My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
Vito and mom


Aku duduk dengan grogi dan dengan prasaan yang sangat tidak nyaman.


Disini restoran merah, berkelas, tentu saja, keluarga Vito bukan keluarga yang tidak mampu.


Mama Vito terlihat cantik dengan balutan dress coklat susu nya.


Makan dengan sangat beribawa, cantik, anggun.


Aku mencoba menghabiskan makananku yang rasanya tidak mau masuk ke tenggorokanku.


Tentu saja seperti biasa, nafsu makan ku sedikit rendah, di tambah ada mama Vito yang sesekali melirikku.


Rasanya aku akan mati membeku, jika dengan tidak sengaja pandangan ku dan pandangan mama Vito bertemu.


aku membeku dan grogi, bukan karna takut bertingkah dan ingin di akui.


Aku begini karna aku wanita muda yang dibanding mama Vito tidak ada apa apanya.


Cara mama Vito memilih baju yang sesuai dengan tas, aksesoris dan gaya rambut.


Harus diacungi jempol.


Caranya berbicara yang anggun dan manis.


Caranya melangkah makan, duduk dan tersenyum begitu sempurna.


Aku kalah, sangat jauh. Hingga rasanya aku bukan apa apa dibanding dengannya.


Tante Vio, ya tante Vio adalah mama Vito, aku memanggilnya begitu.


"Maaf ya elzy, karna papa Vito ga bisa makan malam bersama kita, tapi, bukan berati papa Vito ga suka kamu lo, dia bahkan pengen banget ketemu kamu, yah tapi sayang, dia sedang di luar kota" ucap mama Vito lembut, halus dan enak di dengar.


Aku kanget, Aku ga tau mama Vito menganggap aku apa bagi Vito, hingga dia berkata seperti itu.


Aku diam sesaat, bingung, tante Vio pun terlihat bingung.


"Ga pa pa ko tante, Vito udah bilang ko sama elzy" akhirnya aku membuka suara walau dengan nada bingung, dan berbohong.


Aku melirik Vito dengan tajam, penuh tanda tanya.


Sebagai apa dia memperkenalkan aku pada mamanya.


Dia bilang ini hanya makan malam biasa agar mamanya tidak mengomelinya setelah dia melakukam kesalahan.


Tapi apa ini?? Rasanya mama Vito memperlakukan aku seperti pasangan Vito, seperti pacarnya.


Tidak pernah terlintas dalam benakku untuk kembali menjadi kekasihnya. Tidak pernah.


Sial, rasanya aku ditipu oleh Vito , aku melirik Vito, dia hanya tersenyum kecil, dia memberi isyarat padaku.


Tanda bantuan, dia meminta bantuanku, untuk apa, apa pura pura jadi kekasihnya??. Namun untuk apa, dan kenapa harus aku??.


Masih banyak prempuan lain yang bisa membantunya.


Aku sangat malas harus berbohong.


"kau boleh acuhkan diriku.. " nada dering hp ku berbunyi, suara Vito yang bernyanyi merdu ku rekam dan ku jadikan nada dering panggilan di hpku.


Tentu saja bukan karna ada hubungan khusus antara aku dan Vito, kami sahabat dan aku menyukai suaranya, jadi ku rasa ini tidak masalah.


Tante vio berbinar, seolah mendapat sebuah keyakinan, entah apa.


"Aku angkat telpon dulu ya tante" pamitku sopan.


"Silahkan " jawabnya, lagi lagi dengan anggunnya.


Mom call


Itulah yang tentra dilayar hpku.


Aku memiringkan kepalaku sedikit ke kiri, mengangkat telepon mama.


"Iya ma? " tanya ku.


"Cepet pulang, jam 8 kita ada kumpul keluarga dihotel mentari" ucap mama.


"Ok, elzy pulang" aku menjawab dan mematikan telepon.


Aku duduk seperti semula.


"Aku harus pulang" ujarku pada Vito.


"Ya udah biar Vito anter, kapan kapan kita makan bareng lagi" sambung mama Vito.


"Maaf ya tante" ujarku pelan


"Ga papa ko"