My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
Incident....


"Ooh I see you, see you, see you every time


And oh my I, I like your style


You, you make me, make me, make me wanna cry


And now I beg to see you dance just one more time


So I say


Dance for me, dance for me, dance for me, oh, oh, oh


I've never seen anybody do the things you do before


They say move for me, move for me, move for me, ay, ay, ay


And when you're done I'll make you do it all again


I said oh my god I see you walking "


Aku duduk diam didalam mobil, menghidupkan musik dengan volume yang lumayan keras.


Aku sedang menunggu Vito, kita janjian keluar hari ini, ke mall, mungkin belanja atau nonton bioskop.


Ini sudah 30 menit aku menunggunya, kebiasaannya masih belum hilang sepenuhnya, padahal sudah berjanji tepat waktu, dan tidak akan telat lagi, menyebalkan.


Jika tau akan menunggu, lebih baik aku ikut dengan rafa dan rara, mereka akan pergi ke mall.


Sedang rafi masih latihan karate didalam, disekolah.


Aku mengecilkan volume musikku, mengambil hpku, menelpon Vito.


Panggilan masuk, tapi tidak Vito angkat.


Aku merasa aneh pada Vito akhir akhir ini, ada yang berubah dari sikapnya, dia lebih posesif, sering bertanya aku dengan siapa dan sedang apa, seolah curiga tentang ku, padahal keseharianku disekolah dan diluar, jika tidak dengan Vito, maka dengan rafi, rafa dan rara.


aku tidak tau kenapa dan ada apa dengan Vito?.


Vito tidak berkata apa apa, tidak bertanya apa apa, jadi aku tidak bertanya Tentang sikap aneh nya.


Karna mungkin itu hanya perasaanku, aku takut salah faham tentang Vito.


Aku menelpon Vito lagi, setelah sambungan putus.


"Iya sayang" suara Vito terdengar setelah mengangkat teleponku.


Suaranya terdengar ngos ngosan, habis berlari.


"Lho lupa ada janji sama gue? " Tekanku tegas.


"Sorry... Gue ada dilapangan basket, lagi main basket, gue kesana sekarang, tunggu ya, sayang" ungkap Vito.


"15 menit, kalau lebih gue balik" jawabku.


Aku kembali menunggu.


Aku ada didepan sekolah, didalam mobil.


Mengganti seragam dengan baju yang ku gunakan untuk kencan dengan Vito didalam mobil juga.


Agak susah memang ganti pakaian didalam mobil, aku hanya enggan ganti pakaian dari toilet sekolah, pasti pada bacot dan gosib.


"You, you make me, make me, make me wanna cry...... "


Bukan suara musik lagi, nada dering hpku berbunyi, tanda ada penelpon.


Rara menelpon, entah ada apa?.


"Iya raa" aku mengangkat telepon.


"El... Hik hikkkk... Ell.... Rafa ditabrak mobil, cepet kesini el, cepettt. Hik... Hik... Hikk... "


Jantungku rasanya berhenti berdetak sesaat, kaget, kaget sekali, sangat kaget.


"Lho dimana?" tanya ku hawatir, gelisah juga gundah, bingung.


"Hikkk hikk...... Didepan kafe deket mall"


Aku melempar hpku entah kemana, Aku memutar mobilku, saat itulah ku lihat rafi keluar dari sekolah.


Aku membuka kaca mobilku, rafi tidak melihat.


"Tiiiittttt tittttttt"


Aku mengelakson dengan keras, tidak perduli siapa pun yang lihat, aku tidak ingat apapun selain harus cepet menemui rafa.


Rafi mendekat, tampak ingin bertanya.


"Cepet masuk jangan banyak tanya" ujarku dengan raut wajah jelas hawatir, risau, cemas menjadi satu.


Rafi terlihat ikut cemas melihat rautku yang penuh kecemasan, dia diam, masuk ke dalam mobilku tanpa banyak tanya.


Aku langsung ngebut seperti orang gila, tau apa yang ada di kepalaku??? Bagaimana kalau keadaan rafa parah?? Buruknya, bagaimana kalau rafa meninggal?


Fikirku kacau, kacau balau.


"Ada apa si?? " akhirnya rafi bertanya dengan nada hawatir dan cemas.


"Ra.. Rafa kecelakaan" jawabku gemetar, hampir tidak keluar suara.


Bukankah tidak lucu kalau sahabat yang pagi ini masih tertawa bersama kita, tiba tiba meninggal,??


aku tidak pernah berfikir hal seburuk itu akan terjadi. Don't...