Could It Be You?

Could It Be You?
29. Orang Tak Dikenal 2


“Terimakasih paman atas tumpangannya, aku jadi tidak terlambat.” Kata Hyeon Ju setelah keluar dari mobil.


“Pa, aku masuk dulu ya.” Soo Yeong berpamitan. Papanya hanya membalas dengan senyuman pada dua orangitu. Lalu melajukan mobilnya pergi.


”Soo Yeong, kenapa? Sepertinya kamu tidak bersemangat pagi ini?” tanya Hyeon Ju basa basi.


“Aku hanya sedikit lelah saja. Ayo cepat kekelas, sudah sangat siang.” Ajak Soo yeong seraya berjalan meninggalkan Hyeon Ju.


Setelah Soo Yeong masuk kekelas Ia langsung duduk dan menyandarkan kepalanya dimeja, lalu menghela nafas kasar. Ye Joon tidak menyambutnya karena Dia belum juga terlihat sampai sekarang. Lalu bel masuk berbunyi, tak selang lama Pak Choi masuk kedalam kelas lewat pintu depan dan diikuti Ye Joon yang kelabakan masuk lewat pintu belakang.


“Ye Joon lain kali berangkat lebih pagi ya. Jangan terlambat.” Ucap Pak Choi setelah tahu Ye Joon baru saja tiba.


“Iya pak.” Kata Ye Joon sopan.


Pak Choi langsung keluar setelah mengabsen karena guru mapel yang bertugas sudah menunggu didepan pintu. Pelajaran pun dimulai, tapi Soo Yeong benar-benar tidak bisa fokus. Paket yang ia terima semalam sangat mengganggunya. Rasanya ingatan tentang penculikannya dulu pelahan kembali. Padahal dalam waktu beberapa minggu terakhir, Dia sudah baik-baik saja.


Kkring


Bel istirahat berbunyi dan semua siswa berbondong-bondong keluar kelas. Tapi beda dengan Soo Yeong. Ia tidak terlalu bersemangat, ia masih setia duduk dibangkunya.


“Tidak kekantin?” tanya Ye Joon.


“Tidak, kamu saja. Aku sedang tidak selera makan.” Ucap Soo Yeong sambil meletakkan kepalanya dimeja.


“Kenapa? Tidak biasanya?” Ye Joon mulai khawatir.


Krriuk kriuk


Suara perut Ye Joon terdengar.


“Aku tidak apa-apa. Kamu makan saja kalau lapar, aku akan tidur sebentar.” Suruh Soo Yeong, Ye Joon pun menurutinya karena sudah sangat lapar dan berlari menuju kantin.


Kini dikelas itu hanya ada Soo Yeong dan Jae Min. Tapi mereka tidak mengobrol karena sibuk dengan urusannya masing-masing.


“Soo Yeong, tumben kamu tidak makan siang dengan Ye Joon ?” Jae Min akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


“Aku tidak lapar. Aku juga sedang malas. Kamu sendiri kenapa tidak istirahat?” tanya Soo Yeong tanpa merubah posisinya


“Aku juga sedang tidak selera makan. Bagaimana belajarmu dengan Ra Yun dan Ye Joon?” Jae Min berpindah kebangku yang ada didepan Soo Yeong untuk mengobrol dengannya.


“Ra Yun tidak jadi satu kelompok dengan ku. Hanya ada aku dengan Ye Joon.” Jawab Soo Yeong lalu mengangkat kembali kepalanya.


“Ra Yun keluar dari kelompok? Kenapa?” tanya Jae Min tidak percaya.


“Aku tahu kok Dia ingin ikut satu kelompok denganku karena mengikutimu. Tapi setelah kamu keluar, Dia juga keluar. Tapi tak apa, aku tetap belajar dengan Ye Joon. Dia dapat materi dari teman lamanya.” Soo Yeong menjelaskan.


“Maaf ya. Aku tiba-tiba keluar. Aku hanya merasa tidak nyaman berada diantara kalian berdua. Aku dengar Ye Joon adalah kekasihmu. Jadi aku mencoba menjauh.” Ujar Jae Min.


“Iya, aku mengerti. Jangan dipaksakan, lakukan saja hal yang membuatmu nyaman.”


“Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku harus keperpustakaan.” Jae Min berpamitan. Kini hubungan mereka berdua sudah lebih baik. Setelah Jae Min mengajaknya bicara, Dia tak lagi bersikap dingin pada Soo Yeong.


Ketika Soo Yeong berada dikelas sendirian, Dia mulai berfikir tentang siapa pengirim paket yang Ia terima kemarin. Ada sedikit rasa kekhawatiran dihatinya. Juga takut kalau penyakitnya yang dulu akan kambuh.


Terdengar suara teman-temannya yang lain sedang berjalan menuju kelas, Ye Joon juga. Tak lupa Ia membawa sebotol susu pisang dan sebungkus roti agar Soo Yeong memakannya.


“Cepat habiskan sebelum guru datang.” tambahnya.


Soo Yeong menerima makanan itu dan menggigit roti itu sedikit juga meminum susu pisang kesukaannya.


“Terimakasih ya.” Katanya.


Tidak lama, guru mapel masuk dan Soo Yeong cepat-cepat menyembunyikan makanan ke dalam lacinya. Lalu mereka melanjutkan pelajaran.


-


Skip


“Hari ini aku tidak bisa mengantarmu pulang Soo Yeong maaf ya. Aku harus cepat-cepat pulang.” Kata Ye Joon dengan rasa bersalah.


“Iya. Tidak apa-apa.” Soo Yeong mengerti.


Lalu Ye Joon berlari terburu-buru keluar kelas dan Soo Yeong juga keluar dengan santai. Tae Hi benar-benar tidak mengganggunya beberapa hari ini, tapi itu membuat Soo Yeong lega.


Saat berjalan sendirian menuju halte, Soo Yeong selalu merasa gelisah, seperti ada yang mengikutinya dari belakang. Tapi setiap Ia menoleh tidak ada yang aneh. Ia berusaha membuang jauh-jauh kegelisahannya itu, lalu naik ke bus yang sudah menunggu.


Sesampainya dirumah, Ia disapa oleh Mamanya yang sedang memasak untuk makan malam. Papanya belum terlihat, mungkin masih dikantor karena lembur.


“Sayang, ada paket untukmu lagi. Mama taruh ditempat seperti kemarin.”


Deg


Seketika jantung Soo Yeong berdebar setelah mendengar perkataan Mamanya. Ia khawatir kalau isi dari paket itu sama halnya dengan kemarin, karena hal itu sangat mengganggunya. Soo Yeong berjalan ragu menuju kamarnya, lalu melihat sebuah kotak yang sama persis dengan kotak kemarin. Ukuran dan kemasannya juga sama persis.


Perlahan Soo Yeong membuka kotak itu, jantungnya semakin berdebar tak terkendali.


Dan benar, isi dari kotak itu tak jauh beda dengan yang kemarin. Kotak itu berisi beberapa potong lakban berwarna hitam yang sudah bekas. Potongannya sangat persis dengan lakban yang selalu digunakan untuk membungkam korban penculikan.


Soo Yeong semakin ketakutan dengan teror yang beberapa hari ini Ia dapatkan. Mulai dari orang berjaket hitam yang menabraknya waktu itu, Ia selalu merasa kalau orang itu terus mengikutinya. Hingga dua paket yang Ia terima. Semua membuatnya gila, Ia hampir menangis.


Soo Yeong langsung cepat-cepat mengunci kamarnya agar Mamanya tidak tiba-tiba masuk seperti kemarin, Ia tidak ingin orang tuanya melihatnya seperti ini.


Kling


Bunyi ponsel Soo Yeong menandakan ada pesan yang masuk.


Ia langsung mengambilnya dan membuka pesan itu. Tapi yang aneh adalah nomor pengirim itu tidak terdapat didaftar kontak Soo Yeong, yang artinya kemungkinan besar Dia tidak mengenal pengirim itu.


”Sudah menerima hadiah dariku? Hahaha kamu pasti terkejutkan? Atau malah berterimakasih dengan hadiah yang kukirim dua hari ini? Tenang, aku akan mengirimkan yang lainnya besok atau lusa. Tunggu saja.”


Soo Yeong tersentak setelah membaca isi pesan yang Ia terima. Ponsel yang Ia pegang terjatuh karena tangannya lemas dan gemetaran. Semakin jelas pula ingatan penculikannya dulu yang membuat Soo Yeong ketakutan. Ia terus berfikir siapa pengirim yang tak Ia kenal itu.


Mulai dari Tae Hi yang mungkin saja tidak mengganggunya selama ini, tapi mengusiknya dengan cara lain.


Atau Jae Min, tapi tadi siang Dia sangat baik padanya.


Atau Ye Joon yang beberapa hari ini sedikit jauh darinya, dalam kondisi seperti ini Soo Yeong tidak bisa mempercayai siapapun. Bahkan Ye Joon yang merupakan kekasihnya. Ye Joon pada awalnya juga termasuk orang lain, kenapa Ia tiba-tiba mendekatinya waktu itu.


Segala kemungkinan itu berputar bebas dikepalanya.