
pukul 9 pagi 2 sosok manusia yang masih berpelukan hangat..Mentari sudah menampakkan diri nya sejak tadi namun ternyata tidak membangun kan Bryna dan Devan.
Kali ini Devan bangun terlebih dahulu dia mengambil remote control untuk membuka tirai jendela kamar dan memperlihatkan hangat nya sinar matahari pagi ini.
Bryna mengerjap-ngerjap kan mata nya pelan lalu ketika kesadaran nya sudah terkumpul dia melihat Sosok suami nya yang sedang menatap nya dengan senyum manis di bibir nya.
"Good morning istri ku." sapa Devan lalu mengecup singkat bibir ranum Bryna
"morning to." jawab bryna dengan wajah datar
Devan yang mendengar jawaban Bryna merasa ada yang aneh.
"Aku akan mandi terlebih dahulu." ucap Bryna
Namun ketika dia akan beranjak dari tempat tidur dia merasakan tubuh nya remuk dan di bagian tubuh bawah nya dia merasakan nyeri.
"Bee..kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Apa kau tidak bisa berjalan..aku akan menggendong mu."
"Tidak perlu."
Tanpa persetujuan Bryna, Devan sudah mengangkat tubuh mungil Bryna ala bridal menuju kamar mandi. Devan meletakkan tubuh Bryna di bathtub lalu mengatur suhu air hangat dan dingin. Bryna merasa malu namun Devan terlihat datar saja.
"Kau bisa keluar sekarang." titah Bryna
"Tidak..kita akan mandi bersama." jawab Devan datar dan langsung masuk ke bathtub juga.
***
Devan turun ke bawah dan meminta bibi Ani untuk membawakan sarapan Bryna ke atas.
"Bi tolong bawakan sarapan Bryna ke atas dia sedang tidak enak badan."titah Devan
"Baik tuan."
Devan langsung menuju pintu utama untuk pergi ke kantor.
selang beberapa menit pintu kamar utama di ketuk oleh bibi Ani yang sudah membawakan sarapan untuk Nona muda nya.
tok tok
"Masuk." teriak Bryna dari dalam kamar namun tetap saja yang dari luar tidak akan mendengar teriakkan Bryna karena ruang kamar mereka kedap suara. Bibi Ani yang sudah tahu pun masuk saja.
"Selamat pagi Nona..bibi mengantar kan sarapan untuk Nona."
"Terimakasih bi..maaf merepotkan bibi." ucap Bryna lembut
"Tidak Non..itu sudah tugas bibi."
Bryna langsung memakan sarapan nya walaupun sebenarnya malas, namun Bryna tidak enak dengan bibi Ani yang sudah mengantarkan sarapan untuk nya.
"Bi apakah Devan sudah pergi ke kantor?" tanya Bryna
"sudah Nona."
"Emm terimakasih bi untuk sarapan nya." ucap Bryna
bibi Ani hanya tersenyum lalu membungkuk kan badan nya lalu keluar kamar utama meninggalkan Bryna yang masih duduk di sisi ranjang. Tiba-tiba Bryna terbayang kejadian semalam.
Kenapa Devan selalu seperti itu..aku tahu Devan benar-benar berhati dingin namun di sisi lain sifat hangat nya datang secara bersamaan.
Tunggu siapa sebenarnya Chelsea? apakah kekasih Devan yang pernah Devan sebut waktu bertengkar dengan ku. Gumam Bryna
Bryna semakin penasaran siapa wanita itu sebenarnya..dan apa hubungannya dengan Devan..jika memang benar kekasih devan lalu bagaimana dengan diri nya.
"Tidak bee..kau istri nya kau lebih berhak atas semua tentang Devan..kau harus berpikir positif mungkin saja dia hanya lah teman atau sanak saudara Devan." ucap Bryna pada diri nya sendiri
***
Hari ini di kantor nya Devan sangat sibuk..banyak masalah di kantor nya yang harus diri nya turun tangan Devan begitu emosi karena pegawai kantor nya tidak ada yang becus mengurus masalah kantor yang sepele.
"Saya menggaji kalian mahal..tapi kalian hanya menyelesaikan masalah ini tidak becus." bentak Devan di ruang rapat
"Apa yang kalian kerjakan selama ini..hah?"
"Saya kasih waktu 30 menit untuk menyelesaikan ini." suara Devan terdengar santai tapi dari sorot mata nya itu semua adalah ancaman bagi pegawai itu.
Devan meninggal kan ruang rapat di ikuti Rio dan juga 2 sekretaris nya.
"Apa-apaan Presedir ini..30 menit.?"
"Bisa-bisa wajah ku semakin keriput jika menghadapi pria dingin itu."
"Presedir membuat ku gila."
ketika mereka sedang mengeluh satu sama lain Tiba-tiba Rio datang kembali.
"Sebaiknya jika kalian masih ingin bertahan di perusahaan cepat laksanakan tugas kalian." ucap Rio kali ini dia terlihat sangat serius
"Baik tuan."
Devan duduk di kursi kerja nya dia sudah melepaskan jas kerja nya lalu menyenderkan kepalanya di kepala kursi sambil memejamkan mata nya.
"Bryna Ellever!" Ucap Devan
Dia menatap bingkai kecil di dalam bingkai itu terdapat foto Bryna yang sedang tersenyum manis di wajah nya.. Terlihat Bryna sedang bahagia Devan menatap nya datar. sedangkan di samping Bungai itu juga terdapat Bingkai foto pernikahan nya dengan Bryna..Devan menyadari kenapa bisa diri nya menikahi Bryna tanpa cinta. Dan juga ketika Bryna akan pergi dari rumah nya dia tidak akan pernah mengizinkan Bryna untuk meninggalkan Devan. Wanita itu tetap bertahan sampai sekarang.
"Ada apa dengan Bryna ?, kenapa tadi pagi dia sangat berbeda." tanya Devan pada diri nya sendiri
"Apakah aku melakukan kesalahan semalam.."
"Aku harus membelikan sesuatu untuk nya."
***
Para pegawai tadi baru saja menyelesaikan tugas nya dan langsung menuju ruangan Devan dengan nafas yang masih terengah-engah karena mereka lari dari lantai 35 ke lantai paling atas milik Devan.
"Presedir ini laporan terbaru nya." ucap pegawai 1 dengan menyerahkan beberapa dokumen ke atas meja Devan
devan langsung membuka nya dan memeriksa dokumen itu dengan teliti namun lagi-lagi amarah Devan Kembali terdengar di telinga mereka.
"APA KALIAN SUDAH BOSAN BERKERJA DI NRG CORP.!" bentak Devan tatapan mata tajam nya seakan-akan membunuh orang yang di tatap nya
"maafkan kami tuan..kami sudah beru..."
"IYA KAMI SUDAH BOSAN BEKERJA DI NRG CORP YANG MEMILIKI PRESEDIR KEJAM SEPERTI ANDA." potong pegawai 2 tiba-tiba
semua orang yang berada di ruangan Devan terkejut termasuk Devan sendiri, Rio dan sekretaris 1.
Devan tersenyum sinis melihat pegawai yang berani membentak nya.
"SAYA JUGA AKAN MENGUNDURKAN DIRI.. BAGAIMANA BISA PRESEDIR MENGINGINKAN HASIL YANG MEMUASKAN DENGAN WAKTU 30 MENIT..TUAN INGAT KAMI BUKAN ROBOT UNTUK PERUSAHAAN INI..JADI MAAF JIKA SAYA SELAMA BEKERJA DI SINI MEMBUAT ANDA KECEWA."
"PRESDIR KEJAM SEPERTI ANDA TIDAK AKAN PERNAH MENDAPATKAN KEBAHAGIAAN.."
mereka semua menyerang Devan dengan kata tidak sopan..Devan hanya menatap mereka datar lalu menyuruh sekretaris 1 nya untuk mengurus mereka semua.
"LALU UNTUK APA KALIAN MASIH DISINI BUKAN KAH KALIAN SUDAH MENGUNDURKAN DIRI.." ucap Devan dingin
"Risya urus mereka."
"baik Presedir."
"Presedir apakah saya juga di pecat..maafkan saya tuan jika saya tidak benar dalam bekerja tapi saya mohon jangan pecat saya." ucap pegawai 1 yang sejak tadi hanya diam tidak melawan Devan
Devan melihat ke arah gadis itu dia langsung menyuruh rio untuk mengurus nya.
"Presedir saya mohon."
di luar ruangan
"Kau bisa melanjutkan pekerjaan mu..berikan laporan ulang besok pagi." titah Rio
"Baik tuan.. Terimakasih untuk kesempatan nya."
"kau tenang saja besok sudah ada tim baru untuk membantu mu."
"Terimakasih untuk kesempatan nya tuan."
***
Devan berdiri menghadap jendela kaca yang menampakan kota A di malam hari. kedua tangan nya ia letakkan ke dalam saku celana nya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam namun diri nya belum ada niatan untuk kembali ke mansion.
sedangkan Bryna masih setia menunggu kepulangan Devan dia duduk di sofa kamar sambil melanjutkan karya novel nya. Bryna sering kali melihat jam di ponsel nya.
bahkan sekarang sudah pukul 10 malam.
"Apakah Devan lembur malam ini.?" tanya Bryna pada diri nya sendiri
***
pukul 12 malam Devan pulang mengendarai mobil nya sendiri. Ketika sudah sampai mansion nya entah kenapa Devan tidak ingin masuk ke kamar nya dia langsung Menuju ruang kerja nya. Devan merebahkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang kerja nya.
Ketika pukul 2 pagi Devan masuk ke kamar utama dan ketika dia masuk dia melihat Bryna tertidur di sofa di atas meja terdapat kertas berserakan dan juga menu makan malam untuk 2 orang.
"wanita bodoh..kenapa tidak memakan malam nya."
Devan mengangkat tubuh mungil itu ke ranjang lalu menyelimuti nya. Devan membersihkan badan nya dan mengganti pakaian nya lalu tidur di samping istri nya.
"Apa kau menunggu ku sejak tadi.?, maaf jika aku pulang terlambat..lain kali kau harus memakan malam mu." ucap Devan lembut lalu mencium kening Bryna lembut
Padahal Bryna sudah tidur nyenyak mana dengar ucapan Devan barusan. :)
Devan pun ikut terlelap sambil memeluk tubuh Bryna erat seakan-akan Bryna tidak boleh pergi dari nya.
***
HAPPY READING 🍓🍉🍭