalah. Bagaimana tidak, Dia selalu beralasan menggunakan Ibunya saat Ia sedang berurusan dengan Yu Ri.


“Maaf ya, aku tidak bisa menemanimu.” Katanya sembari mengeratkan genggaman tangannya pada Soo Yeong.


Selang beberapa saat, Soo Yeong sudah mulai tertidur dan Ye Joon mengambil kesempatan ini untuk segera pulang. Ia lalu bergegas keluar kamar agar Soo Yeong bisa tidur dengan tenang.


“Apa Soo Yeong sudah tidur?” tanya Mama Soo Yeong saat melihat Ye Joon menuruni tangga. Ia sedang mengobrol dengan suaminya yang baru saja pulang bekerja.


“Sudah tante. Halo Om, baru pulang kerja ya.” Sapa Ye Joon pada lelaki itu.


“Iya. Terimakasih ya, sudah mau menemani Soo Yeong hingga tertidur.” Kata Papa Soo Yeong.


“Iya om. Oh iya Om, Tante. Saya harus pamit, saya harus segera pulang. Sudah malam juga.” Ye Joon berpamitan.


“Baiklah. Hati-hati dijalan ya.”


Mereka lalu mengantar Ye Joon sampai depan rumah.


“Pa, malam ini aku akan tidur dengan Soo Yeong ya.”


“Iya. Temani Dia.”


-


Ye Joon berjalan sendirian menuju halte. Ia baru ingat kalau motornya masih terparkir diparkiran sekolah, jadi Ia terpaksa naik bus untuk pulang.


Disela-sela perjalanan Ia membuka ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.


“halo,” jawaban dari ujung telefon itu.


“Rye Weok, tadi pagi ada urusan apa kamu menemuiku?” ternyata Ia menghubungi salah satu temannya.


“Bukannya tadi pagi aku sudah mengatakan padamu kalau aku sedang bolos sekolah dan tidak sengaja menemuimu?”.


Ye Joon sebenarnya sedikit curiga dengan temannya itu karena alasannya yang tidak sedikit mencurigakan. Tapi Dia masih bingung dengan asumsinya itu.


“Kamu yakin tidak memiliki maksud lain?” selidik Ye Joon.


“Tentu saja tidak, tidak ada orang yang kukenal disekolahmu selain kamu Ye Joon.” Jelasnya.


“Ada, Soo Yeong. Kekasihku, kamu mengenalnya. Benar-benar hanya itu tujuanmu?” Ye Joon masih menyelidikinya.


“Yak. Aku ada keperluan apa dengan kekasihmu itu? Kami baru saja bertemu kemarin saat bersamamu waktu itu. Jadi mana mungkin aku punya tujuan lain.” Rye Weok semakin kesal karena Ye Joon terus bertanya hal-hal aneh padanya.


“Benarkah?” Ye Joon tidak percaya.


“Argh. Apa sih maumu, aku harus menjawab apa? Sebenarnya maksudmu menelfonku itu apa? Hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan tidak penting tadi? Lagipula apa yang membuatmu mencurigaiku kalau aku yang meneror kekasihmu.” Rye Weok semakin kesal.


“Aku belum mengatakan apapun mengenai apa yang terjadi dengan kekasihku, bagaimana kamu tahu kalau ada seseorang yang menerornya? Oh? Apa mungkin orang itu kamu.” Ye Joon mendapati Rye Weok berbohong.


“Aku hanya menebak.” Jawab Rye Weok sedikit terbata-bata.


“Wah tebakanmu sangat akurat. Baiklah, aku sudah mengetahui apa yang ingin ku ketahui.” Ye Joon menutup panggilan itu secara sepihak. Ia semakin yakin kalau Rye Weok ada hubungannya dengan orang yang meneror Soo Yeong. Ia akan mencari tahu lebih dalam lagi.