
Hari-hari yang Soo Yeong lalui setiap harinya bukanlah hal yang mudah. Dia harus menahan semua sendirian. Tidak memiliki temanpun bukan keinginannya. Dia juga mengaharap ada seseorang yang bisa mengerti keadaannya. Tapi itu sulit. Mungkin kalau Hyeon Ju tetap bersikap seperti dulu, mental Soo Yeong akan lebih baik.
-
"Soo Yeong sayang, ayo sarapan dulu. Lalu berangkat sekolah. Papa sudah menunggu. " bujuk mama Soo Yeong pada putri kesayangannya itu.
"Iya Ma. " Soo Yeong menurut.
Setelah sarapan Soo Yeong bersama Papanya berangkat sekolah. Sudah sejak awal masuk SMA, Soo Yeong terbiasa di antar jemput. Yaa. Untuk mencegah kalau sesuatu terjadi padanya.
"Nanti Papa jemput seperti biasa ya. Jangan lupa minum obat. " kata Papa Soo Yeong sambil mengelus lembut kepala Soo Yeong.
"Iya Pa. Aku pasti ingat. "
Soo Yeong berjalan menuju kelas. Saat sampai di ambang pintu, Soo Yeong menyadari kalau Ye Joon sedang menatapnya. Dan karena sudah mendapat respon, Ye Joon langsung melambaikan tangannya.
"Hai Soo Yeong. Selamat pagi." sapa Ye Joon.
Soo Yeong sedikit terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Jarang bahkan tidak pernah ada orang yang menyapanya seperti itu. Hatinya senang tapi Dia tak tau bagaimana caranya merespon.
Soo Yeong hanya berjalan menuju bangkunya, sesekali Dia melirik kearah Ye Joon dan benar. Ye Joon masih menatapnya dengan wajah ceria dan ditambah dengan senyum manisnya. Dan tanpa sadar Soo Yeong membalas senyuman itu. Tipis. Senyum tipis.
"Soo Yeong, kemarin kamu pulang jam berapa? Kehujanan tidak? Soalnya kemarin mendung sekali. Oh ya, tugas kemarin apa sudah kamu kerjakan? Aku sudah. Ada yang belum kamu pahami? Aku akan membantu mengerjakannya. Bagiamana...? " Ye Joon cerewet sekali.
Tapi karena itu, Soo Yeong menjadi sedikit tertarik dengan Ye Joon. Dia baik sekali padanya, bahkan menyapanya dengan manis. Walaupun sepele tapi perlakuan manis Ye Joon mampu membuka hati Soo Yeong. Dan saat Dia ingin menjawab seluruh pertanyaannya, seseorang menepuk bahu Ye Joon.
"Sudah. Jangan mengganggu Soo yeong. Itu membuatnya tidak nyaman. " kata Jae Min pada Ye Joon.
"Benarkah? Kalau begitu baiklah. " Ye Joon menurut dan kembali ke bangkunya. Pelajaran pun dimulai.
- skip -
Kini keadaan sedikit berubah. Biasanya, saat istirahat Soo Yeong sendirian dan sekarang ada Ye Joon yang menemani. Walaupun Soo Yeong tak memberikan respon apapun tapi Ye Joon tetap berusaha mendekatinya. Ye Joon adalah tipe orang yang konsisten. Sekali Dia tertarik dengan seseorang, Ia akan terus mendekat. Asalkan Soo Yeong tidak menolak, Ye Joon akan tetap pada pendiriannya.
"Sudah selesai makan? Kita kekelas sama-sama yaa? " pinta Ye Joon dengan tidak ketinggalan senyum manisnya.
Soo Yeong mengangguk menandakan jawaban iya. Merekapun berjalan bersama.
Ditengah-tengah perjalanan Ye Joon berhenti dan bertanya pada Soo Yeong.
"Boleh aku tanya sesuatu? " tanya Ye Joon.
Soo Yeong mengangguk.
"Kenapa kamu pendiam sekali. Aku tak pernah mendengarmu mengobrol? " Ye Joon penasaran.
"hmmm? " Ye Joon bertanya lagi karena tak dijawab juga. Lalu Dia sadar kalau Soo Yeong sedang fokus dengan hal lain. Ye Joon memiringkan kepalanya dan mencari-cari apa yang mencuri perhatian Soo Yeong.
Dan ternyata dia adalah Hyeon Ju yang sedang menatap tajam kearah Soo Yeong. Wajah Soo Yeong pucat disertai keringat dingin. Menyadari hal itu Ye Joon langsung berdiri dihadapan Soo Yeong dan memutus tatapan mereka.
"Kamu tidak apa-apa? " tanya Ye Joon khawatir dan mencoba menyentuh dahi Soo Yeong.
Tapi tanpa sengaja Soo Yeong menepis tangan Ye Joon.
"Maafkan aku. " Soo Yeong menunduk karena merasa bersalah. Tangannya mengepal menahan agar tidak menangis.
"Tidak apa Soo Yeong." kata Ye Joon menenangkan.
"Tak apa jika ingin menangis. Jangan ditahan. " tambahnya sambil menyelipkan rambut yang menutupi wajah Soo Yeong.
Mendengar perkataan itu, Soo Yeong tak mampu lagi menahan air matanya. Tangisnya pecah. Dan Ye Joon menepuk-nepuk pelan punggung Soo Yeong.
Apa yang dilakukan Ye Joon sungguh membuat Soo Yeong merasa lebih baik. Tangisnya tak sehisteris biasanya. Dan juga Dia tak butuh obat penenang. Hal itu membuat Soo Yeong yakin untuk lebih terbuka pada Ye Joon.
"Yang tadi itu siapa? " tanya Ye Joon.
"Sepupuku. "
"Tapi... "
"Ye Joon, sebenarnya aku memiliki gangguan mental. " Soo Yeong memotong perkataan Ye Joon.
Dia merasa sedikit khawatir jika Ye Joon akan meninggalkannya setelah mendengar pengakuannya itu. Tapi Ye Joon memberikan tanggapan yang berbeda.
"lalu kenapa? "
"Ku fikir tak ada yang mau berteman dengan ku karena itu. " kata Soo Yeong.
Ye Joon tersenyum.
"Kenapa tersenyum? " Soo Yeong bingung.
"Karena kamu lucu. Mereka bukannya tak ingin berteman denganmu, hanya saja kamu tak mau membuka diri pada mereka. " jawab Ye Joon dengan sedikit tertawa.
"Tapi bukankah pada akhirnya mereka akan meninggalkanku karena penyakitku? Aku tak mau merasa ditinggalkan untuk kedua kalinya. Itu sangat sakit. " Soo Yeong terus mengingat kejadian dimana Hyeon Ju tak mau berteman dengannya lagi.
"Apa sepupumu tadi juga meninggalkanmu? "
Soo Yeong mengangguk lagi. Bibirnya kaku, tak mampu menceritakan penyebab Hyeon Ju membencinya.
"hmm. Kalau begitu mulai lah denganku. Mari berteman. Aku bisa menjamin tak akan meninggalkanmu sendirian. " kata Ye Joon yakin.
Soo Yeong sedikit ragu. Tapi karena keyakinan yang Ye Joon perlihatkan Dia mencoba membuang seluruh keraguannya pada Ye Joon. Dan menerimanya sebagai teman.
"Ye Joon, kenapa kamu mau berteman denganku? " tanya Soo Yeong.
"haha, Aku suka berteman. Bahkan disekolahku yang dulu aku memiliki banyak teman. " Jawab Ye Joon.
"Lalu kenapa pindah sekolah dan meninggalkan teman-temanmu? Bukannya beradaptasi dilingkungan baru itu menyebalkan? " Soo Yeong bertanya lagi.
"wah. Ternyata kamu cerewet juga ya. Setelah kita berteman kamu banyak sekali bertanya. Kemarin, meresponku saja tidak. " ledek Ye Joon.
"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi. " Soo Yeong merasa bersalah.
"Hei, bukan. Maksudku bukan begitu. Aku tadi hanya bercanda. Bertanyalah sepuasmu akan kujawab. Mengenal temanmu lebih dalam bukan hal yang buruk. " Ye Joon menjelaskan.
Soo Yeong tersenyum. Dia sadar kalau Ye Joon adalah teman yang baik. Soo Yeong berharap dengan adanya Ye Joon, Ia mampu menggantikan sosok Hyeon Ju yang selama ini hilang.
"Kenapa tersenyum? Eh tidak, kamu boleh tersenyum semaumu. Tak perlu dijelaskan. " Ye Joon takut kalau Soo Yeong akan salah paham seperti tadi. Ini adalah pertama kali Soo Yeong menjadi lebih terbuka dengan orang lain, jadi mungkin Dia tak terbiasa dengan candaan ini.
"Sepertinya kita harus kekelas. Jam istirahat akan habis. Kita lanjutkan lain kali. " ajak Ye Joon.
"Baiklah." Soo Yeong menuruti perkataan Ye Joon dan berjalan bersama.
Soo Yeong sedikit tidak percaya kini Dia memiliki seorang teman. Tapi disisi lain juga bahagia karena hal yang Ia inginkan sejak lama kini datang menhampirinya.
Ditengah perjalanan Ye Joon berhenti lagi.
"Kenapa? " Soo Yeong bertanya.
"Kim Soo Yeong? " Ye Joon malah bertanya balik
"hmm? "
"Karena kita sudah berteman, jangan menahannya. !"
"Menahan apa? "
"Jika suatu saat kamu jatuh cinta padaku jangan menahannya. Karena aku sudah menyukaimu sejak awal. " Secara tiba-tiba Ye Joon mengatakan itu pada Soo Yeong, dan wajahnya memerah karena malu.