My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
I'm cry...


*Aku melangkah menyusuri jalan yang entah tertuju ke mana?!


Aku tidak perduli akan sampai ketempat seperti apa.


Aku terlalu kesal pada nenekku yang menentukan kehendaknya sendiri. Menyebalkan.


Gerimis mulai turun setelah sekian lama kakiku melangkah tanpa arah.


Entah karna gerimis ini atau karna hatiku yng semakin bergejolak, tidak bisa menahan lagi kesalku seiring dengan jauhnya kakiku melangkah.


Tenggorokan ku terasa pahit, seiring dengan itu, air mataku mulai menetes dipipiku, tidak lagi bisa ku tahan, merasa lemah.


Aku semakin kesal pada diriku karna airmataku menetes tanpa permisi, tanpa izin, karna aku menjadi cengeng. Kesal sekali rasanya.


"Hikkkk hikkk"


Aku mulai menangis.


Aku bersyukur jalan yang ku lalui sepi, senyap tidak ada kendaraan yang berlalu sejak tadi, atau mungkin aku yang tidak sadar karna sibuk memikirkan diriku sendiri, entah lah.


Gerimis kini mulai menjadi hujan, seiring dengan derasnya hujan, air mataku pun ikut menderas, airmata dan air hujan membasahi pipiku, aku basah kuyup.


kerongkonganku semakin terasa pahit, kesal itu kian bertambah, kian banyak, kian menumpuk.


Sepatu high hill yang ku pakai membuat jalanku semboyongan, membuat aku susah berjalan, hingga akhirnya ku lepas dan kutinggal dijalan.


Tubuhku basah kuyup, tetap menangis dan berjalan tanpa alas kaki, entah sejauh apa kakiku berjalan dan mataku menangis.


Sesekali aku mengelap pipiku, mungkin wajahku telah membengkak.


Aku tidak tau berapa menit telah berlalu, kakiku masih tidak ingin berhenti melangkah, hujanpun telah menjadi gerimis kembali.


"Tiiiiiett tiiieetttt... "


Ini pertama kalinya aku sadar, bahwa masih ada mobil lalu, tapi aku abaikan, tidak ada hubungannya denganku.


"Cetttaaaarrrrrrr"


Petir menyambar, langit mengeluarkan cahaya yang berkedap kedip, seolah sedang marah seperti ku. Namun aku tak perduli.


Aku masih tidak bisa menghentikan tangisku, stok airmataku masih banyak, dan masih ingin keluar, jadi tidak ada cara lain selain mengeluarkan semuanya.


Silau lampu menghentikan langkahku, sebuah mobil berhenti tepat didepanku, aku menutupi cahaya lampu itu dari mataku dengan menjadikan tangan kananku perisai.


"**Duuuuukkk***"


Pintu mobil ditutup setelah dibuka.


"Lho ngapain hujan hujanan? " *tanya sebuah suara yang tidak asing disampingku.


Vito tertawa kecil melihatku, seolah dia bahagia dalam deritaku, aku berpaling, memalingkan pandanganku darinya.


Antara kesal dan malu, dia pasti senang melihat aku menangis, pasti senang sekali.


"Apapun yang gue lakuin bukan urusan lho" jawabku judes dan marah.


Aku ingin terus melangkah pergi, namun Vito memegang pergelangan tanganku.


"Biar gue anter lho pulang" tawarnya.


Apa lagi yang dia mau? Mengasihani aku?


Dia barusan tertawakan? Sekarang apa? Sok perduli? Mungkin dia malah ingin melihatku menangis lebih lama. Biar dia puas.


Aku menipis tangannya kasar.


"Gue ga butuh bantuan lho, gue ga butuh belas kasian lho, gue bisa sendiri. Gue tau lho seneng liat gue menderita" ujar ku marah, tangisku malah makin deras, bodoh.


Perasaan ku campur aduk sekarang. Tidak menentu.


Aku tidak sempat melihat ekspresi wajah Vito, namun tiba tiba saja Vito memelukku erat.


Aku memberontak, memukul dada Vito Sekuat tenaga, namun Vito tidak melepaskan pelukannya, malah mempererat.


"Jangan nangis" ujarnya padaku menguatkan.


Mendengar kata katanya, seolah beban dan airmataku tiba tiba tertutup, tidak lagi ingin keluar, malu mungkin, entalah.


Saat itu juga aku lemah, tidak lagi memberontak dipelukannya, pasrah.


Vito memelukku erat, membuat aku merasa hangat dalam kedinginan, nyaman, seolah bebanku tersumbat.


Aku punya tempat bersandar untuk sesaat, bukankah itu bagus? Entalah.


Aku diam, tangisku berhenti, membiarkan tubuhku dialiri kehangatan tubuh Vito,


Bukan karna aku ingin, bukan pula karna aku suka, tapi karna aku butuh.


Butuh sandaran, dan penguat, agar aku tidak merasa sendiri.


Egoiskah? Mungkin iya!! Tapi tidak apa, hanya untuk saat ini.


Bolehkan???


**Benar kata orang, saat sedih, adalah saat dimana kita dalam keadaan lemah, saat itu, semua yang ada dan mendampingi kita adalah kekuatan, bahkan jika orang itu tidak kita kenal, atau bahkan jika orang itu adalah musuh, siapa perduli, yang penting dia punya tempat untuk menghangatkan rasa dingin dalam hati.


Benar bukan***?....