
Tak bisa dipungkiri jika ucapan Jae Min barusan mampu menyakiti hati Ra Yun. Tapi seperti sudah kebal, Ra Yun tidak terlalu memikirkannya.
“Dengarkan dulu Jae Min, aku ingin bicara hal lain.” Katanya dengan mempertahankan intonasi bicaranya setenang mungkin.
“Apa?” ucap Jae Min singkat.
“kapan kita akan memulai belajar kelompok. Apa Soo Yeong sudah membahasnya dengan mu? “ kata Ra Yun.
“Oh iya. Sebenarnya aku ingin menyakan hal itu juga. Kenapa kamu tertarik dengan kelompokku? Pasti kamu juga sudah paham kenapa aku mengajak Soo Yeong. Atau memang sengaja ?” Jae Min lalu melanjutkan perjalanannya lagi tanpa tertarik untuk mendengar jawaba Ra Yun. Mungkin Dia memang sengaja melakukannya hanya supaya Ra Yun paham dengan posisinya.
“Bukannya kamu juga tahu kalau Ye Joon adalah kekasihnya? ” Ra Yun akhirnya memberanikan diri untuk mengucapkannya. Tapi Jae Min memilih untuk tidak menggubrisnya dan berlalu pergi. Disisi lain Ra Yun terlihat sangat kesal karena dengan sikap lelaki itu. Dan Dia hanya menatap punggung Jae Min yang semakin lama tidak terlihat.
-
“Soo Yeong....” panggil Ye Joon pada Soo Yeong yang sudah duduk manis dikantin sekolah sembari menyantap makan siangnya. Soo Yeong menatapnya sebentar dan fokus kembali pada nampan berisi nasi dan beberapa lauk dihadapannya.
“Kenapa?” ucapnya datar.
“Kamu yakin dengan ucapanmu tadi ? sudah memikirkannya matang-matang? Atau tadi hanya lepas kendali dan tidak sengaja mengatakannya?” Ye Joon menghujani banyak pertanyaan padanya. Itu hanya sebagian kecil, karena dikepalanya sudah penuh dengan banyak pertanyaan apa, kenapa, dan bagaimana.
“huuh” Soo Yeong menghela nafasnya pelan sebelum memulai bicara.
“Aku sudah memikirkan itu dari kemarin. Sebenarnya aku ingin membahasnya denganmu saat kita naik bus. Tapi belum sempat. Kenapa? apa itu malah mengganggumu? Padahal aku melakukannya karena tidak mau melihatmu terluka.” Soo Yeong menjelaskan.
“Bukan. “ Ye Joon terdiam. Sebenarnya apa yang Soo Yeong lakukan membuatnya senang, tapi disisi lain Dia ber fikir jika semakin banyak orang yang tahu hubungannya dengan Soo Yeong, semakin mudah pula Yu Ri tahu. Pada awalnya memang Ye Joon tidak ingin menyembunyikan hubungannya. Tapi setelah berfikir panjang, keputusannya berubah. Ye Joon sedang dalam dilema sekarang.
“Aku malah senang dengan apa yang kamu lakukan tadi. Aku jadi bisa lebih leluasa menggandengmu atau memperlihatkan kedekatan kita. Hehe.” Ye Joon menutupi dilemanya dari Soo yeong dengan kekehan kecil.
Soo yeong tersenyum mendengar ucapan kekasih dihadapannya itu.
“Cepat makan.” Ucap Soo Yeong sembari menaruh sepotong daging ke nampan Ye joon.
“Ok. Terimakasih.” Ye Joon tersenyum. Merekapun melanjutkan aktifitasnya kembali.
Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Soo Yeong dan Ye Joon langsung berjalan kembali kekelas.
“Apa aku harus menggandengmu?” goda ye Joon dengan wajah slenge’annya.
“Hentikan. Jangan berlebihan.” Kata Soo Yeong sambil memukul pelan bahu Ye Joon.
“Ahh. Sakit. Pukulan kekasihku sangat kuat, aku rasa tulangku retak.” Rengek Ye joon sambil berakting dengan memegang lengannya seolah begitu kesakitan bak artis profesional.
“Kamu lakukan lagi, akan kupukul lebih keras.” Ancam Soo Yeong yang mulai gemas dengan kelakuan Ye Joon.
“Lihatlah. Kekasihku mulai mengancam. Aku takuut !! “ ucap Ye Joon dan berlari pelan, memancing agar Soo Yeong mengejarnya.
Merekapun mengitari sekolah dengan kejar-kejaran. Alhasil semua orang melihatnya dan menjadikan hal itu sebagai tontonan untuk mereka.
Tapi tidak semua orang bereaksi baik. Ada juga yng tidak suka. Tae Hi contohnya, melihat Soo yeong dan Ye Joon kejar-kejaran malah membuat Tae Hi seperti kebakaran jenggot. Marah, kesal, semua bercampur menjadi satu.
“lihat saja nanti.” Gumam Tae Hi pelan.
Setelah lelah berlari, Ye Joon akhirnya menyerah dan pasrah dengan apa yang akan diterimanya sebagai hukuman. Lalu Soo yeong menangkapnya dengan mudah dan memukul Ye Joon tanpa memeberi ampun.
“Aduh. Maaf. Iyaa. Iya. Aku mengaku salah. Aku mengalah. Tapi tolong hentikan, pukulanmu sakit beneran.” Rengek Ye Joon yang mulai merasa kesakitan.
Disela-sela moment romansa yang sedang mereka ciptakan, Jae Min lalu datang menghampirinya dengan mimik wajah serius.
“Soo Yeong bisa bicara sebentar?” ucap Jae Min menghentikan mereka berdua. Seketika senyum yang sedari tadi mengambang diwajah Ye Joon kini semakin memudar.
“Bicara saja dengan ku .” Ye Joon menjawab ketus. Tatapannya tak kalah serius dengan Jae Min.
“Baiklah. Aku hanya ingin bilang kalau aku akan keluar dari kelompok belajar kita. Belajarlah dengan Ra Yun. Catatan miliknya juga lengkap.” Jae Min langsung pergi setelah mengucapkan kata-katanya.
Sepertinya setelah pengumuman hubungan Ye Joon dan Soo Yeong sikap Jae Min menjadi dingin kepada mereka berdua. Pasalnya sudah menjadi rahasia umum jika Jae Min menyukai Soo Yeong, bukankah Dia sudah sering memperlihatkannya tapi Soo Yeong tetap saja tidak pernah memandang kearahnya. Dan itu membuat Jae Min semakin kesal.
“Terserah. Malah bagus kalau kamu tidak ikut dalam anggota kami. Tidak ada yang menggangguku dengan Soo Yeong, aku malah sangat berterimakasih.” Teriak Ye Joon karena Jae min sudah semakin jauh.
“ Bagaimana ini ? catatan yang kita punya tidak lengkap bagaimana kita akan belajar kalau materinya saja tidak ada.” Soo Yeong mengucapkan kekecewaannya.
“Kamu sedih karena catatan atau yang punya catatan tidak ikit dalam kelompok kita?” kata Ye Joon.
“Kenapa kamu bicara begitu? Tentu saja karena catatannya, kalau bukan milik Jae Min siapa lagi? Kemarin aku sering absen, dan kamu baru saja pindah. ..”
“Ya tentu saja milik Ra Yun.” Kata Ye Joon tenang.
“kamu fikir, jika karena siapa Ra Yun mau ikut dalam kelompok kita? Sudah sejak lama Ra yun menyukai Jae Min. Memang tidak pernah Ia ungkapkan, tapi dari sikapnya kami bisa tahu dengan mudah. Kamipun memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu untuk menjaga perasaannya karena Jae Min tidak sekalipun memberikan respon positif padanya.” Jelas Soo Yeong singkat tapi gamblang.
“Jadi jika Jae Min keluar dari kelompok, Ra Yun akan mengikutinya?” tebak Ye Joon dan tepat sasaran.
“Ternyata kamu cukup cepat tanggap.” Ucap Soo Yeong.
Setelah berfikir beberapa saat, Ye Joon akhirnya bicara.
“Tenang, aku akan mencarikan materi terlengkap untukmu. Kamu tidak perlu khawatir, yang penting kita mulai belajar besok. Akan kujemput.” Ujar Ye Joon penuh keyakinan. Ia mencoba menjadi pacar yang bisa diandalkan.
“Tapi dari mana?” tanya Soo Yeong penasaran.
“Tidak perlu terlalu memikirkannya, aku ada ide. Siap-siap saja besok.” Ye Joon menenangkan Soo Yeong dengan senyuman manisnya. Soo Yeong pun mengiyakan tanpa bertanya lagi.