Could It Be You?

Could It Be You?
13. Terbuka


"Hyeon Ju berhenti !!" teriak Soo Yeong disela-sela berlarinya. Nafasnya mulai terengah-engah karena kehabisan oksigen. Dan akhirnya berhenti karena terlalu lelah.


Hyeon Ju tidak menggubris dan tetap berlari hingga tak terlihat.


"Akhirnya berhenti juga. Sudah jangan lari lagi,aku lelah mengejar kalian. "kata Ye Joon yang juga berhenti karena kehabisan nafas.


"Tapi aku ingin memberinya pelajaran. Dia sangat menyebalkan. " ucap Soo Yeong dengan penuh emosi.


"Apa sih kalian. Baru baikan sebentar tapi sudah bertengkar terus, sampai cuek padaku." protes Ye Joon.


"Eh. Maafkan aku kalau kamu sampai merasa begitu. Aku tidak bermaksud. Tapi Hyeon Ju memang sangat menyebalkan. " jawab Soo Yeong karena merasa bersalah. Ia baru menyadarinya.


"Hehe. Iya. Ya sudah kita jalan pelan-pelan saja. Toh tujuan kita sama, Hyeon Ju pasti berada divilla. Habisi saja ketika bertemu nanti. " Ye Joon bercanda.


Mereka pun tertawa berdua.


"Ye Joon, boleh aku bertanya sesuatu? "


Ye Joon mengangguk.


"Bagaimana keadaan keluargamu? " tanya Soo Yeong penasaran.


Ye Joon menghela nafas berat sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Kalau terlalu berat untuk diceritakan. Tidak apa-apa. Aku akan bertanya hal lain. " Soo Yeong mencoba memahami situasi.


"Kalau begitu bertanyalah hal lain. " kata Ye Joon.


"Mm. Sebentar. Belum ada hal lain dipikiranku. " Soo Yeong berpikir keras.


"Baiklah. Aku saja yang akan cerita. Jadi jangan terlalu pusing memikirkan hal itu. " ucap Ye Joon.


Soo Yeong tidak menjawab tapi memperhatikan dengan seksama apa yang akan Ye Joon ceritakan.


"Dulu disekolahku yang lama, aku memiliki beberapa teman. Mereka sangat menyenangkan. Banyak hal yang kami lakukan bersama. Dan karena kami semua adalah seorang laki-laki, jadi sangat mudah untuk mencari topik pembicaraan diantara kami. "


"Lalu suatu saat, pernah oraang tua ku sangat kecewa pada nilaiku. Mereka menganggap hal itu adalah pengaruh negatif dari teman-temanku. Dan membuat keputusan pemindahan sekolah. Padahal itu semua karena ulahku sendiri. Aku ingin membuat masalah agar mereka bisa lebih melihat kearahku. Tapi itu semua gagal. Dan sekarang aku sangat merindukan mereka. " cerita Ye Joon panjang lebar.


"Apa orang tuamu selalu begitu ?. Tadi tanpa sadar, kamu membicarakannya. Jadi aku penasaran. " tanya Soo Yeong.


"Hmm. Tidak apa-apa. Aku akan terbuka padamu. " ucap Ye Joon.


"Sudah sejak aku kecil, orang tuaku bersikap begitu. Mereka selalu dingin padaku. Dan menekanku untuk selalu mendapat nilai yang bagus supaya bisa menjadi penerus Ayahku. Seperti kehidupanku sudah dirancang oleh mereka. Tapi aku sering menolaknya dan berbuat semauku namun itu malah membuat kami menjadi semakin jauh. Mereka hanya fokus dengan uang dan pekerjaan. " tambahnya.


"Kamu pasti sangat kesepian. " ucap Soo Yeong sembari menatap Ye Joon dalam.


"Kamu kasian padaku? Kalau begitu temani aku Soo Yeong. Jangan tinggalkan aku. Teruslah berada disampingku. " pinta Ye Joon.


Soo Yeong mengangguk dan tersenyum manis. Dan Ye Joon bahagia luar biasa ketika melihat respon yang Soo Yeong berikan. Merekapun kembali berjalan dengan sesekali tersenyum ketika saling memandang. Sepertinya mereka sangat senang.


Setelah 20 menit akhirnya mereka sampai divilla dan menemukan Hyeon Ju yang sedang memasukkan barang-barang yang Ia bawa tadi kedalam kulkas.


"Yak. Hyeon Ju kena kamu. Kamu sudah tidak bisa kemana-mana lagi. " Soo Yeong tiba-tiba datang dan mengejutkan Hyeon Ju.


Pertempuran pun dimulai. Namun Ye Joon hanya menatap mereka senang, walaupun beberapa kali Hyeon Ju meminta bantuan Dia tidak menggubrisnya. Soo Yeong benar-benar menghabisinya.


"Bibi. Tolong aku. Soo Yeong yang melakukannya, Dia benar-benar menghancurkanku. " Hyeon Ju mengadu.


"Dasar. Makanya jangan menggodanya terus. " potong Ayah Hyeon Ju.


"Apa? Jadi ayah tidak membelaku tapi malah berada dipihak Soo Yeong? Begitukah? " ucap Hyeon Ju kesal.


Tapi karena hal itu, Soo Yeong jadi tertawa puas. Merasa Dia sudah memenangkan pertempuran ini dan Hyeon Ju kalah telak.


"Sudah. Sudah. Sana cepat pergi mandi, istirahat. Baru setelah itu kita memulai barbeque nya. " Papa Soo Yeong mencoba melerai.


"Baik Pa. " jawab Soo Yeong senang.


-


Setelah malam tiba, mereka semua berada di halaman villa mengadakan pesta barbeque. Ayah Hyeon Ju sebagai juru bakar dan Papa Soo Yeong membantunya. Suasana berubah menjadi sangat menyenangkan.


Piknik keluarga memang sangat berkesan. Saat duduk bersama ditemani api unggun dan juga menyantap makanan lezat adalah hal yang sempurna. Hal yang belum pernah Ye Joon alami. Kenangan indah ini tersemat rapi dihatinya dan Ia berharap bisa melakukan hal yang sama dengan orang tuanya nanti.


Ye Joon tidak terlihat dan Soo Yeong mencoba mencarinya.


"Ye Joon kenapa malah disini sendirian? Semua orang sedang bersenang-senang diluar. " tanya Soo Yeong pada Ye Joon yang sedang menyendiri dikamarnya.


"Ah. Tidak apa-apa Soo Yeong. " jawab Ye Joon dengan senyum kecut.


"Lalu kenapa disini sendirian? " Soo Yeong menyusul dan duduk disamping Ye Joon.


"Aku merindukan orang tuaku. Kenapa mereka tidak seperti Papa dan Mamamu." Ye Joon tertunduk sedih.


"Yakinlah. Suatu saat mereka akan berubah. Kamu juga, cobalah untuk mendekati mereka pelan-pelan. Mungkin saja kamu bisa mengawalinya. " kata Soo Yeong.


"Tapi aku tidak yakin, Soo Yeong. "


"Kenapa tidak yakin?. Kamu tahu Ye Joon, dibalik segala hal yang orang tuamu lakukan. Sebenarnya mereka menyayangimu. Sudah pasti." Soo Yeong yakin.


"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?. Hal tersebut bahkan belum pernah terbesit dipikiranku. " kata Ye Joon. Dia bukan tak ingin mempercayai itu. Tapi tidak bisa. Orang tua Ye Joon benar-benar dingin padanya. Seperti tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya. Uang dan perkerjaan adalah nomer 1.


"Kamu pernah bilang, uang dan pekerjaan adalah nomer satu bagi orang tuamu. Tapi pernahkah kamu berfikir kalau kamulah yang menjadi alasan mereka seperti itu?. Bagaimana kalau mereka tak ingin kamu kesulitan dalam hal finansial, makanya sekarang bekerja keras seperti itu. Cobalah sesekali berpikir dengan sudut pandang yang berbeda. Kamu pasti tak akan merasa tersakiti. Dengan kata lain mencoba memahami mereka. " Soo Yeong mencoba menghiburnya.


"Lalu setelah itu? " Ye Joon memperhatikan.


"Lalu setelah kamu bisa memahami mereka, kamu akan menemukan jalan sendiri untuk mengatasinya. "


Ye Joon terdiam dan berpikir. Apa yang Soo Yeong katakan ada benarnya. Selama ini Ia hanya percaya kalau orang tuanya memang sedingin itu. Tanpa mau mencoba mengubah sudut pandangnya.


"Terimakasih Soo Yeong. " kata Ye Joon. Kini senyumnya mulai terlihat.


"Ya sudah ayo keluar, begabung dengan yang lainnya. " ajak Soo Yeong sembari menarik tangan Ye Joon untuk beranjak keluar.


Tapi Ye Joon menarik Soo Yeong dan membuat Dia terjatuh dipangkuannya.


"Sebentar Soo Yeong. "