
**Aku merasakan hawa panas menyentuh kulitku, angin membawa hawa panas itu, panas rasanya, aku tidak suka.
Aku yakin hari ini pasti akan terik, penuh dengan hawa gerah, karna panasnya mentari.
aku tidak suka dengan cuaca ini, aku lebih suka gerimis dan mendung, itu membuat hatiku lebih tenang.
Tidak seperti terik ini, yang semakin membuat aku merasa sebal, kesal, karna panasnya menusuk kulitku.
Aku memakai kaos kakiku sambil melirik ke arah jendela kamarku yang terbuka lebar, angin sepoi semakin kencang, membuat panasnya cuaca diluar terasa memenuhi kamarku, entah kenapa amarahku muncul begitu saja.
Kesal, ahhh... Aku memang mudah sekali kesal, bahkan pada hal hal kecil**.
Aku melangkah keluar kamarku, menuruni tangga, ku lihat papa sedang sarapan sendiri, duduk dikursi dengan leptop dan hpnya, mama pasti tidak pulang.
Aku mendekati meja, papa tidak menyadari keberadaanku, aku sedang tidak ingin bertingkah manis dengan menyapanya.
Aku mengambil roti dipiring yang memang disediakan untuk ku, lalu melangkah pergi setelah mengambil susu kotak di dalam kulkas.
Tidak ada sapaan selamat pagi, itulah kebiasaan kami.
Papa selalu sibuk, bahkan saat dirumah, saat sarapan dimeja makan.
Aku melangkah menuju mobil.
"Bibi jangan lupa tutup jendela kamar" pesanku pada pembantuku.
"Iya non" jawabnya.
Aku masuk mobil, menyetir sendiri sejak tahun lalu, sejak aku punya sim.
Aku menyetir sambil sarapan, memakan sepotong rotiku dan meminum susu yang ku bawa.
Aku baru duduk di bangku kelas 3 sma negeri dijakarta.
Seperti yang ku katakan, aku berprestasi, menjadi kebanggaan nenek yang tidak dekat denganku.
Yuri sepupuku tidak pintar sama sekali, dia bahkan harus menyogok untuk lulus sekolah. dia setahun lebih tua dariku, sekarang dia kuliah di bidang bisnis.
Yuri cantik, layaknya tanteku, tapi tetap saja, cantik tidak cukup untuk hidup lebih baik.
aku benci yuri.
Ada banyak alasan untuk aku membencinya, sangat banyak.
/////////////////////////////////////////////////////
"Ayo kekantin" ajak rafi padaku yang sedang membaca buku.
"Malesss... " jawabku singkat tanpa meliriknya.
"Ayooo doonggg elzy" rengek rara kemudian, aku berpaling dari bukuku melihat ke arah mereka.
Ada rara, rafi dan juga rafa, mereka masing masing Mengeluarkan tatapan memohon, menyedihkan.
Aku mengambil nafas panjang sebelum menyetujui permintaan mereka.
Malas sekali rasanya ke kantin yang ramai di hari yang panas, pasti antri tempat duduk, karna sejak minggu lalu kantin sedang direnovasi, sesak.
"Pleeeeesssz" ujar rara penuh permohonan.
Aku berdiri dari dudukku setalah menutup rapi bukuku, dan menyimpannya didalam tasku.
"Ayooo" ujarku pada mereka, mereka bersorak bahagia, rara menggandeng tanganku gembira.
"Teraktirrrr yaaa??!! " ucap rafa padaku.
"Huhhh luuu mah mauunyaaa" balas rara
"Bodo... Yang penting halal" balas rafa.
"Dasar luuu emang matre dari dulu" sambar rafi pada rafa.
"Emang luu ga mau di teraktir?!!! " rafa
"Mauu sich.... Yang gratis biasanya emang lebih enak" ungkap rafi dengan senyum tolol.
"Uuuhhhhh dasar luu mah sama ajach" rara memukul pundak rafi.
"Gue teraktir" kataku singkat, mereka bersorak senang.
Jika ada yang salah faham pada teman temanku, mengira mereka berteman denganku karna memanfaatkanku atau sebagainya, mereka salah.
Mereka tidak pernah meminta lebih dari sekedar teraktir makan, minum.
bukan berati mereka tidak punya uang walau mereka dari keluarga biasa, hanya saja memang benar kata rafi "yang gratis emang enak" apalagi dari teman.
Seperti masakan tante jeny, yang di jadikan bekal setiap hari senin untuk di makan bersama oleh rara, rafi, rafa dan aku.
Itu rasanya lezat dan nikmat.
Kami sampai dikantin, ramai, sesak dan agak sedikit panas, terlihat bangku bangku penuh.
"Gue cari tempat duduk dulu" ucap rafi lalu melangkah pergi.
"Yaa udah sekalian gua pesen makan yaaa!! Yang kaya biasakan!!!" susul rafa, dia pergi setelah aku dan rara mengangguk.
"Ayoo pesen minum!! " ajak rara, aku mengangguk.
Rara melangkah di depanku memesan minuman.
Rara melangkah didepatku, aku menyusul.
"Brukkk... "
Seseorang menabrakku, hingga minuman yang ku pegang membasahi sepatuku.
Amarahku muncul, tatapan mautku seolah reflek keluar, marah.
Prempuan manis didepanku terlihat angkuh, tidak langsung meminta maaf.
"Loo ga punya mata ya??? Lo taruh dimana tu mata??? " bentakku.
"Emang gue yang nabrak?!!! " dia bertanya seolah tidak salah, membuatku semakin marah.
Aku tersenyum sinis, dia menciut.
"Bisa bisanya loo masih nanyak??? " balasku.
Tampa pikir panjang ku siramkan minumanku yang telah tumpah separuh itu ke arahnya.
"Chuuuaarrr... "
Minumanku membasahi bajunya, dia menjerit.
"Ahhhh loo bener bener yaaa!! " ujarnya padaku.
"Emang gue yang nyiram?? " tanyaku dengan sinis padanya.
"Loo.....??!!! " dia terlihat sangat kesal mengangkat tangannya seperti hendak memukulku, lihat saja apa yang akan aku lakukan jika dia berani menyentuh kulitku.
"chuuuuarrrr... "
Seorang lelaki menyiram rokku dengan minuman yang dia pegang.
Sontak aku marah, sangat marah.
hingga wajahku rasanya terbakar dan memerah.
"Maaf gue ga sengaja, tangan gue tergelincir" ujarnya dengan senyum manis, prempuan tadi ikut tersenyum menatap mesra laki-laki brengsek itu.
"Chuuuarrr... "
Aku menyiram baju laki laki itu dengan minuman milik rafi yang ku pegang di tangan kananku, laki laki itu terlihat kaget.
"Itu karna loo ga punya mata" ujarku tajam.
Lalu ku ambil minuman milik rara yang sedang rara pegang.
"Chuuuarrrr... "
Aku menyiram wajah laki-laki itu, hingga dia mundur selangkah, dia lalu mengusap jawahnya yang basah dengan tangan kanannya.
"dan untuk yang itu, maaf gue ga sengaja, tangan gue tergelincir" ujarku penuh sindiran.
"Gilaa loo yaa??!! Loo nyiram pacar gue" ujar cewek gila yang nabrak aku, dia tidak terima pacarnya diperlakukan begitu.
Dia melangkah maju, tapi laki laki itu mencegahnya.
Laki laki itu masih tampak kanget, aku mendekatinya, dia terlihat tampan, tapi, tampan saja tidak cukup meredakan amarahku.
Aku tersenyum tipis, sebelum akhirnya melayangkan tanganku ke wajah laki laki itu.
Dia memegang tanganku, menahan tamparanku.
"Jangan berani nampar gue, kalau ga,!!? lo akan nyesel!! " ujarnya seolah mengancam tapi, dengan senyum menawan dan dengan mata yang berbinar penuh tantangan.
Dia melepas tanganku.
"Praaaaakkkkkkk.... "
Aku menamparnya, keras.
Herannya dia malah tersenyum, seolah tamparan itu tidak sakit. Malah nikmat.
".....!!??? " dia ingin bicara.
"Praaakkkk.... "
Sebelum dia bicara aku menamparnya lagi, hingga dia bungkam.
Dia tersenyum senang hampir tertawa.
Terlihat sangat bahagia. Aneh....
"Itu karna lo udah berani ngina gue"
Aku pergi, melagkah menjauh dari laki laki dan prempuan brengsek itu, aku menoleh sebentar, masih ada rasa kesal dihatiku pada mereka.
tampak prempuan itu mengelus mesra laki laki yang baru aku saja aku tampar.
***AKU GA PEDULI......
Maraahhhhh***..... 😠😡