
Aku
(Aku akan bertunangan, Would you like to meet me??)
Aku memberi tau Aksa, aku berharap dia akan menjadi penolongku untuk yang kedua kalinya.
Tapi betapa bodohnya aku, saat aku tau itu ga mungkin, yah.... Aksa hanya membaca chat ku, tidak berkomentar apa lagi membalas.
Aku terlalu bodoh, bodoh sekali, saat itulah ku buang jauh jauh semua hal tentang Aksa.
Hanya Vito harapanku kini, hanya dia.
Lebih baik menikah dengan Vito dari pada seorang lelaki sesosok Rio.
Aku tidak bilang evin akan seperti Rio, tapi, aku juga tidak bilang mereka berbeda.
Setidaknya mereka dari keluarga yang sama dan aku harus memperhitungkan segala kemungkinannya.
Yah... Kini tinggal Vito harapanku yang terakhir jika pertunangan ini tidak memungkinkan.
Setelah hari itu, hari dimana aku hampir bunuh diri.
Dan Vito yang datang menemaniku, berkat Rara yang menelponnya.
Aku berterimakasih pada Vito dan Rara, karna jika Rara tidak menelpon Vito, dan jika Vito tidak datang, kini mungkin aku sudah mati atas kebodohanku sendiri.
Meski hari yang aku lalui tetap menyesakkan, aku tetap saja bersyukur tidak mati dengan bodohnya.
Aku bersyukur memiliki waktu yang lebih panjang, setidaknya untuk balas dendam.
Aku memakai kebaya berwarna pink pudar, dengan rambut disanggul rapi.
Hari ini acara lamaran, yang di gelar di rumah nenekku.
Lusa acara tunangan, berbeda saat lamaran dengan Rio yang serba orang tua.
Evin berbeda, dia ingin ikut dan berkenalan denganku, selain itu dia cucu pertama, maka inilah tradisinya.
Entah kenapa evin ingin bertemu denganku.
Rombongan keluarga briyan datang, terdengar dari suara mobil dan sibuknya orang orang di luar, aku tetap menunggu didalam.
Di ruang keluarga.
Yang pertama kali ku temui adalah kakek, nenek serta wali dari evin yang akan membawa lamaran.
Aku tetap menunggu dan duduk di dampingi papaku, sedang mama, nenek dan yang lain menyambut mereka di pintu depan.
Entah kenapa aku menjadi dingin, entah rasa ngeri apa ini,?? Detak jantungku berpacu cepat.
Suara ramai mulai terdengar, aku duduk diam membisu, tidak seperti papa yang sangat santai.
Papa hanya diam, tidak perduli padaku, sialan.
Kakek evin menyusul, aku bersalaman juga.
"Wahhh ternyata elzy lebih cantik dari dugaan saya" nenek evin bersuara, berkata pada nenekku.
"Ahh bisa aja,,, silahkan duduk" mamaku menyambung.
Deeg deg..
Apa ini,?? Kenapa ada tante Vio disini, membawa seserahan, mahar.
Mataku terbelalak, aku juga yakin tante Vio sama kagetnya denganku, terlihat jelas dari ekspresinya.
Namun tante Vio tetap bertingkah anggun, tersenyum alami tapi terlihat jelas sedikit kaku.
Tante Vio mencium pipiku, disusul om, yang ku yakini Itu suami tante Vio, papa Vito.
Tante Vio meletakkan mahar perhiasan di atas meja, juga om.
Kami duduk di tempat masing masing.
Kenapa tante Vio disini? Kenapa?
Apa jangan jangan evin itu Vito?.
Ga mungkin kan?.
Vito ga punya saudara, lalu kenapa tante Vio dan papa Vito disini? Sebagai wali.
Benar benar Vito kah?.
Vito tidak pernah bercerita kalau dia akan bertunangan.
Astaga... Bukankah Vito pernah membawa aku pada tante Vio karna ingin membatalkan pertunangan?.
Jangan jangan benar Vito.
Aku mulai frustasi?!.
Apa ada kebetulan yang seperti ini?.
Jika benar benar Vito bagaimana??
Haruskah aku lega dan menerima?.
Tante Vio menatapku, membuat aku semakin bingung, gemetar.
Semakin bingung rasanya.
Astaga...
Benarkah calon tunanganku adalah Vito??