My "angry bird" girl

My "angry bird" girl
Bother me...


"Gue mau ngajakin loo kencan"


Itu kata kata yang sama, yang udah aku denger sejak minggu lalu.


Dia selalu saja mengganggu dan datang menemuiku saat jam istirahat. Menyebalkan.


"Pliss... Mau yaa kencan sama gue?!! " ujarnya dengan nada penuh permohonan.


Aku tidak melihatnya, tidak memerhatikan, aku mengacuhkannya, sejak minggu lalu.


malasz, namun, entah kenapa dia tidak merasa bosan dan letih bertingkah sok manis di depanku.


Sudahku hina, kucaci dan ku tampar, tapi dia tidak juga menyerah.


"Gue ga mau, lho denger ga sii!!!???...... Gue ga mau kencan, pacaran, kenal, jalan, atau apapun sama lhooo..... JADI JANGAN GANGGU GUE, GUE MUAK LIAT MUKAAA LHOO" bentakku, seperti biasa.


Namun lagi lagi dia tersenyum, seolah kata kata ku adalah Kata kata manis yang menyenangkan baginya. Kesal.


"Gue tau lho takut!! "


"Gue takut??!! Ga salah?!! " sinisku.


"Lho emang takut, lhoo takut jatuh cinta sama gue, lho takut kalau lhoo jalan sama gue, lho akan jatuh cinta" sombongnya, aku tertawa sinis.


"***Heh..... lhoo terlalu percaya diri"


"Ini fakta, bahwa lho takut, gimana tar kalau gue bisa buat lho nangisin gue***?" Vito


"gue kasih tau lho satu rahasia,"!!! ujarku srius.


"Apa?? " tanya vito penasaran.


"Cuma dalam mimpi lho bisa buat gue nangis, liat gue nangis aja, itu adalah keajaiban. Karna Ga akan ada yang bisa buat gue nangis, selain diri gue sendiri" ujarku yakin pada kata kataku.


Vito tertawa seperti biasa, tawa yang menawan.


"Saat gue bisa liat lhoo nangis lho harus kencan sma gue, gimana? " tangtangnya.


"Silahkan, lho ga akan ada kesempatan" ujarku yakin.


"Deal yaa..... Gue pergi dulu" vito berlalu.


ada rasa lega dihatiku saat Vito telah menjauh, yaaa... Dari tadi rasanya aku tidak bisa bernafas.


Entah kenapa?? Vito selalu membuat aku merasakan hal aneh saat ada dia didekatku.


Bisakah itu disebut dengan rasa suka??


Ahhhhhgg


lagi lagi egoku terlalu gengsi untuk mengakuinya.


Aku jarang sekali menangis, jika menagis aku akan pergi menjauh, agar tidak seorangpun melihatku, sejauh mungkin.


Malu rasanya ada orang yang melihatku menangis, bagiku airmata adalah lambang kelemahan, mungkin juga bagi sebagian orang.


Satu hal yang pasti, aku hanya menangis untuk diriku sendiri, tidak untuk orang lain, bahkan mama dan papa.


Jika aku menangis, itu lebih pada penyesalan karna terlahir dari rahim mama, dan hidup sebagai putri papa.


Saat itulah aku menangis hingga wajahku membengkak. Kesal.


Vito harusnya tau bahwa, Air mataku tidak semudah itu keluar.


Apa lagi untuk seorang pria.


\_\_\_\_\_\_\_\_


Beberapa hari kemudian.....


"Pulang awal hari ini" ujar mama di telpon.


"Kenapa? " tanya ku.


"Kumpul dirumah nenek" jawab mama.


Huuuuhhh...


Hari yang pasti akan menjadi berat, sangat berat.


"Ok.. " jawabku sebelum mematikan panggilan telpon dari mama.


Nenek bukanlah sosok orang yang ramah, nenek lebih pada ambisi, ego dan keinginannya harus dituruti.


Nenek sosok yang memang disegani oleh semua anggota keluargaku, baik mama, papa tante, om, dan yuri.


Selain keras dan tegas nenek adalah sosok yang menyeramkan, bukan hanya bagi keluargaku, tapi juga bagi orang luar.


Bagaimana tidak, nenek dikenal dengan sesosok yang akan menggunakan segala cara agar keinginannya tercapai.


Huuuuhhhh....


Aku paling menghindari nenek, aku tidak mau dia memaksakan kehendak atas hidupku, aku mau hidup dengan caraku, terserah padaku.


Jadi karna itu, aku harus tetap menjaga jarak dari nenek, walau aku tau, dekat tidaknya aku dengannya, jika dia berkehendak atasku, pasti akan dia lakukan segala cara agar aku menurutinya.


***Huuuuhhhh....


Menyebalkan***.......