
*Duduk, diam dalam keramaian adalah keahlianku.
Meja makan penuh dengan makanan mewah, penuh dengan aneka hidangan, namun, nafsu makanku tidak pernah naik, aku tidak suka manakan ini, pun makanan dirumah.
Aku suka masakan tante jeny, entah kenapa.
Tante, om, mama dan papa sedang berbincang tentang bisnis bersama nenek.
Aku tau yuri menyimak, mendengarkan, sedangkan aku!! Tuli, lebih pada tidak perduli.
Aku tidak perduli dengan harta yang mereka miliki, terserah.
Aku sudah cukup tersiksa disini, duduk disinipun membuat aku seolah depresi.
Ingin rasanya pergi, muak*.
"Elzy.. " panggil mama, agak keras.
sontak aku menoleh kaget, memalingkan pandanganku dari stik yang ku makan.
"Kenapa ma?? " tanyaku bingung dan kaget.
"Ya ampunnnn.... Kita lagi kumpul keluarga tapi kamu malah ngelamun, ga sopan banget" ujar tante ratna dengan nada menyebalkan.
"Emang elzy punya sopan santun ma?? " sambung yuri dengan nada yang sama.
Aku mulai kesal dengan mereka. Muakk.
"Setidaknya gue masih punya otak encer dan nilai tinggi di banding lho" balasku pada yuri.
Jelas yuri makin kesal.
"Lho kira gue goblok? " yuri mulai kesal pada ucapanku.
"Gue ga bilang lhoo goblok, lho yang ngaku sendiri, dan setau gue lhoo emang goblok" tambahku.
"*Lhoo bener benerrr... Lhoo........!!??! "
"**Cukup yuri***,.. " bentak nenek menghentikan yuri yang ingin bicara lebih.
Yuri diam, akupun.
"Elzy oma mau bicara" ujar nenek padaku setelah beberapa saat.
"Kenapa oma? " tanyaku.
"Oma harap kamu tidak punya pacar, jika kamu punya maka cepat putus, karna dua tahun kedepan kamu akan menjadi bagian keluarga briyan sampai kamu bertunangan dan menikah, kamu hanya boleh jatuh cinta pada rio" printah nenek keluar.
Aku tidak tau harus bereaksi bagaimana saat ini, terkejut, jengkel, marah dan kesal menjadi satu dalam diriku.
Aku melihat nenek, penuh dengan ambisi dan ketetapan yang tidak bisa diganggu gugat.
Namun bukan elzy namanya jika tidak melawan, biar kan ini jadi perlawananku yang pertama padanya, aku marah.
"Elzy ga mau oma dan kenapa harus elzy? " ucapku tegas, mutlak.
Ya kenapa harus aku? Masih ada yuri, yuri pasti mau.
Tidak ada alasan untuk yuri menolak perjodohan ini, malah ini bisa jadi hal yang dia impikan, jelas.
Rio itu pria yang tampan dan kaya, menikah dengan rio berati mendapatkan perusahaan kakek, karna saham yang ayah rio disana cukup banyak untuk menjadi pemilik perusahaan itu.
"Bener oma, kenapa harus elzy, bukannya masih ada yuri, dan yuri mau oma" sambung yuri seperti yang ku duga.
"Kenapa harus memaksa elzy yang tidak ingin dibodoh kan ma, jodohkan saja yuri dan rio" tambah tante ratna.
"***Kamu masih tidak sadar ratna?? Keluarga briyan hanya mau yang terbaik dan tercantik, yuri cantik tapi bukan terbaik, elzy adalah pilihan yang memang sudah dipilih rio.
Jika kamu mau yuri yang menjadi istri rio, maka buat yuri menjadi layak hingga dia terpilih, perbaiki otak bodohnya, karna rio mau yang sempurna***" balas nenek.
"Omaaa.....!!! " rengek yuri.
"Sudah oma putuskan, dan keputusan ini mutlak untuk saat ini, elzy terpilih sebagai calon tunangan rio, titik" tegas nenek
Semua terdiam, kini giliranku bicara, aku menatap mata nenek dalam, kesal.
"Oma ga bisa nentuin hidup seperti apa yang elzy mau, oma ga berhak, mengatur hidup elzy, elzy punya hidup yang akan elzy jalani sendiri, papa, mama, keluarga ini termasuk oma ga ada hak untuk nentuin seperti apa hidup yang akan elzy jalani" ujarku lantang.
Semua tampak kaget, namun ku tau tante yuri dan om sangat bahagia karna perlawananku.
Nenek terlihat mulai kesal, meski masih duduk dengan tenang, nenek melanjutkan memotong stik, memakannya, mengunyah stik itu hingga habis dan meminum bir digelasnya dengan santai.
Aku tau nenek tidak akan tinggal diam.
Entah apa lagi yang akan dia lakukan?.
Dia kembali memotong stiknya.
"***Kamu tau elzy, kamu bisa mengatur hidupmu sendiri, tapi apa orang tua sahabat sahabat mu bisa?? ibu rara yang menjadi dokter dirumah sakit oma, ayah dan ibu rafi yang bekerja di perusahaan opa.
Fikirkan apa mereka bisa mengatur hidup mereka sendiri? Jika ia, kamu boleh pergi, dan mengatur hidupmu sendiri.
tolak perjodohan ini, maka oma pastikan merekapun mengatur hidup mereka sendiri selayaknya kamu***" ucapnya.
Nenek berkata begitu, seolah tidak mengatakan apa apa, dia masih saja santai dan memakan stiknya dengan nikmat.
Sedangkan aku, aku kesal, kerongkonganku terasa pahit, marah, amarahku rasanya sampai ke ubun ubun.
Aku tidak tau harus apa? Aku tidak mungkin menyakiti sahabatku, marah.
Akhirnya aku keluar dari rumah itu tampa pamit, tanpa membawa apa apa, pergi, menjauhi orang gila yang tenyata adalah nenekku sendiri..