
"Kenapa kamu memberikannya padaku?. Padahal kamu sendiri kedinginan begitu. " tanya Soo Yeong sambil melepas jaket Ye Joon dan mengembalikannya.
"Yak. Begitulah sikap lelaki yang seharusnya. Jantan. Lagipula aku khawatir nanti kamu bisa demam. " Ye Joon membenarkan.
"Jangan berlebihan. Ini hanya sekedar dingin, bukan hujan atau badai salju. Kamu tidak perlu khawatir. " ujar Soo Yeong lagi.
"Ya sudah kalau begitu. Ayo cepat, supaya lekas sampai villa. Sebelum udaranya bertambah dingin. " Ye Joon memakai kembali jaket yang tadinya Ia berikan pada Soo Yeong.
"Ayo. " Soo Yeong mengikuti.
Mereka berdua berjalan menyisir kebun teh agar bisa kembali ke villa. Hanya ada mereka berdua dan ditemani suara serangga malam yang bersaut-sautan membuat gaduh. Tapi hal itu malah jadi moment romantis mereka berdua. Sesekali ketika tangan mereka saling bersentuhan, tak bisa dipungkiri jika jantung mereka berdetak tak bisa dikendalikan.
Memang, hubungan pertemanan mereka masih diumur jagung. Belum genap sebulan Ye Joon dan Soo Yeong saling mengenal satu sama lain. Tapi urusan hati memang misterius, tak ada yang bisa mencegah rasa saling suka itu
"Soo Yeong, aku ingin memastikan sesuatu. " pinta Ye Joon yang tiba-tiba berhenti dan mengejutkannya.
"Mengenai apa? " tanya Soo Yeong penasaran.
"Emm.. Status hubungan kita saat ini apa?. Kamu bilang, kamu juga menyukaiku. Bahkan dengan kondisi sadar, kamu memelukku erat. " Ye Joon menjelaskan.
"Kamu mau yang seperti apa? " jawab Soo Yeong.
"Kita seorang kekasih? " jawaban Ye Joon yakin.
"Apa boleh kalau hanya cukup kita berdua yang tahu? Tak perlu disebar luaskan. Boleh? " Soo Yeong menawar.
"Hufh. Yasudah lah. Begitu juga tidak masalah. " ucap Ye Joon.
Ye Joon mengiyakan walaupun ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Tak bisa dipungkiri jika Jae Min menjadi salah satu penyebab kekhawatiran Ye Joon. Lagipula bukan kah sulit untuk disebut pacaran jika tidak ada yang mengetahuinya.
Tapi saat ini mengerti keadaan Soo Yeong adalah hal yang terpenting. Ye Joon tidak bisa memaksakannya. Pelan-pelan saja. Nanti pada akhirnya pasti akan jalannya tersendiri.
Sudah sekitar 20 menit mereka berjalan tapi tak kunjung sampai.
"Soo Yeong, kamu lelah? " Ye Joon bertanya. Ia khawatir karena Soo Yeong jadi pendiam.
"Mm? Sedikit. hehe" jawab Soo Yeong. Terlihat jelas jika Dia sedang menahan lelah. Pasalnya jalan yang mereka tempuh cukup sulit, dengan sedikit tanjakan.
"Mau istirahat sebentar? " tanya Ye Joon lagi.
"Jangan. Sudah hampir gelap. Aku takut jika gelap. Jadi sebaiknya kita cepat-cepat pulang. " ujar Soo Yeong.
Soo Yeong menahan rasa lelahnya dan memaksakan berjalan lagi. Tapi karena sudah sangat kelelahan wajah Soo Yeong menjadi pucat. Dadanya semakin sesak, nafasnya tak beraturan. Dan akhirnya terhenti dengan menobang badan pada lututnya.
Melihat hal itu Ye Joon jadi khawatir lalu berjongkok didepan Soo Yeong dan menyuruhnya untuk naik ke punggung Ye Joon.
"Naiklah. Aku gendong. Tampaknya kamu sudah tudak kuat berjalan lagi. Jangan dipaksakan. " suruh Ye Joon.
Soo Yeong hanya menurutinya dan merekapun melanjutkan perjalanan lagi.
" Apa aku berat? Seberat kudanil?" tanya Soo Yeong. Sepertinya Dia termakan omongan Hyeon Ju tadi.
" Memang berat, tapi tidak seberat kudanil juga. Apa karena perkataan Hyeon Ju siang tadi? " Ye Joon penasaran.
Tapi Ye Joon memeganginya kuat dan membuat Soo Yeong tak bisa melepaskan diri.
"Jangan banyak bergerak. Jadi tambah berat. " perintah Ye Joon.
"Lalu aku harus bagaimana? " protes Soo Yeong.
"Pegangan saja yang kuat. "
Soo Yeong mempererat rangkulannya dileher Ye Joon dan menjadikan lebih dekat dengannya. Punggung Ye Joon terasa begitu nyaman dan hangat. Dan dengan kondisi sedekat ini Soo Yeong dapat memcium aroma tubuh Ye Joon, Dia menyukai wangi parfumnya.
Tak jauh beda dengan Soo Yeong, Ye Joon juga menyukai moment seperti ini. Sampai-sampai tidak terlalu memikirkan berat badan Soo Yeong. Dia suka ketika merasakan rangkulan Soo Yeong menyelimuti lehernya. Dan hembusan nafas Soo Yeong dilekuk leher belakangnya mampu membuat Ye Joon merinding.
Tanpa sadar mereka tersenyum
-
Hari semakin malam dan udara menjadi lebih dingin. Karena semakin gelap, jalan yang mereka lalui sedikit tak terlihat dan menyebabkan Ye Joon menjadi oleng ketika tidak sengaja kakinya masuk kelubang atau tersandung batu yang sedikit besar.
Lalu setelah jauh berjalan akhirnya mereka sampai juga divilla dan ternyata semua orang menunggunya. Mereka khawatir.
"Apa kamu terluka Soo Yeong sampai harus digendong begitu. " tanya Mama Soo Yeong khawatir.
" Bukan Tante. Tadi Soo Yeong terlihat begitu kelelahan. " jelas Ye Joon sambil menurunkan Soo Yeong dari punggungnya.
"Ohh. Ya sudah. Kalian cepatlah mandi dan ikut makan malam bersama. " perintah Papa Soo Yeong.
Ye Joon dan Soo Yeong menuruti dan masuk ke villa untuk mandi dan lainnya.
Saat mandi Soo Yeong terpikirkan tentang masalah hubungannya dengan Ye Joon. Dia sedikit merasa bersalah karena seakan memberikan harapan yang belum pasti pada Ye Joon. Memang Dia menerimanya sebagai kekasih. Tapi ketika harus menyembunyikannya dari orang lain, pasti akan membuat Ye Joon terluka suatu saat nanti.
Tapi mau dipikirkan bagaimana juga, Dia merasa belum bisa menghilangkan rasa canggungnya.
"huuuh " Soo Yeong mengeluh berat.
Setelah selesai mandi dan bersih-bersih, Soo Yeong turun menuju meja makan.
"Kenapa sendirian? Mana Ye Joon.?" tanya Hyeon Ju pada Soo Yeong yang baru saja tiba.
"Tidak tahu. Aku tadi langsung turun dan tidak sempat mengajaknya keluar bersama. "ungkap Soo Yeong.
"Ya sudah. Jemput saja sekarang dan ajak Dia makan malam bersama. Semua orang menunggu. Lagian pasti Dia kelelahan setelah menggendonhmu tadi. " ledek Hyeon Ju pada Soo Yeong.
Soo Yeong yang tadinya biasa saja, kini berubah menjadi sedikit merasa bersalah pada Ye Joon. Lagi dan lagi. Jika terus dipikirkan, Ia selalu saja merepotkan Ye Joon dan selalu saja Ye Joon mengiyakan apapun kemauannya.
"Baiklah akan ku panggil sekarang. " katanya.
Soo Yeong beranjak dari kursi dan berjalan menuju kamar Ye Joon. Setiap langkah yang Ia ambil untuk menaiki tangga saat itu juga Soo Yeong memikirkan apa yang bisa Dia lakukan untuknya. Dia tidak ingin membuat Ye Joon hanya menuruti kemauannya. Tapi juga ingin mendengar apa yang Je Joon mau.
Setelah sampai didepan pintu kamar, Soo Yeong mencoba mengetuknya beberapa kali. Tapi tak juga ada jawaban. Lalu Dia mencoba masuk dan ternyata tidak dikunci.
"Dasar " ucap Soo Yeong lirih karena melihat Ye Joon yang sedang tertidur dikasur. Dan tanpa Ia sadari, senyumannya mengembang sempurna menghiasi wajah cantiknya.