Could It Be You?

Could It Be You?
41. Baik Buruk


”Yak, Ye Joon, apa yang kau lakukan?” protes Soo Yeong diiringi dengan wajahnya yang mulai memerah. Namun jauh dihatinya, ada kebahagiaan yang luar biasa. Yang tidak Ia tunjukan.


“Wae?” tanya Ye Joon setelah Soo Yeong melayangkan protes padanya. Tak bisa Ia pungkiri, saat ini saat Soo Yeong bersikap seperti ini rasa gemas terhadap kekasihnya itu justru meluap-luap. Ingin sekali Ye Joon mencubit pipi wanita dihadapannya itu, namun tak Ia lakukan karena mungkin Ye Joon akan mendapat cubitan keras sebagai pembalasan.


“Jangan lakukan hal itu sembarangan. Aku tidak ingin ada orang yang melihatnya.” Bibir Soo Yeong mengerucut pertanda kekesalannya sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Sekali tidak ya tidak.


“Haha. Maafkan aku, tapi sekali saja kamu melarang, aku semakin ingin melakukannya.” Kekehan Ye Joon membuat Soo Yeong semakin merasa kesal.


Yaa begitulah ketika dua orang sedang dimabuk cinta.


-


Setelah berhenti bercanda, Ye Joon mengajak Soo Yeong untuk segera pulang karena sudah sore. Dan sudah bisa ditebak, Soo Yeong mengiyakan tanpa melakukan perlawanan. Tentu saja,Ia ingin segera pulang dan bersembunyi dibalik selimutnya karena merasa sangat malu dengan semua gombalan Ye Joon.


Mulai dari....


“Kamu sangat cantik.”


“Kamu cantik walaupun sedang cemberut.”


“Kamu terlihat cantik dari sudut manapun.”


Daan yang lainnya. Walaupun mereka sudah menjalin hubungan selama beberapa bulan, Soo Yeong masih saja merasa malu jika mendapat banyak pujian dari Ye Joon. Wajar saja, ini adalah kali pertama Ia dekat dengan seorang laki-laki.


Ye Joon adalah lelaki yang cukup blak blak an jika menggoda seorang gadis. Walaupun kisahnya hampir sama dengan Soo Yeong, yaa walaupun tidak ada apa-apanya namun masih satu jalur karena mereka memiliki sifat introvert. Teman-teman disekolah lamanya mengajari Ye Joon banyak hal, menggoda contohnya.


“Bagaimana kabar kalian.” Sapa Ye Joon setelah mengajak Kyung Seok dan Chan Sik bertemu.


Ia ingin mengetahui kabar teman-teman lamanya setelah masalahnya dengan Rye Weok muncul.


“Baik. “ jawab dua temannya itu secara serempak.


“Ye Joon, aku ingin bertanya suatu hal. Kamu pasti juga mengundang kami bertemu karena hal itu kan?” Chan Sik mulai buka suara.


“Huh. Iya.” Ye Joon menghela nafas karena sudah cukup penat menghadapi Yu Ri dan Rye Weok.


“Aku tidak tahu pasti, masalah macam apa yang sedang terjadi diantara kalian berdua. Karena Rye Weok menjadi sangat aneh setelah dua bulan terakhir. Dia menjadi pemarah dan tertutup pada kami. Bahkan Ia sering mengumpat ketika topik obrolan kami adalah mengenai kamu dan kekasihmu.” Kyung Seok terdengar serius.


“Iya. Benar juga. Rye Weok sering kali membolos. Sekarang malah sudah terhitung satu minggu Dia absen tanpa kabar. Rasanya kami sedikit merasa khawatir.” Chan Sik menimpali.


“Aku sendiri tidak tahu sejak kapan Ia mulai benci padaku. Aku juga baru tahu setelah Dia mengungkapkannya padaku beberapa bulan terakhir.”


“Ternyata sejak awal Rye Weok itu menyukai Yu Ri, namun dengan gamblangnya aku malah menjalin hubungan dengan wanita itu. Aahh, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi mereka.” Rambut Ye Joon menjadi berantakan setelah Ia mengacak-acaknya saking pusingnya.


“Sepertinya aku sudah bisa mengetahui benang masalah ini.” Ucap Kyung Seok.


“Rye Weok menyukai Yu Ri, tapi Yu Ri menyukaimu. Tapi disisilain kamu menyukai kekasihmu itu.” Tambahnya.


“Tentu saja. Aku tidak akan mendapat juara jika cara berfikirku sama saja denganmu.”


“Iya. Dan gilanya, Yu Ri memperalat Rye Weok untuk menyakiti Soo Yeong. Bahkan Ia melakukan hal yang sudah sangat terlewat batas waktu itu. Menyakiti Soo Yeong dengan menggunakan masa lalunya yang kelam. Hal itu benar-benar membuatku khawatir jika Yu Ri akan melakukan hal yang lebih dari itu.” Suasana mendadak berubah.


“Kamu benar Ye Joon. Kita tahu betul bagaimana gilanya Yu Ri. Akupun menjadi khawatir pada Rye Weok, Dia akan menjadi kriminal jika terus menuruti kemauan wanita gila itu.” Ujar Chan Sik.


“Lalu aku harus bagaimana.” Terdengar suara Ye Joon yang sangat frustasi.


“Jangan terlalu memikirkannya, kami akan membantumu jika butuh. Kami juga akan berusaha menyadarkan Rye Weok supaya Dia berhenti.” Kata-kata Kyung Seok barusan membuat Ye Joon merasa lebih tenang. Ia merasa beruntung memiliki teman seperti mereka berdua.


Tanpa mereka sadari, mereka sudah menghabiskan waktu cukup lama dicafe itu. Alhasil, mereka harus segera pulang karena hari sudah semakin gelap. Maklum, tes sudah dekat, orang tua mereka pasti akan menekan anak-anaknya untuk belajar lebih giat.


Ye Joon juga pulang.


“Aku pulang.” Ucapnya saat memasuki rumah besar miliknya. Terdengar suara Ibunya yang menyaut dari dapur. Tapi entahlah dimana Ayahnya, tidak ada suara apapun.


“Ibu, dimana Ayah. Aku tidak melihatnya.” Tanya Ye Joon yang menyusul Ibunya kedapur.


“Belum pulang. Kurasa Ayahmu harus lembur karena mulai sekarang Ibu akan sibuk dirumah. Merawatmu.” Ibu Ye Joon mendekat dan memberikan kecupan hangat dikening anak laki-lakinya.


“Hentikan, aku sudah besar. “ protes Ye Joon sembari mengusap-usap kening bekas kecupan dari Ibunya tersebut.


“Haha. Sudahlah, sana mandi dan ganti baju. Lalu makan malam denganku. Ibu akan segera menyiapkannya.” Ibu Ye Joon tertawa pelan melihat reaksi Ye Joon saat memprotesnya.


Tanpa kata Ye Joon pergi menuju kamarnya dan membersihkan diri.


“Memang banyak sekali ya pekerjaan dikantor, sampai-sampai Ayah harus lembur?” tanya Ye Joon disela-sela aktifitas makan malamnya.


“Tentu saja, kalau biasanya ada Ibu yang membantunya sekarang hanya ada Ayahmu dengan sekertaris yang membantu. Tapi tenang saja, hanya butuh waktu sebentar pasti perusahaan akan kembali stabil.”


“Baiklah.” Ye Joon tidak bertanya lagi karena masih belum mengerti seberapa berat pekerjaan dikantor. Lagipula belum saatnya Ia tahu. Ye Joon harus lulus SMA lalu kuliah untuk mengerti tentang segala seluk beluk perusahaan. Toh, suatu saat nanti Dia yang akan melanjutkan mengurus perusahaan.


Setelah makan malam, Ye Joon berjalan gontai menuju kamarnya. Antara sudah mengantuk dan juga lelah.


“Selamat malam sayang.” Teriak Ibu Ye Joon dari bawah.


“Ehm.” Hanya respon itu yang Ye Joon berikan.


Setelah merilekskan tubuhnya diatas kasur, Ye Joon kembali teringat tentang semua hal yang sudah terjadi padanya. Mulai hal terindah dalam hidupnya saat Ia bertemu dengan Soo Yeong dan berhasil mengubah hidupnya, lalu pertemanannya dengan Rye Weok yang retak hanya karena seorang wanita. Hingga hubungannya dengan orang tuanya yang semakin membaik.


Tuhan memang adil, disetiap ada masalah yang terjadi pasti akan ada hal-hal manis sebagai obat agar kita tidak terlalu sakit saat mengingatnya.


“Aku hanya perlu menjalaninya.” Ucap Ye Joon yakin sebagai bentuk usahanya untuk menguatkan hati.