
Tak jauh berbeda dengan Ye Joon,mendengar pengakuan seperti itu membuat Soo Yeong tersipu malu. Tak pernah terfikirkan akan ada lelaki yang menyatakan rasa sukanya pada Soo Yeong. Teman saja tidak punya.
"Ap-apa maksudmu? " Soo Yeong ternyata lebih terkejut dari yang Dia kira.
"Ah.. Hanya omong kosong. Aku juga tak sadar mengucapkannya. Maafkan aku. Ayo kekelas saja. " Ye Joon mendadak canggung.
Ye Joon berjalan duluan dan diikuti Soo Yeong dibelakangnya. Setelah mengucapkan pengakuan, jangan harap tidak akan terjadi apapun. Tanpa memperlihatkannya, Soo Yeong merasa sedikit canggung. Maklum, ini adalah pengalaman pertamanya.
Pelajaran pun dilanjutkan, tapi bisa terlihat jelas bahwa Ye Joon sedikit tidak fokus. Bukankah itu berlebihan? Apa? Apa ini juga merupakan pengalaman pertaman Ye Joon? Sulit dipercaya. Pasalnya Dia termasuk lelaki yang cukup tampan, ditambah dengan sifatnya yang ceria, itu menjadikannya lelaki yang bisa dibilang idaman.
-
"Anak-anak,beberapa hari lagi akan ada hari libur nasional. Jangan lupa belajar ya, kalau perlu bapak akan beri tugas. Supaya kalian tidak bosan. Hehe " Tutup seorang guru mengakhiri kegiatan belajar hari ini.
Sungguh itu menjadi sesi penutup yang sedikit horor. Tugas diwaktu liburan adalah hal yang sangat dibenci sebagian murid.
"Baik Pak" jawab anak-anaka serempak. Tapi tetap ada yang menentang.
Seperti biasanya, setiap pulang Sekolah Soo Yeong akan menunggu hingga Hyeon Ju pulang.
" Apa kamu akan menunggu hingga sepi lagi? " taya Ye Joon.
"mmm. " jawab Soo Yeong diiringi dengan anggukan kepala.
"Baiklah. Karena kita sudah berteman. Aku akan menemanimu. Bahkan kalau perlu akan ku antar pulang. " Ye Joon yakin.
"Tidak perlu, aku sudah dijemput Papa. Kalau sekedar menemaniku, silahkan. " kata Soo Yeong.
"Baiklah. mm, Soo Yeong sepupumu kemarin siapa namanya? "
"Hmm? " Soo Yeong ragu harus menjawab apa.
"Apakah belum saatnya aku tahu? Baiklah kamu bisa menceritakannya lain kali. " Ye Joon tersenyum manis.
Mereka menghabiskan waktu berdua walau hanya sebentar. Itu waktu yang cukup sekedar untuk berbagi cerita. Ye Joon sangat cerewet. Dia terbuka pada Soo Yeong,banyak hal yang Dia ceritakan. Lalu tanpa sadar,kini sudah sepi. Papa Soo Yeong juga sudah menunggu dan mereka pulang kerumah masing-masing.
"Yang tadi itu siapa? Teman mu? Papa sepertinya belum pernah melihatnya. " Tanya papa Soo Yeong penasaran. Bukan apa-apa, hanya saja ini pertama kalinya Ia melihat Soo Yeong memiliki seorang teman.
"Teman baruku Pa, dia anak baru. Dia juga baik padaku. " jawab Soo Yeong bersemangat.
Papanya tersenyum bahagia melihat tingkah Soo Yeong yang begitu berbeda. Basanya Dia tak banyak bicara. Tapi lihatlah sekarang, itu adalah kemajuan.
Disela-sela perjalanan,mereka membahas tentang liburan.
"Bukankah sebentar lagi kalian ada libur? " Tanya papa Soo Yeong.
"Ayolah Pa. Itu hanya 3 hari. " gerutu Soo Yeong.
"Iya Papa tahu. Dan papa juga sudah membuat rencana piknik untuk keluarga kita dan keluarga Hyeon Ju. Bagaimana menurutmu? " jelasnya.
"Apa? Tapi pa.. " Soo Yeong menentang.
"Kenapa.. Kenapa? Kamu senang kan. Bukankah kalian teman baik. Apa kamu masih memikirkan kata-kata Hyeon Ju dulu? Soo Yeong-ah, itu tidak benar. Bukan kamu yang membunuh ibunya. Itu memang sudah takdir. Jadi jangan terlalu difikirkan. " jelas nya.
"Tapi, tugasku saat liburan cukup banyak Pa. Aku harus mengerjakannya.! " Soo Yeong mencoba membujuk ayahnya.
"Baguslah. Jadi kamu dan Hyeon Ju bisa belajar bersama. Itu akan menyenangkan. Tenanglah. "
-
Ketika dirumah, Soo Yeong lebih suka menghabiskan waktunya dikamar. Dia bisa belajar, melihat SNS atau apapun itu. Melakukan kegiatan diluar rumah bukanlah hal yang biasa Ia lakukan. Apa lagi kalau bukan karena rumahnya dan rumah Hyeon Ju bersebrangan.
"Soo Yeong-ah, Mama dan Papa akan kerumah Hyeon Ju untuk membicarakan piknik keluarga kita. Kamu ikut yah. " ajak Mama Soo Yeong.
"Tidak Ma. Aku tidak Mau. " tolak Soo Yeong.
"Ayolah sayang. Sebentar saja. " bujuk mamanya.
"Ma, Aku bilang tidak mau. Aku sudah menuruti permintaan Papa untuk piknik bersama. Jangan memaksa lagi. Tolong lah. " Soo Yeong mulai menangis.
Melihat anaknya seperti itu kedua Orang Tua Soo Yeong tak tega jika harus memaksa. Dan mereka membiarkan Soo Yeong dirumah sendirian.
"Aku hanya takut bertemu Hyeon Ju. Kenapa mereka tidak mengerti. Semua yang Hyeon Ju katakan menyakitiku. huhu. " tangis Soo Yeong pelan didalam selimutnya.
Beberapa saat setelah orang tua Soo Yeong pergi, terdengar ketukan pada pintu kamarnya.
"Siapa? " tanya Soo Yeong dengan suara serak karena habis menangis.
Tak ada jawaban tapi ketukan pintu tetap terdengar.
Lalu Soo Yeong menghapus air matanya dan beranjak dari tempat tidur untuk membukakan pintu.
Dan siapa sangka ternyata Hyeon Ju lah yang datang. Tatapannya tak pernah berubah. Selalu tatapan benci yang Ia tujukan kepada Soo Yeong. Hanya dengan itu saja sudah mampu membuat Soo Yeong merasa terintimidasi.
"Berhentilah menggangguku! " kata Hyeon Ju tiba-tiba dengan sedikit membentak.
"Aku bahkan tidak melakukan apapun. " ucap Soo Yeong lirih.
"Kau bilang pada Paman takut padaku, dan tak mau mengunjungi rumahku? Ayolah Soo Yeong, kamu pasti tahu hanya dengan kata-kata seperti itu, Ayahku akan memarahiku karena tidak memperlakukanmu dengan baik. Jadi berhentilah mengusikku. " cerca Hyeon Ju pada Soo Yeong bahkan dengan nada yang cukup tinggi ketimbang tadi.
"Lalu aku harus bagaimana? Katamu,kamu tak mau melihatku. Aku sudah menurutinya dengan berusaha tidak berada didekatmu. Aku tidak mengerti kenapa semua ini terjadi padaku. Semua mengharuskanku untuk begini begitu, tapi tak pernah memahami keinginanku. Aku lelah Hyeon Ju. Aku selalu ketakutan jika mengingat kejadian dulu. Aku takut untuk mengenal orang baru, aku hanya membutuhkanmu. Tapi kamu secara tiba-tiba membenciku dan tidak mau melihatku. Aku sendirian. Dan aku selalu takut sendirian tanpa ada yang melindungiku. " suara Soo Yeong meninggi dan Ia sedikit hilang kendali. Tubuhnya goyah lalu terjatuh kelantai. Tangisnya semakin histeris ,sulit untuk dikendalikan. Kedua tangannya serempak menutup kuping kiri kanannya. Soo Yeong juga tiba-tiba merasa ketakutan yang entah apa penyebabnya.
"Soo Yeong berhentilah berpura-pura. Jangan berlebihan. " ucap Hyeon Ju cuek.
Tapi Soo Yeong tidak merespon, Dia masih menangis ketakutan.
Lama-kelamaan Hyeon Ju menyadari kalau Soo Yeong sedang tidak bercanda. Ada sedikit iba dihatinya dan merasa bersalah tentang apa yang Dia katakan tadi.
Hyeon Ju panik.
Tak bereselang lama orang tua dan ayah Hyeon Ju datang. Betapa terkejutnya mereka melihat penyakit Soo Yeong kambuh. Pasalnya, jarang sekali Soo Yeong kambuh sampai menjadi begini.
Dan terakhir kali Dia seperti itu adalah setelah pertemuannya dengan Hyeon Ju tahun lalu.
-
Papa Soo Yeong segera memeluknya dan mengelus lembut punggung Soo Yeong.
"Tenang. Tenanglah sayang. Papa dan Mama disini. Kami akan melidungimu, kamu aman sekarang. " kata-kata itu yang terus Papa Soo Yeong ucapkan agar anaknya bisa lebih tenang.
Untuk menenangkan Soo Yeong dalam kondisi seperti ini cukup sulit dan dibutuhkan waktu yang lama.
Lalu ketika Soo Yeong sudah merasa lebih baik, Dia meminum obat penenangnya dan tertidur.