
“Tapi bagaimana bisa kamu dengan semudah itu percaya padaku? Atas dasar apa juga kamu tidak percaya pda Yu Ri?” Ye Joon bertanya karena heran.
“Kamu ini aneh ya. Tadi bingung agar aku percaya padamu, tapi sekarang malah bersikap seperti ini. Maumu itu bagaimana sebenarnya?” Hyeon Ju tak kalah heran. Kini Ia memasang tampang blo’on sebagai respon atas pertanyaan Ye Joon barusan.
“Aku hanya ingin tahu alasanmu saja. Jujur aku sedikit bingung.”
“Entahlah, hanya saja menurut feelingku, aku percaya padamu. Rasanya juga aneh saat melihat Yu Ri terlalu ngotot bilang kalau kamu bersengkongkol dengannya. Terlalu berlebihan.” Hyeon Ju menjelaskan. Memang benar seperti itu alasannya, mana ada orang yang dengan ngotot membuka kedoknya sendiri dengan gamblang.
Krriiiiiiing
Suara bel tanda masuk sudah berbunyi, Hyeon Ju akhirnya mengajak Ye Joon untuk cepat-cpeat masuk kekelasnya.
“Ye Joon, apa Soo Yeong hari ini belum masuk sekolah?” tanya Jae Min setelah Ye Joon meletakkan tasnya.
“Belum. Mungkin Soo Yeong memang membutuhkan banyak waktu untuk berisitirahat supaya lekas pulih.” Ye Joon tak langsung menjawabnya dengan ketus,karena Ia paham bagaimana perasaan Jae Min pada Soo Yeong. Walaupun Jae Min menyukai kekasihnya, Ia tak langsung membenci. Toh Soo Yeong akan memilihnya.
“Begitu, ya. Hmm, maaf ya beberapa hari yang lalu aku memutuskan keluar dari kelompok secara tiba-tiba. Kita bisa memulainya lagi, kita buat rencana baru untuk belajar kelompok. Tes sudah dekat, kita harus segera mempersiapkan diri.” Jelasnya.
“Baiklah. Kita bahas lagi setelah Soo Yeong sembuh.”
Ye Joon kembali kebangkunya dan bersiap memulai pelajaran hari ini.
Rasanya seluruh mata pelajaran yang hari ini diberikan bisa masuk kedalam otaknya. Ia bisa dengan mudah memahami pelajaran saat beban dikepalanya mulai berkurang.
“Ye Joon, apa kamu sudah menjenguk Soo Yeong kemarin?” tanya Jae Min sambil mengemas buku-bukunya.
“Kemarin aku datang bersama Hyeon Ju. Kenapa?”
“Aku juga ingin menjenguk dan melihat bagaimana keadaannya. “ Jae Min mengatakan tanpa melihat Ye Joon, entah apa yang sedang Ia fikirkan.
“Tapi tadi aku mendapat kabar kalau Dia sudah pulang dari rumah sakit. Mungkin sekarang sudah dirumah.”
“Kalau begitu bagaimana kalau kita kerumahnya saja?”
Walaupun Ye Joon sangat penasaran apa maksud dari semua yang Jae Min lakukan, Ia tetap sabar dan tidak terlalu ambil pusing.
“Ok. Kita kesana sekarang.”
Lalu mereka berdua berjalan bersama menuju halte, lagi dan lagi sepeda motor Ye Joon akan berada parkiran sekolah lagi. Padahal Ia berencana mengunjungi Soo Yeong dengan sepeda motornya, tapi ya sudahlah. Bisa lain kali.
Disepanjang perjalanan mereka melihat Hyeon Ju yang juga sedang berjalan menuju halte, sendirian. Mereka langsung menghampirinya dan berjalan bersama.
“Hai Hyeon Ju.” Sapa Jae Min.
“Oh, Hai. Kalian mau kemana ?” tanya Hyeon Ju setelah menyadari kalau Ye Joon dan Jae Min bersama.
“Kami ingin kerumah Soo Yeong untuk menjenguknya.” Ye Joon membalas.
“Hmm begitu ya. Baiklah.”
Tak perlu menunggu lama, bus yang mereka tunggu akhirnya datang. Dan mereka langsung berbondong-bondong masuk agar bus segera melaju pergi.
Setelah menaiki bus, merekapun berjalan bersama menuju rumah Soo Yeong, tapi Ye Joon merasa tidak nyaman sedari tadi. Rasanya ada yang mengikuti mereka. Perlahan Ye Joon merasa khawatir jika mereka adalah Rye Weok dan kawan-kawan lainnya.
“Apa kalian merasa ada yang mengikuti kita?” tanya Ye Joon pada kedua temannya yang sedang sibuk dengan ponselnya masing.
“Tidak. Aku merasa biasa saja? Memang ada apa?” jawab Hyeon Ju tanpa melepaskan pandangannya dari layar ponsel.
“Iya. Aku juga biasa saja. “ Jae Min menimpali.
”Entahlah. Hanya saja aku merasa sedikit tidak nyaman.”
Tanpa menghiraukan perkataannya, Hyeon Ju dan Jae Min pun melanjutkan perjalanan mereka seperti tidak terjadi apapun.
-
“Teman-teman Soo Yeong disekolah ya?” tanyanya ramah.
“Iya tante. Nama saya Jae Min,.” Jae Min memperkenalkan dirinya karena sekarang adalah pertama kalinya Ia bertemu dengan orang tua Soo Yeong.
“Tante panggilkan sebentar ya.” Kata Ibu Soo Yeong sembari berjalan menuju lantai atas.
Beberapa saat kemudian Soo Yeong pun keluar. Masih sedikit sayu tapi terlihat lebih baik karena senyum yang tersungging lebar diwajahnya. Dia merasa senang karena ada Ye Joon disana.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Ye Joon setelah Soo Yeong duduk dihadapan mereka.
“Sudah lebih baik. Mungkin besok aku sudah bisa berangkat sekolah. Apa aku tertinggal banyak materi?” jawabnya.
“Tenang. Kalaupun iya, aku akan meminjamkan catatanku untukmu.” Jae Min menimpali.
Semua orang terkekeh namun berbeda dengan Ye Joon, Ia terus menampilkan senyum kecutnya ketika Jae Min bersikap yang menurutnya menyebalkan. Mencari perhatian pada Soo Yeong misal.
Karena terlalu asik mengobrol, tanpa mereka sadari hari sudah menjelang sore. Mereka harus segera pulang. Namun diwaktu yang sama, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
Tok tok tok
Begitulah kira-kira bunyinya.
“Aku buka pintu sebentar.” Soo Yeong beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu.
“Oh, Paman Yu Gi. Ada apa? Mencari Hyeon Ju?” katanya setelah membukakan pintu.
“Hyeon Ju, Paman mencarimu.” Katanya lagi.
“Bukan. Paman bukan mencari Hyeon Ju. Paman kesini untuk mengantarkan temanmu yang sepertinya tidak tahu dimana rumahmu. Dari tadi Dia mondar-mandir dijalan depan kebingungan.”
“Siapa paman?”
“Itu.” Paman Yu Gi menunjuk kearah seorang gadis yang memakai seragam seperti milik Soo Yeong.
“Ra Yun?”
Mendengar ucapan Soo Yeong barusan, semua orang didalam langsung menoleh kearahnya. Sedikit penasaran apa benar Ra Yun datang.
“Masuklah.” Ajak Soo Yeong.
Ra Yunpun menurut dan berjalan masuk.
“Paman tinggal dulu. Hyeon Ju, nanti langsung pulang ya. Jangan kemana-mana lagi.” Pamit Paman Yu Gi setelah mengantarkan Ra Yun.
“Iya Paman. Terimakasih.”
Ra Yun dan Soo Yeong duduk kembali keruang tamu.
“Jadi yang sedari tadi mengikuti kami itu kamu ya, Ra Yun?” tanya Ye Joon terang-terangan.
“Apa terlalu ketara? Maaf ya kalau membuat kalian tidak nyaman.” Jawab Ra Yun malu.
Tanpa ikut menimpali, Jae Min hanya duduk terdiam. Dia sedikit merasa kesal karena bisa saja Ra Yun datang karena mengikutinya.
“Apa aku boleh ikut kelompokmu lagi? Maaf ya kemarin keluar tiba-tiba.” Tambahnya lagi.
“Tentu saja boleh, kami juga membutuhkan catatanmu. Hehe” Ye Joon mulai buka suara.
“Apa kalian diharuskan memnbuat kelompok belajar?” tanya Hyeon Ju penasaran, pasalnya dikelasnya tidak ada hal semacam itu.
“Iya. Bagaimana kalau kamu juga ikut. Materi kita kan sama saja? Kita mulai belajar bersama setelah Soo Yeong benar-benar sembuh. Bagaimana?” Jae Min akhirnya buka suara setelah diam sedari tadi.