My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
Rio....


Aku hanya berdandan sederhana, namun tetap saja aku merasa anggun, cantik dan percaya diri.


Aku melangkah dengan santai, didekat Yuri.


Tante tidak kepesta ini, entah kemana.


Pestanya terlihat sedikit ramai, lebih dari yang aku duga.


Yang hadir disini semua masih muda, seusiaku.


Semua mata melihat kearah aku dan Yuri.


Disitulah seorang lelaki tinggi, lebih tinggi sedikit dariku, berjas dan berpakaian rapi.


Wajahnya, setara dengan Vito, hanya kulitnya lebih putih dari Vito.


Rambutnya rapi. Lumayan.


Dia tersenyum padaku, membuat aku menarik alisku sinis.


Mengambil tangan kananku dan menciumnya.


Bukankah dia terlalu berlebihan??.


Aku merasa tidak nyaman.


Aura dan aromanya membuat aku tidak suka, dia terlihat bukan orang 'baik baik'.


"Lho lebih cantik dari yang gue bayangkan" ucapnya dengan suara yang entah kenapa rasanya tidak enak di dengar.


Seolah dia berkata "gue jadi nafsu liat lho" atau kata kata semacam itu.


Dia masih memegang tanganku.


"Lepas" ucapku pelan, membuat dia tertawa kecil dan melepaskan tanganku.


"wahhh.. Rio calon lho cantik banget" ujar teman disebelahnya.


"Ini siapa??" tanya teman Rio yang lain dengan memandangi Yuri.


Jika aku memakai gaun dan berdandan sederhana, Yuri berbeda.


Yuri mengenakan gaun seksi dan memamerkan belahan dadanya.


Itulah sebabnya, sejak tadi kami menjadi sorotan.


Karna pakaian Yuri yang menarik perhatian di padu warna mencolok.


Yuri dengan bangga melangkah maju, mengulurkan tangan dengan tingkah genit pada teman Rio.


"Gue Yuri, sepupu elzy" ujarnya lembut dan gaya cewek centil.


Aku muak melihat tingkah Yuri. Memalukan.


"Ternyata sepupu elzy juga cantik, wah... Sekeluarga cantik cantik semua kayanya" sambung teman Rio yang lain.


"Napa luu??.. Mau ngembat maknya" sambung yang lain bercanda, semua tertawa, termasuk Rio.


Namun aku tidak suka dengan candaan garing mereka, membuat aku memilih mundur beberapa langkah, menjauh.


Aku berdiri dibalkon, memandang halaman villa Rio yang cukup luas.


Danau dihalaman itu terlihat berkilau karna cahaya bulan yang memantul.


Terlihat ada rumah rumahan kecil disana, kalau dilihat dari sini, sepertinya muat 2 kamar didalam.


Yah.. Tidak sebesar villa ini maksudku.


Rumah itu terbuat dari kayu, terlihat sangat kuno, namun sepertinya cukup nyaman untuk berteduh.


Bagian belakang rumah itu tepat di atas danau, sangat nyaman untuk memancing.


Ada beberapa pohon di depan rumah kayu itu, terlihat beberapa di antaranya berbuah.


Sinar bulan yang agak terang membuat halaman itu tidak terlalu gelap.


juga berkat lampu yang di gantung di beberapa pohon, halaman itu terlihat indah.


Buah apel yang tumbuh di pohon itu terlihat sangat lezat, aku ingin memetik dan memakannya.


"Elzy" aku menoleh saat nama ku panggil, dengan suara yang tidak aku suka, Rio.


"Kenapa?" tanyaku.


"Ayo dansa?!!" pintanya dengan raut yang tidak aku suka.


Ku lihat Yuri di belakang Rio, memandang kearah kami, dengan tatapan kesal tiada tara.


Melihat raut wajahnya, aku yakin Yuri sudah mengajak Rio berdansa, namun dia di tolak.


Aku menatap Yuri, mengangkat alisku sedikit dan tersenyum licik.


Seolah aku bertanya padanya "haruskah aku berdansa dengan Rio??".


Yuri seolah mengerti, dan dia menggeleng dengan serius, membuat aku tertawa kecil, atas kebodohannya.


Aku memandang Rio.


"Ok" jawabku.


Rio tersenyum dan memegang tanganku, menuntunku melangkah masuk ketempat dansa.


Aku dan Rio melewati Yuri, memandangnya dan tersenyum licik.


"Aku menang" itulah arti dari senyumku.


Dan aku tau Yuri tidak sebodoh itu untuk tidak mengerti.


Wajah Yuri memerah menahan amarah.


Aku puas...


**Bukankah menyenangkan, saat menang dan mendapat apa yang diinginkan lawan??!!


Haaaah..... Ingin rasanya tertawa**..