
Ye Joon berjalan mendekat ke tempat Soo Yeong berbaring.
“Ye Joon, tolong ! Lebih baik kamu kembali kekelas saja. Jangan membangkang. Aku akan menjaga Soo Yeong.” Pinta Hyeon Ju lagi karena kehabisan kesabaran.
“Percuma kalau aku kekelas, pasti tidak bisa fokus dengan pelajaran. Aku ingin disini saja.” Ye Joon tetap menolak.
“Hufh.” Hyeon Ju menghela nafas kasar.
“Belum tentu Soo Yeong mau melihatmu setelah sadar nanti. Jangan membuatku semakin marah.” Tambahnya sembari menarik Ye Joon keluar UKS.
Ye Joon yang bingung dengan ucapan Hyeon Ju barusan hanya bisa menurut dan kembali kekelas. Ia berjalan tidak bersemangat sambil berfikir keras.
“Kenapa Soo Yeong tidak mau bertemu dengan ku? Apa salahku?” gumamnya pelan. Ia terus berfikir mengingat-ingat apakah Dia telah melakukan kesalahan tanpa sengaja, tapi tetap saja tidak mendapat jawaban.
Setelah Ye Joon memasuki kelas, tidak ada guru disana.
“Ye Joon cepat duduk, kita harus belajar sendiri.” Suruh Jae Min. Tapi Ye Joon tidak menjawab dan hanya berjalan lemas menuju bangkunya. Matanya terus saja memandang kearah kursi Soo Yeong yang kosong tidak berpenghuni.
-
“Sudah merasa lebih baik? “ tanya Hyeon Ju pada Soo Yeong yang sudah mulai sadar.
Soo Yeong menggeleng lemas.
“Lalu? Mau bagaimana? Mau kucarikan izin pulang?” Hyeon Ju bertanya lagi. Lalu membantu Soo Yeong yang ingin bangun.
“Kita harus kembali kekelas, “ ucap Soo Yeong.
“Tapi bukannya kamu belum pulih sepenuhnya?” kekhawatiran Hyeon Ju bukan tidak berdasar, saat ini Soo Yeong terlihat begitu pucat dan lemas. Juga setelah Ia mendengar keseluruhan masalah yang Soo Yeong alami, Ia khawatir tentang penyakit Soo Yeong dulu.
“Tidak apa-apa. Bisa bantu aku kekelas?” pinta Soo Yeong.
Hyeon Ju lalu membantunya berjalan menuju kelas sampai kebangkunya.
“Jae Min, titip Soo Yeong ya.” Kata Hyeon Ju sembari berjalan keluar kelas.
Jae Min mengiyakan.
Ye Joon menatapnya kebingungan.
Juga Ra Yun memperlihatkan rasa tidak sukanya.
“Soo Yeong kamu sakit?” tanya Ye Joon. Soo Yeong diam saja tidak menjawab.
Setelah melihat Ye Joon berbicara dengan lelaki berjaket hitam itu membuatnya sulit untuk percaya pada Ye Joon.
“Bicaralah, agar aku tau apa salahku. Hmm?” ucap Ye Joon dengan wajah memelas. Tapi Soo Yeong masih tidak meresponnya.
“Ye Joon berhentilah. Kamu mengganggu yang lain. Dan juga biarkan Soo Yeong beristirahat.” Jae Min menjeda.
Setelah semuanya tenang, belajar mandiri merekapun dilanjutkan hingga jam istirahat telah tiba.
Seluruh siswa berhamburan keluar kelas, sebagian besar dari mereka menuju kantin. Tapi Soo Yeong tidak beranjak dan tetap berada ditempatnya. Dan kini hanya ada Ye Joon dan Soo Yeong saja didalam kelas.
“Soo Yeong, kamu tidak makan?” tanya Ye Joon.
Soo Yeong menggeleng pelan.
Brakk
Suara meja yang dipukul oleh Ye Joon terdengar keras memenuhi sudut ruangan. Dia mulai kesal dengan Soo Yeong yang mendiamkannya tanpa sebab.
“Tinggal katakan saja kesalahanku apa sesulit itu?” bentaknya. Soo Yeong masih diam.
“Aku selalu bersikap baik padamu, bahkan walaupun kamu bersikap menyebalkan aku masih sabar menghadapimu. Kamu juga yang mengumumkan pada semua orang kalau aku adalah kekasihmu. Lalu tidak bisakah kamu bilang saja apa kesalahanku? Aku akan berusaha memperbaikinya. Jangan diam saja seperti ini.” Suara Ye Joon masih meninggi.
Kini bisa terdengar samar suara sesenggukan Soo Yeong. Dia menangis.
Mendengar hal itu Ye Joon seketika sadar dan merasa bersalah mengucapkan kata-kata menyakitkan itu padanya.
“Maafkan aku....” suara Ye Joon melembut, Ia mencoba menggapai tangan Soo Yeong tapi langsung ditepis. Tangis yang sedari tadi Soo Yeong tahan kini mulai tak terkendali.
“Pergilah, aku tidak ingin melihatmu.” Ucap Soo Yeong lirih.
“Tunggu Soo Yeong akan ku jelaskan. Aku tidak bermaksud membentakmu, aku hanya lepas kendali. Aku tidak sengaja, maaf.” Ye Joon mencoba menjelaskan.
“Iya. Aku memaafkanmu, jadi pergilah sekarang aku ingin sendiri.”isak tangisnya sulit untuk Ia sembunyikan. Untuk saat ini Soo Yeong sedikit sulit untuk diajak bicara.
Kring
Bel tanda istirahat telah usai membuat siswa kembali masuk keruangannya, tapi sekarang Soo Yeong dan Ye Joon masih dalam posisinya. Lalu ketika teman-teman sekelasnya masuk satu persatu, Soo Yeong mulai mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya. Pandangannya Ia tujukan keluar jendela, tidak pada Ye Joon.
“Baiklah. Kita bicara nanti sepulang sekolah.” katanya sembari duduk kembali kebangku dibelakang Soo Yeong.
Pelajaran pun dimulai, tapi Soo Yeong tidak bisa fokus. Pikirannya masih bergulat tentang apa hubungan Ye Joon dengan lelaki berjaket hitam itu. Ye Joon juga, Ia masih berfikir sebenarnya apa yang terjadi pada Soo Yeong.
Saat waktunya pulang, Ye Joon cepat-cepat berdiri dan menghadang Soo Yeong.
“Apa?” tanya Soo Yeong tanpa melihat kearah Ye Joon.
“Aku antar pulang ya?” pinta Ye Joon.
“Aku pulang dengan Hyeon Ju, “ jawabnya singkat seraya berjalan keluar kelas, Ye Joon pun mengikutinya.
Jae Min yang masih disana memandang mereka berdua dengan tatapan heran.
Seperti yang dikatakan Soo Yeong, Hyeon Ju sudah menunggunya didepan kelas.
“Ye Joon sedang apa disini?” kata Hyeon Ju yang sedang mengikuti Soo Yeong.
Mendengar pertanyaan Hyeon Ju barusan, respon yang Soo Yeong berikan hanyalah menggeleng dan mengangkat tangannya sebagai tanda tidak peduli. Tapi Ia masih saja mengikutinya sampai halte.
Dan seperti sudah diramal, lelaki berjaket hitam itu datang lagi. Dan caranya menyakiti Soo Yeong lebih terlihat jelas. Dia menabraknya lebih kuat hingga menyebabkan Soo Yeong sedikit terpental agak jauh.
“Aduh.” Soo Yeong merengek karena lututnya kembali terbentur aspal.
“Sialan.” Ucap Ye Joon singkat lalu mengejar lelaki tadi. Hyeon Ju tidak diam saja, Ia juga langsung ikut mengejar lelaki itu.
Karena mereka tidak lekas naik, bus pun melaju pergi karena terlalu lama menunggu.
Lelaki tadi cukup gesit, alhasil Ye Joon dan Hyeon Ju kesulitan mengejarnya. Karena sudah cukup lelah, mereka lalu kembali menghampiri Soo Yeong .
“Lututmu terluka,” kata Ye Joon khawatir.
“Kamu tidak mengenal lelaki tadi?” Hyeon Ju bertanya karena curiga.
“Tentu saja tidak. Kalau iya, aku tidak perlu mengejarnya. Aku hanya perlu mencarinya dengan caraku.” Ye Joon beralasan.
“Tapi tadi pagi kamu sepertinya berbicara dengan lelaki berjaket hitam. Apa itu bukan orang yang sama ?” Soo Yeong menyela.
“Bukan. Yang tadi pagi itu Rye Weok, temanku yang waktu itu.”
“Tapi sedang apa Dia disini dijam sekolah?” Hyeon Ju ikut mengintrogasi.
Mendengar Ye Joon yang menjawab semua pertanyaan dan terlihat jujur, Soo Yeong terdiam.
“Lalu siapa lelaki itu? Apa urusannya denganku?” gumam Soo Yeong pelan.