
Aksa tau aku, dia lihat aku saat aku duduk di pinggir danau, juga saat aku memetik buah apel dari pohonnya.
Dia memerhatikanku diam diam, astaga.
dia masuk ke villa mengambil selimut untuk ku.
Setelah dia kembali kebakaran sudah terjadi, api sudah membesar, dan dia tidak melihat aku disana.
Saat dia melihat bercak darah akhirnya dia mengambil keputusan besar untuk masuk ke dalam kobaran api.
Dan aku disana, tidak berdaya.
Hingga rumah kayu itu terbakar parah, tidak ada yang sadar akan kebakaran itu.
Yah.. Jendela villa yang menuju halaman itu, di tutup kain gorden.
Mereka semua, orang orang yang ada dipesta itu ribut saat aku sudah dibawa Aksa menuju mobilnya.
Itupun terlalu banyak dari orang orang pesta yang sudah mabuk, hingga mereka linglung kebingungan.
Itulah cerita Aksa.
Aku dan Aksa berbagi cerita, entah kenapa aku dengan mudahnya bercerita tentang keluarga ku.
Tentang Rio dan tentang beruntungnya aku atas kejadian ini.
Dia orang yang nyaman diajak ngobrol, bercerita.
Aksa agak sedikit dingin, cuek, tapi entah kenapa aku suka.
Kami mengobrol saat ada waktu, 3 samapi 10 menit.
Hari ini, hari aku keluar dari rumah sakit.
Aku sudah menghubungi polisi tadi pagi, dan pemeriksaan akan segera di mulai.
Yuri akan dipenjara. Pasti.
Yuri dan Rio juga sudah bertunangan kemaren, aku lega bisa bebas.
Setidaknya untuk sementara waktu.
Aksa
(Selamat untuk yang akan keluar dari rumah sakit)
Aku
(You are not visiting me?!?😖)
Aksa
(I'm busy🤕)
Aku
(Ok, thanks😏)
Itulah aku yang menjadi sosok yang tidak dewasa saat berbincang dengan Aksa.
Aku malu, malu pada diriku sendiri yang seolah telah membuang jauh egoku saat bersama Aksa.
"Permisi"
Suara dokter Alin terdengar, aku meletakkan telponku.
Dokter Alin mendekat, disertai Rara, Rafa dibelakangnya dan Rafi yang bangkit dari duduknya.
Aku mengangguk yakin.
Aku melihat tatapan cemas Rara, Rafi dan Rafa.
Ya... Ini karna wajahku yang masih tetap di preban.
"Selamat siang mbak elzy, saya akan melepas preban di wajah mbak karna mbak sudah boleh keluar dari rumah sakit" ujar dokter Alin padaku.
"Siang dokter" balasku singkat.
Saat itulah dua perawat masuk.
"Aku tinggal ke depan ya el? " Rara berpamitan, aku tau dia ga sanggup liat, dia pasti akan menangis, tapi tidak di depanku.
"Iya" aku menjawab.
Rara keluar, sekarang Rafi yang gelisah.
"Lho temenin elzy" ujar Rafi pada Rafa sambil menepuk pundaknya lalu pergi.
Rafa memegang tanganku, tersenyum, aku membalasnya.
"Saya lepas prebannya!!" ucap dokter Alin.
Aku mengangguk, mengiyakan.
Dokter Alin membuka preban di wajahku.
Ha.... Ini pertama kalinya aku tegang, bagaimana tidak?, saat ini aku sedang merasa dekat dengan seorang pria, dan wajahku buruk rupa.
Tapi bukankah Aksa yang pertama kali melihat wajahku yang buruk rupa??.
Dan dia udah tau wajahku sejelek apa saat itu.
Baiklah, setelah ini aku akan langsung oprasi plastik ke korea.
Saat nanti Aksa mengajak aku bertemu, aku harus sudah cantik kembali.
Hahhhh.. Apa ini,?? Sejak kapan aku berubah sejauh ini?? Sejak kapan kepribadianku begini?.
Huhh entalah.
Aku melihat ekspresi wajah Rafa yang kaget, setelah preban di wajahku sudah terbuka separuh.
Sejelek itukah wajahku?.
Aku diam, tidak terlalu hawatir sekarang, yah setelah sadar bahwa Aksa yang pertama kali melihat wajahku yang buruk rupa ini.
Dokter Alin sudah melepas semua preban diwajahku.
Dokter Alin tersenyum.
"Cermin sus" dokter Alin meminta cermin pada suster dibelakang nya.
Suster itu memberikan cermin yang dia bawa.
Dokter Alin mengarahkan cermin itu pada ku.
Aku bercermin.
"***Whatttttttt?????? 😱😱"
Aku kaget***......