
"Aku akan pulang sekarang." ucap Bryna
"Tidak, kau pulang bersama ku."
"Tapi kau masih lama bukan..ini baru pukul 2 siang."
"Aku pulang awal hari ini.. sebentar aku menyelesaikan nya sedikit lagi."
Bryna pun pasrah dia duduk di sofa kembali sambil mengotak-atik Ponsel nya. Lalu membuka majalah yang ada di meja..sambil melirik ke arah Devan sekilas.
Kenapa suami ku jika seperti itu semakin tampan..hmm lihat wajah tegas nya begitu mempesona. gumam Bryna
tanpa sadar Devan sedang menatap nya sambil tersenyum. "Apakah aku perlu duduk di depan mu sayang.. supaya kamu bisa lebih dekat memandangi wajah ku ini." ucap Devan yang membuat Bryna tersadar sama lamunannya.
"hah?" ucap Bryna gugup "hahah...apa yang kau katakan."
"Emm Devan aku ingin ke toilet di mana toilet nya.?" tanya Bryna
Devan menunjuk salah satu pintu yang berada di ruangan kantor nya. Bryna pun langsung berjalan menuju ruangan itu.
"Wahh..kenapa ada ruangan seperti ini di dalam kantor Devan..lihat bahkan ini seperti kamar hotel.. pakaian Devan juga beberapa berada di sini."
Ketika bryna menuju tempat tidur Bryna melihat sebuah Gambar besar yang berbingkai menempel di dinding kamar kantor Devan. Seorang wanita bellerina yang sedang tampil di atas panggung sungguh menakjubkan.
"Siapa wanita ini?..dia sungguh cantik, menawan..cahaya bersinar dari dalam diri nya." gumam Bryna
setelah itu Bryna tidak memperdulikan siapa wanita itu dia pun langsung menuju toilet.
Devan membuka pintu kamar itu karena pekerjaan nya sudah selesai dia menuju kamar mandi. "Sayang.!" panggil Devan
"Iya tunggu."
Bryna membuka pintu kamar mandi dan mendapati Devan sedang menatap ke arah nya entah tatapan apa itu.
"Kenapa kamu menatap ku seperti itu?" ucap Bryna sambil cepat-cepat untuk keluar kamar
"Bee?" panggil Devan
"hmm" jawab bryna sambil berbalik ke arah Devan dan menatap mata tajam itu
"Kenapa kau memanggilku..jika tidak ada yang ingin di katakan ayo pulang..aku sudah merasa lelah." ucap Bryna
"Apa yang kau pikirkan setelah melihat Gambar wanita itu?" ucap Bryna sambil menunjuk ke arah gambar itu
"Ohh Aku sangat takjub dengan nya..lihat bukan kah dia sangat cantik dan menawan..hmm ada cahaya yang bersinar dari dalam diri nya ketika tampil di atas panggung bukan."
Devan terdiam sejenak
"Devan..apa kau tahu siapa bellerina itu..aku sangat ingin bertemu dengan nya." ucap Bryna lagi
"Tidak." jawab Devan dan langsung keluar kamar di ikuti Bryna
"Lalu, kenapa kau menempel kan foto ballerina itu di dinding kamar mu jika tidak tahu siapa dia?"
Devan diam dan langsung menarik Bryna keluar ruang kantor nya. "Rio handle semua nya..aku akan pulang awal bersama istri ku." ucap nya
"Baik tuan."
Bryna terdiam ketika Melihat raut wajah Devan seperti nya mood nya tidak baik sekarang. mungkin masalah pekerjaan.
Devan berjalan berdampingan bersama Bryna sambil menggenggam tangan Bryna erat. membuat semua karyawan yang melihat nya terkejut, dan merasa iri dengan Bryna.
"Siapa wanita itu.?"
"aku sangat penasaran siapa wanita itu.?"
bisikan-bisikan yang terdengar sampai di telinga Bryna membuat Bryna menghentikan langkahnya. Devan pun langsung melihat ke arah Bryna heran. "Kenapa sayang.?"
"Lepaskan tangan ku Devan..lihat mereka sungguh tidak menyukai ku..ahh aku salah datang ke kantor mu.. seharusnya aku di mansion saja." ucap Bryna
Devan tersenyum kearah Bryna
"Tidak usah pedulikan mereka bee..bukan kah aku sudah bilang."
Mereka pun berjalan keluar dari lobi kantor.
sopir pun membuka kan pintu mobil belakang untuk tuan dan nona nya.
Di perjalanan tidak ada yang memulai percakapan semua saling diam. Bryna sibuk memandangi jalan sedang kan Devan pandangan nya kosong. Dia memikirkan Bryna bagaimana bisa Bryna berpikir untuk bertemu dengan ballerina yang berada di kamar kantor nya.
**
Semenjak kejadian kemarin Devan lebih memilih diam dan tidak membahas ballerina itu lagi dengan Bryna. Devan pun sudah mengganti foto pernikahan mereka.
Sedangkan Bryna terlihat biasa saja seperti biasa nya. Bryna menulis sesuatu di buku harian nya malam ini sedangkan Devan masih di ruang kerja nya.
"Hawaii" gumam Bryna dia menulis di sebuah kertas lalu meremas nya setelah beberapa menit kemudian Bryna tertidur di sofa sambil memegang buku tebal yang masih dia baca. Sedangkan laptop dan beberapa coretan kertas berslerakan di atas meja.
Devan memasuki kamar dan melihat istri nya yang tidur terlelap seperti itu. "Kebiasaan sekali dia tertidur seperti ini." gumam Devan
Dia mendekat ke arah Bryna dan langsung mengambil alih buku tebal itu dari pelukan Bryna pelan agar tidak membangunkan bryna.
Devan meletakkan buku itu di meja lalu Melihat isi laptop Bryna yang isi nya semua tentang novel yang Bryna buat. lalu Devan mematikan kembali laptop nya dan melihat kertas-kertas itu. Namun pandangan Devan teralihkan ke kertas yang sudah di remas itu. Entah kenapa Devan penasaran apa isi di dalam kertas itu. Devan pun membuka nya.
"Hawaii." ucap Devan dan melihat ke arah Bryna yang terlelap lalu meremas kembali kertas itu dia pun langsung menggendong Bryna dan meletakkan tubuh Bryna pelan di atas ranjang.
"Goodnight Putri tidur ku." ucap Devan lalu mengecup kening Bryna
Ketika Devan akan beranjak tiba-tiba Bryna menggenggam erat tangan devan.
Devan melihat ke arah Bryna namun mata nya masih terpejam. "Ayah ibu jangan tinggalkan Bryna..tetap di sisi ku..aku mohon jangan tinggalkan Bryna." racau Bryna kali ini genggaman nya semakin erat
Devan pun duduk di pinggiran ranjang dan membiarkan Bryna meracau dia menggenggam erat tangan Bryna.
"Ayah ibu!" teriak Bryna tiba-tiba terbangun dengan keringat yang sudah membasahi tubuh nya dan dahi nya
Bryna melihat Devan yang sudah berada di depan nya dia pun langsung memeluk Devan erat. Bryna menangis di dekapan Devan
"Devan aku harus menolong ayah ibu..mereka kecelakaan.. hiks mereka bersama anak kecil perempuan kita harus menolong nya." ucap Bryna sambil menangis
"Sayang tenang..kau hanya mimpi buruk..aku janji akan menemukan ayah ibu mu."
"Tidak Devan ayah ibu butuh bantuan sekarang..hiks."
Devan menenangkan Bryna agar tertidur kembali.
"Sebaiknya kau tidur kembali..aku akan menemukan mereka."
"Benarkah.?"
"Iya..kau harus tidur sekarang ini masih tengah malam."
Bryna pun langsung tertidur kembali Devan menyelimuti tubuh Bryna tangan nya masih di genggam erat oleh Bryna, Devan pun langsung berbaring di sebelah Bryna tangan mereka masih saling berpegangan.
**
Rio sudah di mansion Devan dan langsung memasuki ruang kerja devan.
"Rio cari informasi Keluarga Ellever semua nya jangan sampai tertinggal sedikit pun."
"Baik tuan."
"Aku butuh secepatnya."
Mereka pun membahas bisnis kembali di ruang kerja Devan. hari ini devan tidak masuk kerja Karena Bryna demam sejak semalam sampai sekarang. Devan tidak bisa meninggalkan Bryna yang sakit.
"Baik tuan, saya akan kembali ke kantor."
"Iya." jawab Devan
Rio pun keluar dari ruangan kerja Devan dia Melihat pelayan yang memasuki kamar Devan sambil membawa baskom yang berisi air.
"Hmm apakah nona demam tinggi." gumam Rio
Devan masih fokus di depan komputer nya sedangkan bi Ani dan beberapa pelayan sedang merawat Bryna yang masih demam tinggi. Tiba-tiba Devan masuk ke kamar dan menyuruh mereka semua untuk keluar.
"Kalian boleh keluar." ucap Devan
Mereka semua mengundurkan diri dan langsung menutup pintu kamar pelan.
Devan duduk di pinggiran ranjang dan mengompres bryna. "Bangun lah sayang.. kenapa kau membuat ku khawatir." gumam Devan
Bryna sudah habis 3 kantung infus membuat Devan semakin khawatir. Devan mengecek suhu tubuh Bryna . "Demam nya sudah mulai turun."
"Maafkan aku..karena terlambat tidak mencari ayah dan ibu mu..aku akan segera menemukan mereka..jadi kau tidak perlu khawatir sekarang bangun lah."
Devan memasuki kamar mandi dan mengganti air dalam baskom. ketika Devan kembali ke kamar Bryna sudah terbangun.
"Sayang kamu sudah bangun." ucap Devan dan meletakkan baskom berisi air itu di nakas
"Devan apa yang terjadi dengan ku.?"
"Kau Demam tinggi sejak semalam.. Sampai pagi ini."
"Benarkah..pasti aku merepotkan mu..maaf." jawab bryna
Devan menjitak kening Bryna pelan
"Auh." keluh Bryna sambil mengelus kening nya pelan
"Kamu tidak merepotkan ku..itu sudah tanggung jawab ku.."
"Kamu tidak bekerja.?"
"Bagaimana bisa aku berkerja sedangkan istri ku sedang sakit..kamu pasti membutuhkan ku..tapi aku bersyukur karena sekarang sudah membaik."
"Devan apa aku mengatakan sesuatu semalam.?"
"Tidak..kau hanya menggenggam tangan ku erat."
Bryna menghela nafas lega lalu memeluk Devan tiba-tiba. "Terimakasih." ucap nya
"Untuk apa ?"
"Untuk semua nya."
Bi Ani masuk membawakan sarapan untuk Bryna dan Devan. karena Devan meminta untuk membawakan sarapan untuk nya dan Bryna .
"Nona ini bubur ayam untuk nona..makan lah selagi hangat dan ini sarapan untuk tuan muda "
"Terimakasih bi." ucap Bryna
Devan sudah menyiapkan meja sedang di pinggir ranjang untuk menaruh sarapan mereka. Devan Langsung mengaduk bubur ayam itu untuk Bryna.. dan langsung menyuapi Bryna .
"Tidak aku bisa makan sendiri..kau pasti juga sudah lapar."
"Hmm tidak ada kata penolakan." ucap Devan
akhirnya Bryna menurut mereka pun makan bersama.
**
HAPPY READING 🍭🍓🍉🍑