
Aku duduk diam membaca buku, kembali seperti biasa, bersama teman temanku, rafa rafi dan rara.
Langit sangat cerah hari ini, angin sepoi sepoi melengkapi kenyamanan hari Ini.
Murid murid yang lain berlalu, hingga akhirnya semakin banyak langkah kaki yang terdengar olehku, berisik.
Masih sama, yang berbeda hanya satu, Vito sudah bukan lagi kekasihku, aku tidak lagi berpacaran dengannya, dan Vito kini entah kemana.
Kabar terakhir yang ku dengar, Vito pindah sekolah, sejak saat itu, sejak putus denganku, memang Vito tidak lagi terlihat, dan itu bukan lagi urusanku, itu urusannya.
Aku tidak tau kenapa dia pergi, mungkin karna ingin menghindari ku, atau mungkin muak melihat ku, entalah, hanya Vito yang tau.
Sejak Vito tidak ada, rasanya ada yang aneh, namun legapun menyelip dalam rasa aneh itu.
Yah... Bagaimanapun aku bersyukur rafi dan rafa sudah berada disisi ku dan rara, kembali. aku senang.
Yahh... Setelah putus dengan Vito, dan mengatakan pada nenek bahwa aku mengikuti keinginannya, keadaan keluarga rafi dan rafa kembali baik baik saja.
papa mereka mendapat perawan dan pekerjaannya kembali, aku senang dan lega, sangat lega.
Tinggal hitungan bulan kami lulus, mungkin kami akan berpisah, walau satu kuliahan.
sepertinya kami akan beda jurusan, rara ingin menjadi perawat, rafi ingin menjadi arsitek, sedang rafa ingin menjadi dokter.
Aku sendiri akan mempelajari bisnis, kami akan berpisah kelas, tapi mungkin satu fakultas.
Aku sudah mempersiapkan semua yang aku butuh untuk ujian.
Belajar, belajar dan belajar, juga jaga kesehatan.
Aku pastikan mendapat juara, dan mengukir prestasi, yah.. Aku akan melampaui putri.
Bukan karna aku ingin sok hebat, aku hanya ingin membuktikan kalau aku bisa lebih baik dari dia.
"gue ga nyangka bentar lagi kita lulus" suara rara memecah keheningan.
Sontak kami, aku rafa dan rafi menoleh dan melihat padanya.
Yaaa.. Rasa tidak percaya datang dalam diri kami, sangat cepat bukan? Tidak terasa ini sudah 3 tahun.
Rara terlihat bahagia juga sedih, bercampur.
"Gini gini gue setia kawan tau" bantah rafa.
"Heh.. Kata lho" rara tidak mau kalah.
Aku dan rafi geleng geleng melihat tingkah laku mereka.
"El, ada titipan buat lho" ujar seseorang dari belakang, aku dan teman temanku sontak menoleh ke belakang.
Terlihat nadin teman sekelas Vito sedang berdiri takut takut ke arahku.
"Apaan? " rara kepo.
"Surat dari Vito" jawabnya dengan suara kecil.
"Yahh.. Surat, kaya zaman dulu aja surat suratan, wa ada,!! ngapain surat suratan?? , alay" rafa berceloteh tanpa henti.
"So sweet tauu" balas rara pad rafi.
"Nii... " nadin memberikan surat Vito padaku tidak perduli dengan perkataan rafi.
Aku mengambilnya.
"Makasih" ucap ku sebelum nadin pergi dan berlalu.
Kertas Surat itu berwarna biru tua, warna yang Vito suka.
Aku membuka lipatannya, saat itu ku lihat tulisan tangan Vito yang rapi, membacanya.
(Saat hati gue membaik, ayo bertemu,!? Dan Saat kita bertemu lagi, gue harap lho mau jadi sahabat gue yang berharga........vito)
Aku tersenyum.
Bersyukur Vito baik baik saja, aku akan senang jika kita memulai hubungan baru, sebagai sahabat tentunya. Kenapa tidak?
**Karna dalam hidup, tentu saja cinta bukan satu satunya hal yang harus kita miliki.
Terkadang sahabat bisa membuat kita lebih nyaman dari pada pasangan.
Benar bukan**??